PENGANTAR Aqidah, Syariah, dan Tasawuf ASWAJA

23 07 2008

MODUL

LATIHAN DASAR PEMANTAPAN

PAHAM AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH

( LDP ASWAJA )

Bagian 2

Materi 1

PENGANTAR Aqidah, Syariah, dan Tasawuf

PAHAM AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH

PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA (PSDM)

IKATAN MAHASISWA NAHDLIYYIN (IMAN)

SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA (STAN)

26-27 Juli 2007

PENDAHULUAN

Latihan Dasar Pemantapan Paham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja’) merupakan suatu bentuk kegiatan yang wajib dilaksanakan oleh Ikatan Mahasiswa Nahdliyyin (IMAN) sebagai sebuah organisasi warga Nahdliyyin. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan landasan yang kokoh dan kuat atas amalan ibadah maupun mu’amalah yang telah berkembang dan berurat akar dalam tradisi Indonesia khususnya kaum tradisionalis berdasarkan Al Quran, Al Hadits dan pendapat para ulama’. Selain itu, kegiatan ini juga dimaksudkan sebagai jawaban komunitas Islam tradisional terhadap tuduhan kaum modernis, yang memandang kaum tradisonalis menyimpang jauh dari tuntunan dan ajaran Islam.

Kegiatan Latihan Dasar Pemantapan Paham Ahlussunnah wal Jamaah diselenggarakan dengan tujuan sebagai berikut:

a. Memberikan dasar yang mantap berdasarkan Al Qur’an, Al Hadits dan pendapat para Ulama’ kepada para anggota IMAN khususnya dan umat Muslim pada umumnya dalam menjalankan amal ibadah dan mu’amalah yang telah dilakukannya setiap hari selama ini terutama atas masalah-masalah khilafiyah yang selalu dipertentangkan oleh sebagian umat Islam dimana masalah tersebut sebenarnya tidak perlu dipertentangkan karena masing-masing juga telah memiliki dalilnya.

b. Memberikan kemantapan hati sebagai modal yang cukup untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh para mu’taridhin (orang-orang yang menentang khususnya amalan kaum Nahdliyyin) karena dalam LDP Paham Aswaja’ akan dipaparkan hujjah dan dalil dari amalan yang dimaksud. Namun, apabila dari pihak mu’taridhin itu masih berbeda pendapat dan menolak, mereka dipersilahkan menempuh jalannya sendiri karena masalah khilafiyah ijtihadiyah, tidak dapat saling menggugurkan. Tetapi tidak semua pendapat orang itu bisa diterima dan tidak semua khilaf itu mu’tabar (diperhitungkan) karena hanya khilaf (perbedaan pendapat) yang memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkanlah yang dapat diterima.

Semoga uraian singkat ini membawa manfaat bagi seluruh umat Islam dan dapat dipergunakan dengan uraian-uraian lain tentang hal-hal yang harus menjadi landasan berpikir, bersikap, dan bertindak bagi kaum Nahdliyyin khususnya dan kaum Ahlussunnah Wal Jamaah pada umumnya.

Kita memohon kepada Allah untuk selalu mendapat ridla dan rahmat-Nya di dalam segala amal dan perbuatan kita termasuk di dalamnya semoga Ikatan Mahasiswa Nahdliyyin dapat istiqomah menyelenggarakan kegiatan Latihan Dasar Pemantapan Paham Ahlussunnah wal Jamaah demi meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

Materi 1

    1. Pengertian Aswaja

§ Penjelasan mengenai ASWAJA

§ 3 Sendi utama ajaran islam

§ Hadits Shahih tentang 73 Golongan

§ Sumber Hukum Islam

§ Ijtihad

    1. Ciri-ciri Aqidah Aswaja (Mengenal Imam Asy’ary dan Imam Maturidi)
    2. Ciri-ciri Syariat Aswaja (Mengenal Kewajiban Bermadzhab dan Imam-imamnya)

Ü Madzhab

Ü Madzhab Imam Syafi’i

Ü Masalah Hadits Dhaif

Ü Taqlid

Ü Talfiq

Ü Persoalan Bid’ah

Ü Hadits tentang Semua Bid’ah Itu Sesat

    1. Ciri-ciri Tasawuf Aswaja (Mengenal Imam Ghazali dan Imam Junaid serta ajarannya)

A. PENGERTIAN ASWAJA

Penjelasan mengenai ASWAJA

Aswaja merupakan singkatan dari istilah Ahl al-Sunah wa al- ajma ah. Ada tiga kata yang membentuk tiga kata tersebut:

1. Ahl, berarti keluarga, golongan atau pengikut.

2. Al-sunnah, yaitu sesuatu yang diajarkan oleh Rasulullah SAW

3. Al-Jama’ah, yakni apa yang disepakati oleh sahabat Rasul SAW pada masa al-Khulafa al-Rasyidun (Khalifah Abu Bhakar RA, Umar bin Khatab RA, Utsman bin Affan RA dan Ali bin Abi Thalib RA).

Sebagaimana telah dikemukakan oleh Syaikh Abdul Qadir al-Jilani dalam kitabnya, al-Gunyah li Thalibi Thariq al-Haqq, Yang dimaksud dengan al-Sunnah adalah apa yang telah diajarkan oleh Rasul SAW (meliputi ucapan dan ketetapan beliau). Sedangkan pengertian al-jamaah adalah segala sesuatu yang telah menjadi kesepakatan para sahabat Rasulallah SAW pada masa al-Khulafah al-Rasyidun yang empat yang telah diberi hidayah (mudah-mudahan Allah SWT memberikan rahmat kepada mereka semua)”. (Al–Gunyah li Thalibi Thariq al-Haqq, juz, I hal 80)

Selanjutnya, Syeikh Abi al-Fadhl bin Abdussyakur menyebutkan dalam kitab al-Khawakib al-Lamma’ah, “Yang disebut Ahl al-Sunah wa al-Jama’ah adalah orang-orang yang selalu berpedoman pada sunnah Nabi SAW dan jalan para sahabatnya dalam masalah ini akidah keagamaan, amal-amal lahiriah, serta akhlak hati”. (Al-Khawakib al-Lamma’ah, hal 8-90).

Jadi, Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah merupakan ajaran yang mengikuti semua yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Sebagai pembeda dengan yang lain, ada tiga ciri khas kelompok ini, yakni tiga sifat yang selalu diajarkan Nabi SAW dan para sahabatnya. Ketiga prinsip itu adalah sebagai berikut:

1. prinsip al-Tawasuth (sikap tengah-tengah, sedang-sedang, tidak ekstrim kiri atau kanan),

2. prinsip al-Tawazun (seimbang dalam segala hal termasuk dalam penggunaan dalil Aqli dan dalil Naqli), dan

3. prinsip al-I’tidal (tegak lurus).

Ketiga prinsip tersebut bisa dilihat dalam masalah keagamaan (teologi), perbuatan lahiriah (fiqh) serta masalah akhlak yang mengatur gerak hati, (tashawwuf). Dalam praktik keseharian, ajaran Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah di bidang teologi tercerminkan dalam rumusan yang digagas oleh Imam Asy’ari dan Imam Maturidi. Sedangkan dalam masalah perbuatan badaniyah termanifestasikan (terwujud) dengan mengikuti mazhab yang empat yakni Madzhab Hanafi, Madzhab Maliki, Madzhab Syafi’I dan madzhab Hambali. Dalam tashawwuf mengikuti rumusan Imam Junaidi al- Baghdadi dan Imam al-Ghazali.

Sebagaimana definisi yang sangat sederhana, yang disenandungkan dalam untaian nazham oleh KH. Zainal Abidin Dimyathi.

Pengikut Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah adalah mereka

yang mengikuti madzhab para imam

Dalam masalah ushul (akidah) mereka mengikuti

madzhab Imam Asy ari dan Maturidi

Dalam bidang fiqh mengikuti salah satu madzhab

yang menjadi pimpinan umat ini

Imam Syafi’I dan Imam Hanafi yang cemerlang

serta Imam Malik dan Imam Hambal

Dalam bidang tashawwuf dan thariqah

mengikuti ajaran Imam Junaid

(Al-Idza ah al-Muhimmah, 47)

Salah satu alasan dipilihnya ulama-ulama tersebut oleh salafuna al-shalih, sebagai panutan dalam Ahl al-Sunnah wa al-Jamaa’ah karena mereka mampu membawa ajaran-ajaran yang sesuai dengan intisari agama Islam yang telah digariskan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnay. Dan mengikuti hal tersebut merupakan kewajiban bagi umatnya. Nabi Muhammad SAW bersabda:

Dari Abdurahman bin Amr al-Sulami, sesungguhnya ia mendengar al-Irbadh bin Syariah berkata, ”Rasulullah SAW menasehati kami, ”Kalian wajib bepegang teguh pada sunnahku (apa yang aku ajarkan) dan perilaku khulafau al-Rasyidun yang mendapat petunjuk.” (Musnad Ahmad bin hambal, 16519)

Karena itu, sebenarnya Ahl Sunnah wa al-Jama’ah adalah Islam yang murni sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dan sesuai dengan apa yang telah digariskan dan diamalkan oleh sahabatnya. Ketika Rasulullah SAW menyatakan umatnya akan terpecah-pecah menjadi 73 golongan, dengan tegas Nabi mengatakan bahwa yang benar adalah mereka yang tetap berpedoman pada apa saja yang diperbuat oleh Nabi SAW dan para sahabatnya pada waktu itu (ma’ana alaihi al-yawm wa ashabihi).

Maka, Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah sesungguhnya bukanlah aliran yang baru muncul sebagai reaksi dari beberapa aliran yang menyimpang dari hakiki agama islam. Ahl al-Sunnah wa al-Jamaa’ah justru berusaha untuk menjaga agama Islam dari beberapa aliran yang akan mencerabut ajaran Islam dari akar pondasinya semula. Setelah aliran-aliran itu semakin merajalela, tentu diperlukan suatu gerakan untuk menyosialisasikan dan mengembangkan kembali ajaran murni Islam. Sekaligus merupakan salah satu jalan untuk mempertahankan, memperjuangkan dan mengembalikan agama Islam agar sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat beliau. (Khittah Nahdhiyyah, 19-20)

Jika sekarang banyak kelompok yang mengaku dirinya termasuk Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, maka mereka harus membuktikannya dalam praktik keseharian bahwa ia benar-benar telah mengamalkan sunnah Rasulullah SAW dan sahabatnya. Abu Said al-Kadimi berkata, ”(Jika ada yang bertanya) semua kelompok mengaku sebagi golongan Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah. Jawaban kami adalah ”bahwa Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, itu bukan klaim semata, namun harus diwujudkan (diaplikasikan) dalam perbuatan dan ucapan. Pada zaman kita sekarang ini, perwujudan itu dapat dilihat dengan apa yang tertera dalam hadits-hadits yang shahih seperti Shahih al-Bukhari dan kitab-kitab lainnya yang telah disepakati validitasnya”. (Al-Bariqah Syarh al-Thariqah, hal 111-112)

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dirumuskan bahwa Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, merupakan ajaran yang telah digariskan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Dan itu tidak bisa hanya sebatas klaim semata, namun harus dibuktikan dalam tingkah laku sehari-hari.

Tiga Sendi Utama Ajaran Islam

Berdasarkan hadits Nabi Muhammmad SAW yang menjelaskan tiga hal yang menjadi prinsip utama dalam agama yang dibawa Nabi Muhammad Saw., disebutkan bahwa, ”Dari Umar bin Khatthab RA, ”Pada suatu hari kami berkumpul bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba datang seorang laki-laki yang bajunya sangat putih, rambutnya sangat hitam. Tidak kelihatan tanda-tanda kalau dia melakukan perjalanan jauh, dan tidak seorangpun dari kami yang mengenalnya. Laki-laki itu kemudian duduk di hadapan Nabi SAW sambil menempelkan kedua lututnya kepada lutut Nabi SAW. Sedangkan kedua tangannya diletakan di atas paha Nabi SAW. Laki-laki itu bertanya, ”Wahai Muhammad beritahukanlah aku tentang Islam.” Rasulullah SAW menjawab, ”Islam adalah kamu bersaksi tiada tuhan selain Allah SWT dan Muhammad adalah utusan Allah SWT, mengerjakan shalat, menunaikan zakat, puasa pada bulan ramadhan dan kamu haji ke Baitullah jika kamu telah mampu melaksanakannya.” Laki-laki itu menjawab, ”Kamu benar.” Umar berkata, ”Kami heran kepada laki-laki tersebut, tapi ia sendiri yang membenarkannya”. Laki-laki itu bertanya lagi, ”Beritahukanlah aku tentang Iman.” Nabi SAW menjawab ”Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikatNya, kitab-kitabNya, para rasulNya, hari qiamat dan qadar Allah SWT yang baik dan yang buruk.” Laki-laki itu menjawab, ”Kamu benar.” Kemudian laki-laki itu bertanya lagi, ”Beritahukanlah aku tentang Ikhsan.” Nabi Muhammmad menjawab, ”Ikhsan adalah kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihatNya, jika kamu tidak dapat melihat-Nya, maka Ia sesungguhnya melihatmu…………….. Kemudian orang itu pergi. Setelah itu aku (Umar) diam beberapa saat. Kemudian Rasullah Saw bertanya kepadaku, ”Wahai Umar, siapakah orang yang datang tadi?” Aku menjawab, ”Allah SWT dan RasulNya lebih mengetahui. Nabi Muhammad SAW lalu bersabda, ”Sesungguhnya laki-laki itu adalah Jibril AS. Ia datang untuk megajarkan agamamu”. (Shahih uslim, 9)

Memperhatikan hadits ini, ada tiga hal penting yang menjadi inti dari agama yang Nabi SAW ajarkan, yakni Islam, Iman, Ihsan. Ketiga hal ini merupakan satu kesatuan utuh yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Dalam pengamalan kehidupan beragama, tiga perkara itu harus diterapkan secara bersama-sama tanpa melakukan pembedaan. Seorang muslim tidak diperkenankan terlalu mementingkan aspek Iman dan meninggalkan dimensi Ihsan dan Islam. Dan begitu seterusnya. Sebagaimana firman allah:

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. AL-Baqorah, 208)

Semula ketiganya merupakan kesatuan yang tidak terbagi-bagi. Namun perkembangan selanjutnya para ulama mengadakan pemisahan ketiga hal tersebut. Hingga menjadikan bagian ilmu tersendiri. KH. Ahmad Siddiq mengemukakan beberapa alasan mengenai pemisahan tersebut.

1. Pertama, karena kecenderungan manusia yang selalu memperhatikan yang Juz’iyyah (bagian-bagian/parsial), setelah melihat secara kulliyah (keseluruhan/global), atau kecenderungan pada diri manusia yang ingin merinci suatu yang global dan pada giliirannya mengutuhkan kembali suatu yang terperinci tersebut.

2. Kedua, pengaruh perkembangan ilmu dan metodologi ilmu pengetahuan, dimana pengetahuan terhadap satu bagian ilmu sering dikembangkan sedemikian rupa sehingga menjadi suatu cabang ilmu pengetahuan yang terpisah dari lainnya.

3. Ketiga, karena pengaruh perkembangan. Hal ini dilakukan untuk menjawab kebutuhan zaman yang mengharuskan adanya pengkhususan (spesifikasi) terhadap beberapa disiplin keilmuan, sehingga dapat mempermudah untuk dipelajari. (Pemikiran KH. Ahmad Siddiq,2)

Ketika melakukan pemisahan tersebut, para ulama berusaha merumuskan batasan dari ketiga hal itu. Izzuddin bin Abdissalam mencoba menguraikannya, sebagaimana yang dikutip oleh DR. Bakr Isma’il dalam kitab al-Fiqh al-Wadhih, Izzuddin bin ’Abdisalam menjelaskan dalam kitabnya yang indah, ,”Zubdah Khulashah al-Tashawwuf” bahwa Islam (dalam arti yang sempit. pen) adalah pelaksanaan beberapa hukum oleh anggota badan, Iman adalah pengakuan hati dengan tegas kepatuhan terhadap Allah SWT, dan Ihsan adalah kesadaran jiwa untuk selalu melihat kebesaran Tuhan Yang maha Kuasa dan Maha Mengetahui”. (al-Fiqh al-Wadhih min al-Kitab wa al-Sunnah, juz I, hal 13)

Uraian yang lebih terperinci diungkapkan oleh Syaikh Abdul Hayyi al Umrawi dan Syaikh Abdul Karim Murad, ”Rasulullah SAW memberi nama Iman, Islam dan Ihsan sebagai Agama. Sebagaimana nama seseorang hamba (manusia) dituntut untuk percaya kepada Allah SWT, kepada semua rasul dan semua yang datang dari Allah SWT, yang kemudian disebut “Iman”, demikian pula seorang hamba diperintahkan untuk melaksanakan berbagai macam ibadah, baik ibadah qawliyyah (ucapan) dan badaniyah (gerakan badan/fisik) atau gabungan dari keduanya, seperti shalat, atau ibadah badaniah dan maaliyyah (harta) atau penggabungan dari keduanya, seperti haji dan jihad, yang selanjutnya disebut dengan “Islam”, maka seorang hamba juga diharuskan untuk mempraktikkan adab (etika dan sopan santun) yang sesuai dengan sikap penghambaannya di hadapan Tuhannya. Etika itu merupakan akhlak yang dipraktikkan Rasulullah SAW kepada Allah SWT dan kepada sesama mahluk. Aspek ini disebut dengan ”Ihsan””.(al-Tahdzir mi al-Ightirar, 145).

Penjelasan ini semakin mengerucutkan pembagian Iman, Islam dan Ihsan. Iman dikhususkan kepada perhatian terhadap dimensi ketauhidan (peng-esaan) kepada Allah SWT, Islam ditujukan kepada perbuatan lahiriah dan Ihsan dititikberatkan pada rohaniah.

Dan dalam perkembangan selanjutnya bagian-bagian itu kemudian dielaborasi sehingga menjadi bagian ilmu tersendiri yang berbeda. Perhatian terhadap Iman memunculkan ilmu tauhid atau ilmu kalam. Perhatian khusus pada aspek Islam (dalam pengertian yang sempit) menghadirkan ilmu fiqh atau ilmu hukum Islam dan penelitian terhadap dimesi Ihsan melahirkan ilmu tashawwuf atau ilmu akhlaq. (Pemikiran KH. Achamd Siddik, 1-2)

Penjelasan yang sama dapat kita temukan dalam kitab al-Tahdzir min al-Ightirar halaman 145, ”Ilmu yang membidangi persoalan akidah disebut ilmu ushuluddin (ilmu tauhid atau ilmu kalam). Sedangkan ilmu yang memfokuskan pada pembahasan amaliah sehari-hari dinamakan ilmu fiqh. Dan ilmu yang membahas tentang adab (tatakrama) diberi nama ilmu tashawwuf. (al-Tahzir min al-Ightirar hal 145)

Dapat ditarik benang merahnya bahwa inti ajaran Islam adalah Iman, Islam dan Ihsan yang harus diamalkan secara kaffah. Dan dari perjalanan sejarah, secara keilmuan berkembang dan dielaborasikan menjadi ilmu tauhid, fiqh dan tashawwuf.

Hadits tentang

Perpecahan Umat Islam (Hadits al-Iftiraq)

Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tarmizhi yang menyatakan, ”Dari Abdullah bin Amr, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ”Sesungguhnya kaum Bani Israil telah terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya akan masuk neraka, kecuali satu golongan”. Lalu sahabat bertanya, ”Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?” Nabi SAW menjawab, ”(golongan itu adalah orang-orang yang berpegangan pada) semua perbuatan yang pernah aku lakukan, serta semua perbuatan yang dikerjakan oleh sahabat-sahabatku”. (Sunan al-Tirmirzi 2565)

Mayoritas ulama menyatakan bahwa hadits ini dapat dijadikan pegangan karena diriwayatkan oleh banyak sahabat Nabi SAW. Dalam kitab al-Farq bain al-Firaq disebutkan, ”Abdul Qahir berkata, ”Hadits yang menjelaskan perpecahan umat Islam itu mempunyai sanad yang sangat banyak. Dan telah diriwayatkan oleh banyak sahabat Nabi Muhammad SAW. Diantaranya adalah sahabat Anas bin Malik RA. Abi Hurairah RA, Abi al-Darda RA, Jabir RA, Abi Said al-Kudri RA, Ubay bin Ka’ab RA, ’Abdullah bin Amr bin al-Ash RA, Abi Umamah RA, Watsilah bin al-Asqa’ RA, serta para sahabat yang lain.” (Al-Farq bain al-Firaq, 7-9)

Lebih lanjut al-Manawi dalam kitab Faidh al Qadir, mengungkapkan dari beberapa ulama, mengatakan bahwa hadits ini tergolong shahih dan mutawatir. Beliau menjelaskan, ”Zainal al-Iraqi berkata, ”Sanad-sanad hadits ini sangat bagus. Imam al-Hakim juga meriwayatkan dari berbagai sumber”. Kemudian ia berkomentar, ”Sanad-Sanad yang ada dalam hadits ini dapat dijadikan sebagai hujjah (pegangan dalil). Bahkan Mu’allif memperhitungkannya sebagai Hadits Mutawatir.” (Faidh al-Qadir, Juz II, hal 21)

Berdasarkan beberapa pertimbangan ini, sudah selayaknya kalau kita meyakini bahwa hadits tersebut memang shahih adanya, sehingga dapat dijadikan pedoman.

Sumber Hukum Islam

Memperbincangkan sumber hukum Islam, kita mulai dari firman Allah SWT, “Wahai orang-orang yang beriman, patuhlah kamu kepada Allah SWT, dan patuhlah kamu kepada Rasul dan Ulu al Amri di antara kamu sekalian. Kemudian jika kamu berselisih faham tentang sesuatu, maka kembalilah kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman kepada hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS al-Nisa, 59)

Berdasarkan ayat ini, ada empat dalil yang dapat dijadikan pijakan dalam menentukan hukum, yaitu

1. al-Qur’an,

2. al-Hadits,

3. Ijma, dan

4. Qiyas.

Sebagaimana penjelasan Abdul Wahhab Khallaf dalam Ilm Ushul al-Fiqh, ”Perintah (yang terdapat dalam kitab QS al-Nisa, 59) untuk menaati Allah SWT dan Rasulnya, merupakan perintah untuk mengikuti al-Qur’an dan al-Hadits. Sedangkan perintah untuk mengikuti Ulu al-Amr, merupakan anjuran untuk mengikuti hukum-hukum yang telah disepakati (ijma’) oleh para mujtahid, sebab merekalah yang menjadi Ulu al-Amri dalam masalah hukum agama bagi kaum muslimin. Dan perintah untuk mengembalikan semua perkara yang masih diperselisihkan kepada Allah dan Rasulnya berarti perintah untuk mengikuti qiyas ketika tidak ada dalil nash (al-Qur’an dan Hadits) dan ijma’”. (Ilm Usul al-Fiqh,21)

Yang dimaksud dengan al-Qur’an adalah “Al-Qur’an adalah lafazd yang diturunkan kepada Nabi SAW sebagai mu’jizat dengan satu surat saja, dan merupakan ibadah apabila membacanya”. (Al-Khawakab al-Sathi fi Nazhm Jam al-Jawami, Juz I, hal 69)

Dengan demikian, al-Qur’an adalah firman Allah (kalamullah) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang menggunakan bahasa Arab dengan membawa ajaran yang benar, supaya dapat dijadikan bukti (mu’jizat) oleh Nabi Muhammad SAW atas kerasulannya, dan agar bisa menjadi pedoman bagi orang-orang yang meyakininya, serta dapat dijadikan sebagai salah satu bentuk penghambaan diri kepada Allah SWT (ibadah) bagi yang membacanya. Ia adalah kitab yang telah terkodifikasikan (tersusun) dengan dimulai dari surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat al-Nas dan sampai kepada kita dengan cara yang mutawatir (disampaikan oleh orang banyak, sehingga tidak mungkin lagi diragukan kebenaranya) dari mulut ke mulut dan dari satu generasi ke generasi lainnya, dan selalu dijaga oleh Allah SWT dari segala bentuk perubahan.”. (Ilm Ushul al-Fiqh Abdul Wahhab Khallaf, hal 23)

Kitab suci al-Qur’an yang biasanya disebut dengan mushaf Utsmani itu terjaga dari berbagai upaya tangan-tangan kotor yang ingin merubah untuk menyisipkan walau hanya satu huruf. Secara keseluruhan al-Qur’an terdiri dari 6.666 ayat, 114 surat, dan terbagi dalam 30 juz. Hal tersebut telah diuji secara ilmiah oleh para filologi (ahli tentang manuskrip) dunia. DR. Muhammad Musthafa al-A’zhami mengutip keterangan dari Prof. Hamidullah bahwa,

Universitas Munich (Jerman) telah mendirikan dalam abad yang lalu sebuah lembaga penelitian al-Qur’an. Setelah beberapa generasi, tatkala direkturnya yang sekarang, Prof. Pretzell datang ke Paris pada tahun 1933, beliau menceritakan pada saya bahwa mereka telah mengumpulkan empat puluh dua (42) ribu salinan al-Qur’an dari salinan yang berbeda, sebagian lengkap, sebagian yang lainnya merupakan fragmen-fragmen, sebagian asli, kebanyakan foto foto yang asli dari segala penjuru dunia. Pekerjaan secara terus menerus membandingkan kata dari setiap salinan al-Qur’an itu apakah ada variasinya (perbedaannya). Tak lama sebelum perang dunia ke dua, sebuah laporan awal dan tentang percobaan diterbitkan, sehingga tentu saja menyalin kekeliruan dalam naskah al-Qur’an, tetapi tidak terdapat variasinya (tidak ada yang berbeda). Selama perang berlangsung, lembaga ini kena bom dan semuanya binasa, direktur, personalia, dan perpustakaan. (Mu’jizat al-Qur’an 57)

Ini merupakan bukti bahwa al-Qur’an benar-benar otentik, sehingga semakin mantap iman kita bahwa al-Qur’an adalah kitab suci sebagai pedoman hidup manusia beriman.

Sumber Hukum Islam yang kedua adalah al-Sunnah. Yang dimaksud al-Sunnah adalah “Yakni segala sesuatu yang disandarkan pada Nabi SAW, baik berupa perbuatan, ucapan serta pengakuan Nabi Muhammad SAW”. (Al-Manhal al-Lathif fi Ushul al-Hadits al-Syarif, 51)

Karena itu sunnah terbagi menjadi tiga yaitu

1. Pertama, semua ucapan Nabi SAW tentang hukum. Seperti perintah Nabi SAW untuk berpuasa Ramadhan apabila telah melihat bulan (ru’yah). Hal ini disebut dengan Sunnah Qawliyyah.

2. Kedua, Sunnah Fi’liyyah, yakni segala sesuatu yang dikerjakan Nabi SAW, seperti tata cara shalat yang beliau kerjakan.

3. Ketiga, Sunnah Taqririyyah yakni pengakuan Nabi SAW atas apa yang diperbuat oleh sahabatnya. Contohnya adalah bertayamum karena tidak ada air. (Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh, hal 105)

Kitab-kitab yang mencatat al-Sunnah itu banyak sekali. Namun tidak semua dapat dijadikan pedoman dan standar untuk mengetahui hadits Nabi SAW. Karena tidak jarang, ada sebagian kitab yang memuat hadits yang kurang memenuhi standar transmisi (proses penyampaian) hadits. Karena itu, ulama membuat tingkatan kitab hadits sesuai dengan kualitas hadits yang terdapat di dalamnya.

Para ulama membagi kitab-kitab hadits kepada tiga tingkatan besar.

1. Tingkatan pertama adalah kitab yang memuat Hadits Mutawatir, Hadits Shahih yang ahad (tidak sampai tingkatan mutawatir, karena diriwayatkan oleh sedikit orang), serta Hadits Hasan. Misalnya Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, serta kitab al-Muwaththa’ karangan Imam Malik.

2. Tingkatan kedua adalah tingkatan hadits yang tidak sampai kepada tingkatan pertama, yaitu kitab-kitab yang ditulis oleh orang-orang yang diyakini tidak mudah memasukkan sembarangan hadits dalam kitab-kitab mereka, namun masih ada kemungkinan hadits yang mereka tulis masuk pada kategori Dha’if. Misalnya adalah Jami’al-Tirmidzi, Sunan Abi Dawud, Musnad Ahmad bin Hanbal dan Mujtaba al-Nasa’i.

3. Tingkatan ketiga adalah kitab-kitab yang banyak memuat hadits Dha’if, namun kebanyakan para perawinya tidak diketahui keadaannya, apakah tergolong fasiq atau tidak. Contoh untuk golongan ketiga ini adalah Mushannaf Ibn Abi Syaibah, Musnad al-Thayalisi, Musnad Abd bin Humaid, Sunan al-Baihaqi, al-Thabarani, al-Thahawi dan Mushannaf Abdurrazaq.

4. Tingkatan keempat adalah kitab-kitab yang banyak mengandung hadits Dha’if, seperti kitab Hadits karya Ibn Mardawaih, Ibn Syahin, Abu al-Syaikh dan lain-lain. Jenis keempat ini tidak dapat dijadikan pedoman, karena kebanyakan sumber mereka adalah orang-orang yang kurang dapat dipercaya, karena selalu mengedepankan hawa nafsunya. (Ulum al-Hadits wa Mushthalahuh, 116-117)

Banyak usaha–usaha orang tertentu untuk melemahkan keimanan umat Islam pada Sunnah Nabi SAW. Tetapi usaha tersebut tidak menampakkan hasil dan menuai kegagalan. Karena para ulama zaman dahulu sudah memberi pagar-pagar beton yang kokoh dan tak mungkin bisa dijebol oleh siapapun juga. Al-Sunnah telah dilengkapi dengan berbagai perangkat ilmu seperti Musthalah al-Hadits, Ulum al-Rijal, al-Jarh wa al-Ta’dil, Ulum Naqd al-Matn dan sebagainya. Ini merupakan kelebihan Hadits Nabi SAW yang tidak dimiliki oleh ilmu-ilmu yang lain.

Ketika Goldziher dalam bukunya yang berbahasa Jerman Muhammedanische Studien mencoba mengacak teori ilmu hadits yang sudah baku, maka kemudian hadirlah DR. Muhammad Musthafa al-A’zhami, dengan sebuah disertasinya untuk membela kebenaran hadits secara ilmiyah, yang berjudul Dirasah fi al-Hadits al-Nabawi Wa Tharikh Tadwinihi. Yang dipertahankan dihadapan para pakar ilmu keislaman orientalis di Universitas Canbridge pada tahun 1966, di anataranya Prof. A. J. Arberry dan lulus dengan predikat sangat memuaskan (Cum Laude). Dengan demikian runtuhlah upaya Goldziher dan para koleganya tersebut.

Dalil tiga adalah Ijma’ yakni ”Yang dimaksud dengan Ijma’ adalah kesepakatan para mujtahid di suatu zaman tentang suatu permasalahan hukum yang terjadi ketika itu.” (Al-Waraqat fi Ushul al-Fiqh, 44)

Sedangkan dalil Ijma’ adalah firman Allah QS al-Nisa 115, sebagaimana disebutkan dalam kitab Tanqih al-Fushul Fi al-Ushul hal 822, ”Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang–orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (al-Nisa 115)

Kesepakatan itu adakalanya terjadi pada saat semua mujtahid mengemukakan pendapatnya, dan ternyata pendapat mereka semua itu sama. Inilah yang disebut dengan Ijma’ Sharih. Dan adakalanya kesepakatan itu terjadi karena ada sebagian mujtahid yang mengemukakan pendapatnya, sedangkan yang lain diam (tidak memberikan komentar), sehingga mereka dianggap setuju dengan pendapat yang dikemukakan mujtahid tersebut. Ijma seperti ini disebut dengan Ijma’ Sukuti. (Ilmu Ushu al-Fiqh, hal 23).

Contoh Ijma’ adalah kesepakatan para sahabat tentang adzan dua kali pada hari Jum’at, shalat tarawih secara berjama’ah dan semacamnya.

Dalil yang keempat adalah Qiyas, yakni sebagaimana dikemukakan oleh Ibn al-Hajib ”Ibn Hajib mengatakan, ”Qiyas adalah menyamakan hukum cabang (far) kepada ashl karena ada (kesamaan) illat (sebab) hukumnya”. (Ushul al-Fiqh Khudhari Bik, 289)

Dalam kitab Tanqih al-Fusul Fi al-Ushul, hal 89, dijelaskan bahwa dalil Ijma’ adalah QS. As-Hasyr, 2, ”Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan.” (QS. Al-Hasyr, 2)

Contoh qiyas adalah perintah untuk meninggalkan segala jenis pekerjaan pada saat adzan Jum’at dikumandangkan. Hal ini disamakan dengan perintah untuk meninggalkan jual beli pada saat–saat tersebut, yang secara langsung dinyatakan oleh al-Qur’an, yakni firman Allah SWT, ”Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu dipanggil untuk mengerjakan shalat pada hari Jum’at, maka bergegaslah kamu untuk dzikir kepada Allah SWT (mengerjakan shalat Jum’at) dan tinggalkanlah jual-beli.” (QS. Al-Jumu’ah, 9)

Inilah empat dalil yang dijadikan sumber hukum Islam. Karena itu seorang muslim tidak diperkenankan menghukumi suatu perkara tanpa berlandaskan salah satu dalil tersebut. Sebagaimana ditegaskan oleh Imam Syafi’i RA dalam al-Risalah ”Selamanya seseorang tidak boleh mengatakan ini halal atau ini haram, kecuali ia telah mengetahui dalilnya. Sedangkan mengetahui dalil itu didapat dari al-Qur’an, Al-Hadits, Ijma’ atau Qiyas.” (al-Risalah, 39)

Keempat dalil ini harus digunakan secara hirarkis (berurutan), artinya ketika memutuskan suatu persoalan hukum, maka yang pertama kali harus dilihat adalah al-Qur’an. Apabila tidak ditemukan di dalam al-Qur’an, maka meneliti hadits Nabi SAW. Jika tidak ada, maka melihat Ijma’. Dan yang terakhir adalah dengan menggunakan qiyas.

Hirarki (urutan) ini sesuai dengan orisinalitas serta tingkatan kekuatan dalilnya. Sebagaimana yang dikemukakan oleh al-Amidi dalam al-Ihkam Fi Ushul al-Ahkam ”Yang asal dalam dalil Syar’i adalah al-Qur’an, sebab ia datang langsung dari Allah SWT sebagai musyarri’ (pembuat hukum). Sedangkan (urutan kedua) Sunnah, sebab ia berfungsi sebagai penjelasan hukum dan firman Allah SWT dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. (Yang terakhir adalah) Qiyas, sebab proses Qiyas selalu berpedoman pada Nash (al-Qur’an dan al-Sunnah) dan Ijma’. Sehingga Nash dan Ijma’, merupakan asal, sedangkan Qiyas dan Istidlal (pengguna dalil) merupakan cabang (bagian) yang selalu ikut pada yang asal”.(Al-Ikhkam Fi Ushul al-Ahkam, Juz I, hal 208)

Di samping itu, sebenarnya masih ada enam dalil yang digunakan oleh Imam Mujtahid. Yakni Mashlahah Mursalah (mashlahah yang tidak bertentangan dengan dalil syar’i), Istihsan (menganggap baik suatu perkara), Madzhab Shahabi (pendapat para sahabat), al-Urf (kebiasaan yang tidak bertentangan dengan syari’at), Istishhab (menetapkan hukum yang sekarang terjadi saat itu sesuai dengan hukum yang sudah pernah berlaku sebelumnya) serta Syar’ Man Qablana (syari’at kaum-kaum sebelum Nabi Muhammad SAW)

Namun dalil-dalil tersebut masih diperselisihkan oleh para ulama. Di antara mereka ada yang menggunakan dalil yang tidak diakui oleh yang lainnya. Imam Abu Hanifah misalnya, mengakui istihsan sebagai dalil hukum, sementara Imam syafi’i menolak menggunakannya seraya berkata, ”Barang siapa yang melakukan istihsan, berarti ia telah membuat syari’at baru”.

Beberapa penjelasan di atas menunjukkan bahwa yang dapat dibuat dalil dalam syari’at adalah al-Qur’an, Hadits, Ijma dan Qiyas. Ditambah lagi dengan beberapa dalil lain yang masih diperselisihkan para ulama. Jadi, dalil itu tidak hanya terbatas pada al-Quran dan Hadits saja, seperti yang sering dipahami selama ini.

Ijtihad

Merupakan ciri khas pesantren, mengkaji secara mendalam kitab-kitab yang dikenal dengan nama kitab kuning. Baik secara sorogan maupun wetonan. Kitab kuning itu merupakan warisan ulama salaf yang memaparkan dan menjelaskan hasil rumusan para mujtahid. Yakni seseorang yang dalam menyelesaikan sebuah persoalan melakukan ijtihad.

Sebenarnya, proses ijtihad sudah ada sejak jaman Rasulullah SAW masih hidup. Beliau pernah mengutus sahabat Mu’adz bin Jabal RA ke negeri Yaman untuk menyebarkan agama Islam. Ketika sahabat Mu’az menghadap Rasulullah SAW, beliau menanyakan tentang urutan pengambilan keputusan, ”Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal RA, bahwa pada saat Rasulullah SAW mengutusnya ke negeri Yaman, beliau bertanya, ”Bagaimana cara kamu memutuskan suatu persoalan jika disodorkan kepadamu suatu masalah?” Dia menjawab, ”Saya memutuskan dengan kitab Allah.” Nabi bertanya, ”Jika kamu tidak menemukan di dalam Kitabullah?” Mu’adz menjawab, ”Saya melakukan ijtihad dan tidak bertindak sewenag-wenang.” Lalu Mu’adz berkata, ”Maka Rasulullah SAW menepuk dadanya dan bersabda, ”Segala puji bagi Allah yang telah memberikan petuntuk kepada utusan Rasulullah dengan apa yang telah diridhai Rasulullah SAW.” (Sunnah al-Damiri 168)

Ijtihad mendapat legalitas (pengakuan) dalam Islam, bahkan dianjurkan. Banyak al-Qur’an dan al-Hadits yang menyinggung urgensitas ijtihad. Apapun hasilnya, ijtihad merupakan kegiatan yang terpuji. Dalam sebuah hadits dijelaskan, “Diriwayatkan dari Amr bin al-Ash, bahwa dia mendengar Rasulullah SAW bersabda ”Apabila seorang hakim memutuskan perkara lalu ia melakukan ijtihad, kemudian ijtihadnya benar, maka ia memperoleh dua pahala (pahala ijtihad dan pahala kebenarannya). Jika hakim memutuskan suatu perkara lalu berijtihad dan hasilnya salah, maka baginya satu pahala (pahala ijtihadnya).” (Musnad Ahmad bin Hambal 17148)

Dari hadits ini, secara implisit dijelaskan bahwa hasil ijtihad bisa benar dan bisa salah. Tapi keduanya mendapatkan pahala dari Allah SWT. Oleh sebab itu, perbedaan hasil ijtihad dari masing-masing imam mujtahid (yang melakukan ijtihad) adalah sebagai rahmat. Bukan dijadikan ajang untuk berselisih dan menghancurkan persatuan umat Islam.

Prof. KH Saifuddin Zuhri menjelaskan bahwa redaksi hadits tersebut menggunakan kata al-Hakim (seorang ahli hukum). Hal ini menunjukkan bahwa yang mendapat kewenangan untuk melakukan ijtihad adalah seorang ahli hukum. Dengan kata lain, jadilah ahli hukum terlebih dahulu, baru melakukan pekerjaan ijtihad. Bukan sebaliknya, berijtihad terlebih dahulu, baru menamakan dirinya ahli hukum. (Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, 162)

Maka sungguh ironis, orang yang hanya bisa memahami al-Qur’an dan al-Hadits dari terjemahannya, sedangkan dia tidak menguasai bahasa Arab dengan baik, sudah merasa mampu berijtihad. Padahal sebenarnya, dia sedang bertaqlid buta kepada penerjemah buku tersebut, karena tidak bisa mengoreksi dan mengkritisi hasil terjemahan tersebut, apakah benar atau salah.

Ijtihad yang dimaksud adalah mencurahkan segala upaya (daya pikir) secara maksimal untuk menemukan hukum yang belum jelas di dalam al-Qur’an dan al-Hadits dengan menggunakan dalil-dalil umum (prinsip-prinsip dasar agama) yang ada dalam al-Qur’an, al-Hadits, Ijma, Qiyas serta dalil yang lainnya. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Imam Suyuthi, ”Ijtihad adalah usaha seorang faqih (seorang ahli fiqh) untuk menhasilkan hukum yang bersifat zhanni (intrepretatif).” (Al-Kawkab al-Sathi’fi Nazhm Jam’al-Jawami, Juz II, hal 479)

Dengan demikian tidak sembarangan orang dapat melakukan ijtihad. Ia harus benar-benar ahli dalam ilmu agama. Yakni ahli dan memahami ilmu fiqh, ilmu tafsir, ilmu Nahwu, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi agar seseorang dapat melakukan proses ijtihad. Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut:

1. Memiliki kemampuan untuk menggali hukum dari al-Qur’an. Yaitu harus harus paham ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum. Termasuk di dalamnya Asbab al-Nuzul (latar belakang turunnya al-Qur’an), Nasikh-Mansukh (ayat yang menganti atau yang diganti) Mujmal-Mubayyan (kalimat yang global dan parsial), al-Am wa al-Khash- (kalimat yang umum dan khusus), Muhkam Mutasyabih (kalimat yang jelas dan yang samar), dan sebagainya.

2. Memiliki ilmu yang luas tentang hadits Nabi Muhammad SAW, terutama yang berkaitan dengan masalah hukum, seperti asbab al-Wurud (latar belakang munculnya hadits) dan Rijal al-Hadits (sejarah para pewaris hadits)

3. Menguasai persoalan-persoalan yang telah disepakati ulama (ijma’)

4. Memahami Qiyas serta dapat menggunakannya dalam usaha menghasilkan sebuah hukum.

5. Menguasai Bahasa Arab dan gramatikanya secara mendalam, seperti ilmu Nahwu, Sharaf, Balaghah dan lain sebagainya. Juga harus menguasai kaidah-kaidah Ushul al-Fiqh (cara memproduksi hukum).

6. Memahami dan menghayati bahwa tujuan memberlakuan hukum Islam. Yakni memahami bahwa tujuan hukum Islam adalah rahmah li al-alamin, yang terpusat pada usaha untuk menjaga perkara dharuriyyat (primer atau pokok) hajiyyat (sekunder atau pelengkap), dan tahsiniyyat (tersier atau keindahan).

7. Mempunyai pemahaman serta metodologi yang dapat dibenarkan untuk menghasilkan keputusan hukum.

8. Mempunyai niat serta akidah yang benar. Dengan kata lain, tujuannya bukan untuk mencari pangkat serta kedudukan duniawi. Namun niatnya murni karena Allah SWT, ingin mencari hukum Tuhan demi kemaslahatan seluruh umat manusia. (Ushul al-Fiqh, Abu Zahrah, 380-389)

Melihat persyaratan yang begitu ketat ini, hampir tidak seorangpun memiliki lima persyaratan itu secara utuh. Masing-masing orang memiliki kelemahan dan kelebihan yang tidak ada pada yang lainya. Bisa saja orang hanya memenuhi sebagian kecil dari persyaratan itu. Tapi orang lain memiliki bahkan menguasai persyaratan itu secara utuh. Karena itu, lalu muncul pembagian orang yang dapat melakukan ijtihad, atau yang disebut dengan mujtahid, yakni:

1. Mujtahid Muthlaq/Mustaqil, yaitu seseorang yang melakukan mujtahid dengan cara menciptakan sendiri kaidah istinbath (cara menggali) hukum. Masuk dalam kategori ini adalah imam mazhab yang empat, yakni al-Nu’man bin Tsabit atau Imam Abu Hanifah (80H -150H), Malik bin Anas atau Imam malik (93H-179H), Muhammad bin Idris yang dikenal dengan Imam Syafi’i (150H-204) dan Ahmad bin Hanbal, yaitu Imam Hambali (164H-241H).

2. Mujtahid Muntasib, yakni seseorang yang melakukan penggalian hukum dengan menggunakan metode dan kaidah istinbath imamnya (mujtahid mutlaq). Seperti Imam al-Muzani dan al-Bawaithi dari madzhab Syafi’i, Muhammad bin al-Hasan dan Abu Yusuf dari Madzhab Hanafi. Golongan ini disebut dengan Mujtahid Mutlaq Ghair al-Mustaqil.

3. Mujtahid Muqayyad, yaitu orang yang menggali hukum dari persoalan yang belum dibahas oleh imam mujtahidnya. Seperti al-Karkhi, al-Sharakhsi, al-Bazdawi, Abi Ishaq al-Syirazi dan lain sebagainya.

4. Mujtahid Madzhab/Fatwa, yaitu mujtahid yang mengikuti metode dan cara istinbath hukum imamnya, juga produk hukum dari imamnya. Dia hanya menyeleksi pendapat imamnya, mana yang shahih dan yang lemah. Misalnya, Imam al-Ghazali dan al-Juwaini dari madzhab Syafi’i.

5. Mujtahid Murajjih, yaitu mujtahid yang melakukan seleksi dalam madzhab tertentu, dengan memilih pendapat yang paling unggul sesuai dengan tuntutan kemaslahatan masyarakatnya. Contohnya, Imam Rafi’i dan Imam Nawawi dalam madzhab Syafi’i. (Ushul al-Fiqh Abu Zahrah, hal 30 dan Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, I, 47-48)

Lalu, apakah pintu ijtihad sudah tertutup? Kalau dilihat bahwa ijtihad merupakan kegiatan mengenali hukum yang dipetik dari al-Qur’an dan al-Hadits serta dalil yang lainnya, maka pintu ijtihad masih terbuka. Karena perkembangan zaman yang melaju begitu cepat, maka diperlukan pendampingan jawaban dari ijtihad para mujtahid. Sehingga pada setiap masa dapat dipastikan ada seorang mujtahid yang berijtihad unuk menyelesaikan persoalan hukum di tengah masyarakat. Sebagaimana yang dikatakan Ibnu Daqiq al-Id, ”Setiap masa tidak akan vakum dari seorang mujtahid, kecuali apabila zaman telah kacau atau kiamat telah dekat.” (Majmu’ah Sab’ah Kutub Mufidah, hal 67)

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa

1. Ijtihad merupakan usaha untuk mencari hukum Tuhan demi kemaslahatan manusia. Namun tidak semua orang dapat melakukannya. Ada syarat–syarat yang harus dipenuhi agar seseorang dapat melakukan proses ijtihad.

2. hingga saat ini, pintu ijtihad masih terbuka, sampai sekarangpun masih tebuka munculnya para imam mujtahid. Namun, yang bisa memasuki pintu tersebut tentulah orang-orang yang memiliki kualitas pribadi dan keilmuan yang memenuhi syarat-syarat di atas.

B. CIRI-CIRI AKIDAH AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH

Perumus Ahl al- Sunah wa-al-Jama’ah

dalam Bidang Akidah

Ahl al-Sunah wa-al-Jama’ah merupakan ajaran Islam yang murni, dan sudah ada sejak masa Rasulallah SAW. Hanya saja waktu itu belum terkodifikasi serta terumuskan dengan baik. Gerakan kembali kepada ajaran Ahl al-Sunah wa al-Jama’ah dimulai oleh dua ulama yang sudah terkenal pada masanya, yakni Imam Asy’ari dan Imam Maturidi. Karena itu, ketika ada yang menyebut Ahl al- Sunah wa al-Jama’ah, pasti yang dimaksud adalah golongan yang mengikuti rumusan kedua iman tersebut. Sebagaimana yang dikemukakan oleh al-Imam Ahmad bin Hajar al-Haitami dalam Tathhir al-Janan wa al-Lisan, “Jika Ahl al-Sunah wa al-Jama’ah disebutkan, maka yang dimaksud adalah orang-orang yang mengikuti rumusan yang digagas oleh Imam Asy’ari (golongan Asya’riah) dan Imam Maturidi (golongan Maturidiyyah)”. (Tathhir al-Janan wa al-Lisan, 7)

Hal yang sama juga dikemukakan oleh Thasy Kubri Zadah, sebagaimana yang dikutip oleh DR Fathullahi Khulayf dalam pengantar kitab al-Tauhid karangan Imam Maturidi, “Thasy Kubri Zaddah berkata, ”Ketahuilah bahwa polopor gerakan Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah dalam ilmu kalam adalah dua orang. Satu orang bermadzhab Hanafi, sedang yang lain dari golongan Syafi’I. Seorang yang bermadzhab Hanafi itu adalah Abu Mansyur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud al-Maturidi. Sedangkan yang dari golongan Syafi’i adalah Syaikh al-Sunnah, pemimpin masyarakat, imam para mutakallimin, pembela sunnah Nabi SAW dan agama Islam, pejuang dalam menjaga kemurnian akidah kaum muslimin, (yakni) Abu al-Hasan al-Asy’ari al-Bashri”. (Kitab al-Tauhid, 7)

Dua orang inilah yang menjadi polopor gerakan kembali pada ajaran Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah. Intisari dari kedua rumusan beliau tersebut tersimpul pada kitab-kitab yang telah diajarkan di pesantren seperti Aqidah al-Awam, Kifayah al-Awam, al-Jawahir al-Kalamiyyah. Jawharah al-Tauhid serta kitab lain yang sudah tidak asing bagi orang-orang yang belajar di pesantren.

Nama lengkap Imam Asy’ari adalah Abu al-Hasan Ali bin Isma’il al-Asy’ari. Lahir di Bashrah pada tahun 260 H /874 M dan wafat pada tahun 324 H/936 M. Beliau adalah salah satu keturunan sahabat Nabi SAW yang bernama Abu Musa al-Asy’ari. Setelah ayahnya meninggal dunia, ibu beliau menikah lagi dengan seorang tokoh Mu’tazilah yang bernama al-Jubba’i. Karena menjadi anak tiri al-Juba’i, Imam Asy’ari sangat tekun mempelajari aliran Mu’tazilah, sehingga beliau sangat memahami aliran ini. Tidak jarang beliau menggantikan ayahnya menyampaikan ajaran Mu’tazillah. Berkat kemahirannya ini, dan juga posisinya sebagai anak tiri dari salah seorang tokoh utama Mu’tazilah, banyak orang memperkirakan bahwa suatu saat beliau akan menggantikan kedudukan ayah tirinya sebagai salah seorang tokoh Mu’tazilah.

Namun harapan itu tidak sesuai dengan kenyataannya. Fakta berbica lain. Setelah Imam Asy’ari mendalami ajaran Mu’tazillah, terungkaplah bahwa banyak celah dan kelemahan yang terdapat dalam aliran tersebut. Sesudah mengetahui beberapa kelemahan ini, beliau menyendiri dan bertafakur (merenung dan berfikir) selama 15 hari. Ia meminta kepada Allah SWT agar diberi petunjuk tentang langkah terbaik yang akan dilaluinya.

Dalam perenungan tersebut, sampailah beliau pada kesimpulan bahwa sudah saatnya untuk kembali pada ajaran yang murni, yakni ajaran yang telah digariskan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat, serta dilanjutkan oleh ulama Salaf al-Shalih. Imam Asy’ari beranggapan apabila tetap mengamalkan ajaran Mu’tazillah yang sangat mengandalkan akal pikirannya, berarti telah melakukan dosa sosial karena mengajak orang untuk melakukan kemunafikan. Akhirnya beliau mengambil keputusan untuk meninggalkan ajaran Mu’tazillah. Imam Asy’ari kemudian memproklamirkan diri dan mengajak manusia untuk kembali pada ajaran Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, seperti yang diajarkan para salaf al-shalih. (Abi Al-Hasan al-Nadwi, dalam Muqaddimah al-Ibanah, 30-30)

Setelah peristiwa ini, banyak kalangan yang memuji keberanian Imam Asy’ari. Ia dijuluki sebagai orang yang telah menyelamatkan akidah umat Islam dari gangguan kelompok-kelompok yang akan merusak kemurnian agama Islam. Beliau diposisikan sebagai pelopor gerakan kembali ke Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah. Gerakan yang beliau pimpin itu kemudian dikenal dengan sebutan golongan Asy’ariyah. Untuk mengokohkan akidah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, Imam Asy’ari menulis banyak kitab, diantaranya al Ibanah an Ushul al Diyanah, Maqalat al Islamiyyin dan lain sebagainya.

Karena keberaniannya ini pula, ulama yang selama itu dibungkam dan ditindas oleh penguasa Mu’tazillah memberikan dukungan pada gerakan yang ia rintis. Maka wajar, jika pengikut beliau dari berbagi kalangan. Para Muhadditsin (ahli hadits), Fuqaha’ (ahli Fiqh) serta para ulama dari berbagai disiplin ilmu mendukung serta menjadi pengikut Imam Asy’ari. Sebagaimana yang dituturkan Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki dalam Mafahim Yajib An Tushahhah, “Sesungguhnya mereka (pengikut Imam Asy’ari) adalah berbagai kelompok dari berbagi Muhaddisin (ahli hadits), Fuqaha (ahli Fiqh) dan Mufassirin (ahli tafsir) dari para imam yang terkemuka. “ (Mafahim Yajib An Tushahah, 111)

Di antara ulama yang mengikuti ajaran beliau dalam bidang akidah adalah Imam Nawawi (wafat tahun 676 H. penggarang kitab Riyadh al-Shalihin), Syaikh Ibnu Hajar al-Asqalani (wafat pada tahun 825 H, penulis kitab Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari serta kitab Bulugh al-Maram), Imam al-Qurtubi, pengarang Tafsir al Qurthubi, Ibn Hajar al-Haitami (wafat tahun 974H. mu’allif kitab al-Zawajir), Imam Zakariyya al-Anshari, pengarang kitab Fath al-Wahhab, serta masih banyak ulama terkenal lainnya.

Tidak sedikit pula ahli tashawwuf terkenal yang menjadi pengikut aqidah Asy’ariyah ini, seperti Abu al-Qasim Abdul Karim bin Hawazin al-Qusyairi, penulis kitab al-Risalah al-Qusyairiyyah (376-465 H) dan Abi Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali (505 H) (Tabyin Kidzb al-Muftari, 291). Bahkan seorang sufi kenamaan yang bergelar Lisan al-Alawiyyin, yakni penyambung lidah habaib, al-Habib Abdullah al-Haddad, Shahib Ratib al-Haddad mengatakan, “Al-Habib ‘Abdullah bin Alawi al-Haddad berkata, ”Kamu wajib menjaga keyakinanmu, menjernihkan serta mengokohkannya sesuai dengan metode golongan yang selamat (al-Firqah al-Najiyah). Yakni golongan yang telah dikenal diantara sekian banyak golongan Islam dengan sebutan Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah. Mereka adalah oang-orang yang selalu berpedoman pada semua yang telah diteladankan Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Apabila kamu memikirkan dengan pemahaman yang lurus, dan dengan hati yang jernih dalam teks kitab al-Qur’an dan al-Sunnah yang memuat ilmu-ilmu tentang keimanan, dan bila kamu berkaca pada sejarah hidup ulama shalaf yang shalih dari kalangan sahabat dan tabi’in, maka akan kamu ketahui dan kamu yakini bahwa kelompok yang benar akan selalu berada di pihak kelompok yang disebut dengan Asy’ariyyah,…(dan seterusnya)… Ajaran kelompok itu adalah akidah yang menjadi pedoman orang-orang yang benar di semua tempat dan seluruh zaman. Ia merupakan akidah para ahli tashawwuf, sebagaimana yang diceritakan oleh Abu al-Qasim al-Qusyairi RA dalam pengantar kitab Risalahnya. Dan alhamdulilah itu juga merupakan akidah kami (para Habaib), serta keyakinan saudara-saudara kami dari tokoh-tokoh keturunan sayyidina Husain RA yang terkenal dengan sebutan keluarga Alawi, serta aqidah seluruh datuk kami sejak masa Rasulullah SAW sampai saat ini”. (Uqud al-Almas, hal 89)

Lebih lanjut, untuk menambah keyakinan kita, beliau mendendangkan syair :

Jadilah kamu golongan Asy’ari dalam akidahmu, karena

sesungguhnya mazdhab itu merupakan jalan yang bersih

dari segala penyelewengan dan kesesatan”.

(Uqud al-Almas, 91)

Inilah gambaran tentang kelompok Asy’ariyyah. Berkat kegigihan kelompok ini, agama Islam terhindar dari kerusakan yang disebabkan oleh menjamurnya berbagai aliran yang merusak kenurnian Islam. Karena jasanya yang sangat besar bagi agama Islam, mereka dijuluki sebagai kelompok yang telah menyelamatkan sendi-sendi ajaran Islam. Sebagaimana Ibn Taimiyaah dalam kitab al-Fatawanya dari pernyataan Abu Muhammad al-Juwaini, “Para ulama adalah penolong ilmu-ilmu agama. Sedangkan Asy’ariyyah adalah para penolong Ushul al-Din (akidah)”. (Al-Fatawa, juz IV,hal 24)

Tokoh Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah yang kedua adalah Imam al-Maturidi. Nama beliau adalah Ibnu Manshur Muhammad bin Muhamad bin Mahmud al-Maturidi. Beliau lahir di daerah Maturidi dan wafat di Samarkand pada tahun 333 H/944M.

Seperti telah dijelaskan, beliau adalah seorang yang menganut madzhab Abu Hanifah. Maka wajar, jika kebanyakan ajaran beliau usung, masih merupakan bagian dari mazhab Abu Hanifah, terutama dalam bidang akidah. Karena itu banyak pakar yang menyimpulkan bahwa yang menjadi landasan pijakan Imam Maturidi adalah pendapat-pendapat Abu Hanifah dalam bidang akidah. (Tharikh al-madzhib al-Islamioyyah, juz I, hal173)

Murid-murid beliau yang terkenal ada empat orang yaitu Abu al-Qasim Ishaq bin Muhammad bin Isma’il yang terkenal sebagai Hakim Samarkand, wafat pada tahun 340 H. Lalu Imam Abu al-Hasan ‘Ali bin Sa’id al-Rasthagfani. Kemudian Imam Abu Muhammad ‘Abdul Kharim bin Musa al-Bazdawi, wafat pada tahun 390 H. dan yang terakhir adalah Imam Abu al-Laits al-Bukhari. Satu-satunya tulisan Imam Maturidi yang sampai kepada kita adalah kitab al-Tauhid yang di tahqiq (diedit) oleh DR. Fathullah Khulayf.

C. CIRI-CIRI SYARIAT ASWAJA

Madzhab

Dalam kehidupan beragama, istilah madzhab sudah lazim kita dengar. Dan sudah menjadi kesepakatan bahwa dalam fiqh, NU berpegangan pada salah satu madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Madzhab Hambali. Hal ini berarti semua warga Nahdliyyin diberi kebebasan untuk mengikuti salah satu aturan yang berlaku dalam empat madzhab tersebut.

Secara bahasa madzhab berarti jalan. ”Madzhab berarti jalan” (Al- Qamus al-Muhith 86). Sedangkan pengertian madzhab secara istilah sebagaimana dijelaskan oleh KH. Zainal Abidin Dimyathi dalam kitabnya al-Idza’ah al-Muhimmah adalah ”Madzhab adalah hukum-hukum dalam berbagai masalah yang diambil, diyakini dan dipilih oleh para imam mujtahid.” (Al-Idza’ah al-Muhimmah, 18)

Madzhab tidak akan terbentuk dari hukum yang telah jelas (qath’i) dan disepakati para ulama. Misalnya bahwa shalat itu wajib zina haram dan semacamnya. Madzhab itu ada dan terbentuk karena terdapat beberapa persoalan yang masih terjadi perselisihan di kalangan ulama. Kemudian hasil pendapat itu disebarluaskan serta diamalkan oleh para pengikutnya.

Jadi, madzhab itu merupakan hasil elaborasi (penelitian secara mendalam) para ulama untuk mengetahui hukum tuhan yang terdapat dalam al-Qur’an, al-Hadits serta dalil yang lainnya. Dan sebenarnya, madzhab yang boleh diikuti tidak terbatas pada empat saja. Sebagaimana yang dikatakan oleh Sayyid ’Alawi bin Ahmad al-Seggaf dalam Majmu’ah Sab’ah Kutub Mufidah, ”(Sebenarnya) yang boleh diikuti itu tidak hanya terbatas pada empat madzhab saja. Bahkan masih banyak madzhab ulama yang boleh diikuti, seperti madzhab dua Sufyan (Sufyan al-Tsauri dan Sufyan bin Uyainah), Ishaq bin Rahawaih, Imam Dawud al-Zhahiri, dan al-Awza’i.” (Majmu’ah Sab’ah Kutub Mufidah. 59)

Namun mengapa yang diakui serta diamalkan oleh ulama golongan Ahl al Sunnah wa al Jama’ah hanya empat madzhab saja?

Sebenarnya, yang menjadi salah satu faktor adalah tidak lepas dari murid-murid mereka yang kreatif, yang membukukan pendapat-pendapat imam mereka sehingga pendapat imam tersebut dapat terkodifikasikan dengan baik. Akhirnya, validitas (kebenaran sumber dan salurannya) dari pendapat-pendapat tersebut tidak diragukan lagi. Di samping itu, madzhab mereka telah teruji ke-shahihan-nya, sebab memiliki metode istinbath (penggalian hukum) yang jelas dan telah tersistematisasi dengan baik, sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, sebagaimana yang diuraikan oleh Sayyid Alwi bin Ahmad al-Seggaf, ”Sesungguhnya ulama dari kalangan madzhab Syafi’i RA menjelaskan bahwa tidak boleh bertaqlid kepada selain madzhab yang empat, karena selain yang empat itu jalur periwayatannya tidak valid, sebab tidak ada sanad yang bisa mencegah dari kemungkinan adanya penyisipan dan perubahan. Berbeda dengan madzhab yang empat. Para tokohnya telah mencurahkan kemampuannya untuk meneliti setiap pendapat serta menjelaskan setiap sesuatu yang memang pernah diucapkan oleh mujtahidnya atau yang tidak pernah dikatakan, sehingga para pengikutnya merasa aman (tidak merasa ragu atau khawatir) akan terjadinya perubahan, distorsi pemahaman, serta mereka juga mengetahui pendapat yang shahih dan yang dha’if”. (Majmu’ah Sab’ah Kutub Mufidah, 59)

Pada perkembangan selanjutnya para ulama pesantren terus-menerus berusaha untuk membangkitkan sistem bermadzhab ini. Karena zaman bergulir begitu cepatnya, waktu melesat tak dapat dicegat, dan perubahan tidak dapat dielakkan, sementara fiqh Islam harus hadir memberikan solusi untuk menjawab berbagai persoalan kemasyarakatan, maka umat Islam di tuntut untuk dapat berkreasi dalam memecah berbagai persoalan tersebut. Sehingga diperlukan pendekatan ’baru’ guna membuktikan slogan shaliha likulli makaa na wazamaani. Salah satu bentuknya adalah dengan mengembangkan pola bermadzhab secara tekstual (madzhab qawli) menuju pola bermadzhab metodologis (madhzhab manhaji) dalam fiqh Islam, sebagaimana yang digagas oleh DR. KH. Sahal Mahfudh.

Mengutip hasil halaqoh P3M, ada beberapa ciri yang menonjol dalam fiqh sosial. Ciri-ciri tersebut diantaranya adalah melakukan interpretasi teks-teks fiqh secara kontekstual, perubahan pola bermadzhab, dari madzhab kontekstual (madzhab qawli) menuju pola bermadzhab secara metodologis (madzhab manhaji), verifikasi ajaran secara mendasar, dengan membedakan ajaran yang pokok (ushul) dan yang cabang (furu’), dan pengenalan metodologi filosofi, terutama dalam masalah budaya dan sosial. (KH.Sahal Mahfudh, dalam Duta Masyarakat, 18 Juni 2003)

Namun demikian, usaha ini hanya bisa dilakukan dalam persoalan sosial kemasyarakatan (hablun min-al nas), tetapi tidak bisa masuk kepada khaliqnya (hablum minallah). Artinya, dalam hubungan dengan sesama manusia, kaum muslimin harus membuat berbagai terobosan baru untuk menjawab dinamika sosial yang terus bergulir dengan cepat. Namun itu tidak berlaku dalam hubungan vertikal hamba dengan Sang Khalik. Sebab yang dibutuhkan dalam ibadah adalah kepatuhan seorang hamba yang tunduk dan pasrah menyembah kepada-Nya. Sebagaimana kaidah yang diungkapkan oleh al-Syathibi al-Muwafaqat-nya Yang asal dalam masalah ibadah adalah ta’abbud (dogmatis) tanpa perlu melihat maknanya. Sedangkan asal dalam mu’amalah (interaksi antara sesama manusia) adalah memperhatikan maknanya (esensinya).” (Al-Muwafakat fi Ushul al-Ahkam, juz II, hal 300)

Dari penjelasan sederhana ini, dapat ditarik beberapa kesimpulan.

1. Madzhab merupakan sebuah ’jalan’ yang ’disediakan’ oleh para mujtahid sebab adanya perbedaan pendapat di antara mereka.

2. Umat Islam tidak terikat pada satu madzhab tertentu dan mereka diberi kebebasan untuk memilih madzhab.

3. Namun, yang berhak diikuti hanya terbatas pada empat madzhab saja, yakni madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Hal ini disebabkan kodifikasi dasar dan metode hukum yang mereka ambil sangat valid dan terjaga serta diakui umat muslim keseluruhan.

4. Umat Islam perlu mengembangkan pola bermadzhab yang dapat menjamin kemaslahatan masyarakat, khususnya dalam masalah sosial kemasyarakatan.

Dalam hal perbedaan ini, sangat dilarang adanya fanatisme bermadzhab yang dapat menimbulkan sikap menyalahkan atau bahkan mengkafirkan madzhab lain, mengingat Imam Syafi’i sendiri begitu menghormati Imam Malik, gurunya, begitu juga sebaliknya, Imam Hanbali yang menghormati gurunya, Imam Syafii, dan begitu pula sebaliknya. Bahkan terhadap salah satu Imam madzhab empat yang diikuti, para Imam Mujtahid setelah mereka memiliki perbedaan pendapat pada beberapa hal. Sebagai contoh, diantaranya pendapat yang dipegang Imam Nawawi dengan Imam madzhab yang beliau ikuti, Imam Syafi’i, yang berbeda dalam hal kenajisan babi yang mana Imam Syafii memfatwakan Najis babi termasuk Najis Mughaladhoh dan tidak dengan Imam Nawawi yang justru meringankan Najis babi dengan satu siraman saja.

Sangat dituntut supaya kita tidak bersikap fanatis berlebihan (merasa madzhab sendirilah yang paling benar) maupun sikap kebalikannya yaitu sikap tala’ub (main-main) dalam hukum agama tanpa didasari alasan yang dibenarkan sehingga mudah berpindah madzhab untuk mencari gampangnya suatu permasalahan atau bahkan menetapkan dengan keputusan sendiri yang acapkali tidak menggunakan dasar yang ditetapkan tetapi justru dengan hawa nafsu.

Madzhab Imam Syafi’i

Di Indonesia pada khususnya, dan wilayah Asia Tenggara pada umumnya, dalam bidang fiqh umat Islam mengikuti madzhab Imam Syafi’i. Dalam hal ibadah maupun hal mu’amalah, madzhab Syafi’i selalu menjadi pedoman sehari-hari.

Nama lengkap Imam Syafi’I adalah Muhammad bin Idris al-Syafi’i. Beliau lahir pada tahun 150 H, brtepatan dengan tahun wafatnya Imam Abu Hanifah. Beliau wafat di Mesir pada tahun 204 H. Imam Syafi’i adalah seorang mujtahid muthlaq mustaqil. Selain ahli dalam bidang fiqh, beliau juga mahir dalam ilmu Hadits dan Akidah. Tentang keagungan Imam Syafi’i ini, DR. Wahhab al-Zuhaili menyatakan : “Imam Syafi’i adalah seorang mujtahid mustaqil muthlaq, imam dalam bidang fiqh dan hadits. Beliaulah yang mampu menggabungkan fiqh Ulama Hijaz (sekarang wilayah Makkah dan Madinah) dan fiqh Ulama Iraq. Imam Ahmad berkomentar, ”Imam Syafi’i adalah orang yang paling mengerti tentang kitab Allah dan sunah Rasulallah SAW” ….(seterusnya)….. Semua ulama ahli fiqh, ushul, hadits, ahli bahasa serta ulama yang lain telah sepakat bahwa Imam Syafi’i adalah seorang yang amanah, adil, zuhud, wara’, bertaqwa, pemurah, reputasinya baik dan mempunyai kedudukan yang mulia.” (Al-Fiqh wa Adillatuh, juz I, hal 36)

Inilah keistimewaan dari pendiri madzhab Syafi’i RA. Apa yang beliau rintis kemudian diteruskan oleh para pengikutnya, seperti Yusuf bin Yahya al-Buwaithi, Abu Ibrahim Isma’il bin Yahya al-Muzani, dan lainnya. Termasuk pengikut madzhab Syafi’i adalah Imam Bukhari. Syaikh Waliyullah al-Dahlawi menyebutkan dalam Al-Inshaf fi Bayani Asbab al-Ikhtilaf “Termasuk kelompok ini (pengikut madzhab Syafi’i) adalah Muhammad bin Isma’il al-Bukhari. Sesungguhnya beliau termasuk salah satu kelompok pengikut Imam Syafi’i. Di antara ulama yang mengatakan bahwa Imam Bukhari termasuk kelompok Syafi’iyyah adalah Syaikh Tajuddin al-Subki. Beliau mangatakan, ”Imam Bukhari itu belajar agama kepada Imam Syafi’i. Beliau juga berdalil tentang masuknya Imam Bukhari dalam kelompok Syafi’iyyah, sebab Imam Bukhari telah disebut dalam kitab Thabaqat Syafi’iyyah.” (Al-Inshaf fi Bayani Asbab l-Ikhtilaf, 76)

Keterangan yang sama diungkapkan oleh Syaikh Musthafa Muhammad Imarah “Dan Imam Bukhari itu belajar (mengikuti) madzhab Syafi’I RA.” (Jawahir al-Bhukhari, 10)

Apabila dianalogikan pada keahlian, maka Imam Bukhari pakar bahan baku, tetapi metode pengolahannya tetap mengikuti teori Imam Syafi’I RA. Sedangkan Imam Syafi’ RA, disamping ahli “bahan baku” beliau juga ahli mengolah “bahan baku” tersebut. Maka tidak heran, beliau itu menghasilkan produk hukum yang diikuti oleh umat Islam, termasuk juga para pakar Hadits.

MASALAH HADITS DHA’IF

Sebagai salah satu sumber hukum Islam, hadits berfungsi menjelaskan, mengukuhkan serta melengkapi firman Allah SWT yang terdapat dalam al-Qur’an. Di antara berbagai macam hadits itu, ada istilah Hadits Dha’if. Dalam pengamalannya, terjadi silang pendapat diantara ulama. Sebagian kalangan ada yang tidak membenarkan untuk mengamalkan Hadits Dha’if. Bahkan ada yang mengatakan bahwa hadits tersebut bukan dari Nabi Muhammad SAW.

Secara umum hadits dibagi ke dalam tiga macam, yaitu:

1. Hadits Shahih yaitu hadits yang diriwayatkan oleh orang yang adil punya daya ingatan yang kuat, mempunyai sanad (mata rantai orang-orang yang meriwayatkan hadits) yang bersambung kepada Rasulullah SAW, tidak memiliki kekurangan serta tidak syadz (menyalahi aturan umum). Para ulama sepakat bahwa Hadits ini dapat dijadikan dalil., baik dalam masalah hukum, akidah dan lainnya.

2. Hadits Hasan yaitu hadits yang tingkatannya berada di bawah Hadits Shahih karena para periwayat hadits ini memiliki kualitas yang lebih rendah dari para perawi Hadits Shahih. Hadits ini dapat dijadikan sebagai dalil sebagaimana Hadits Shahih.

3. Hadits Dha’if, yakni hadits yang bukan Shahih dan juga bukan Hasan, karena diriwayatkan oleh orang –orang yang tidak memenuhi persyaratan sebagai perawi hadits, atau para perawinya tidak mencapai tingkatan sebagai perawi Hadits Hasan. Hadits Dha’if ini terbagi menjadi dua, yaitu:

a. Pertama, ada riwayat lain yang dapat menghilangkan ke-dha’ifan-nya. Hadits semacam ini disebut Hadits Hasan li Ghairi, sehingga dapat diamalkan serta boleh dijadikan dalil Syar’i.

b. Kedua, hadits yang tetap dalam ke-dha’ifan-nya. Hal ini terjadi karena tidak ada riwayat lain yang menguatkan, atau karena para perawi hadits yang lain itu termasuk orang yang dicurigai sebagai pendusta, tidak kuat hafalannya atau fasiq. Dalam kategori yang kedua ini, Para ulama mengatakan bahwa Hadits Dha’if hanya dapat diberlakukan dalam fadha’il al a’mal. Bahkan ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa telah terjadi ijma’ di kalangan ulama tentang kebolehan mengamalkan Hadits Dha’if jika berkaitan dengan fadha’il al a’mal ini. Sedangkan dalam masalah hukum, tafsir ayat al-Qur’an, serta akidah, maka apa yang termaktub dalam Hadits Dha’if tersebut tidak dapat dijadikan pedoman. Sebagaimana yang disitir oleh Sayyid ’Alawi al-Maliki dalam kitabnya Majmu’ Fatawi wa Rasa’il “Para ulama hadits dan lainnya sepakat bahwa Hadits Dha’if dapat dijadikan pedoman dalam masalah fadha’il al a’mal. Di antara ulama yang mengatakannya adalah Imam Ahmad bin Hambal, Ibn Mubarak, dua Sufyan, al-Anbari, serta ulama lainnya. (Bahkan) Ada yang menyatakan, bahwa mereka pernah berkata, “Apabila kami meriwayatkan (hadits) menyangkut perkara halal ataupun yang haram, maka kami akan berhati-hati. Tapi apabila kami meriwayatkan hadits tentang fadha’il al a’mal, maka kami melonggarkannya.” (Majmu Fatawi wa Rasa’il 251)

Bahkan Imam Ahmad mengatakan “Sesungguhnya hadits dha’if itu didahulukan dari pendapat seseorang.” (Majmu’ Fatawa wa Rasa’il, ,251)

Namun demikian, kebolehan ini harus memenuhi tiga syarat. Pertama, bukan hadits yang sangat dha’if. Karena itu, tidak boleh mengamalkan suatu hadits yang diriwayatkan orang yang sudah terkenal sebagai pendusta, fasiq, orang yang sudah terbiasa berbuat salah dan semacamnya. Kedua, masih berada di bawah naungan ketentuan umum serta kaidah-kaidah yang universal. Dengan kata lain, hadits tersebut tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah agama, tidak sampai menghalalkan yang haram dan tidak mengharamkan yanng halal. Ketiga, tidak berkeyakinan bahwa perbuatan tersebut berdasarkan hadits Dha’if, namun perbuatan itu dilaksanakan dalam rangka ihtiyath (berhati-hati dalam masalah agama).

Maka dapat kita ketahui, walaupun hadits Dha’if diragukan kebenarannya, tidak serta merta ditolak dan tidak dapat diamalkan. Dalam hal-hal tertentu masih diperkenankan mengamalkannya dengan syarat-syarat sebagaimana tersebut di atas.

Taqlid

Secara kodrati, manusia di dunia ini terbagi menjadi dua kelompok besar. Ada yang ’alim (pintar dan cerdas serta ahli dalam bidang tertentu) dan ada ’awam (yang kurang mengerti dan memahami tentang suatu permasalahan). Sudah tentu yang tidak paham butuh bantuan yang pintar. Di dalam literatur fiqh, hal itu dikenal dengan istilah Taqlid atau ittiba.

Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi mengidentifikasikan taqlid sebagai berikut ”Taqlid adalah mengikuti orang lain tanpa mengerti dalil yang digunakan atas keshahihan pendapat tersebut, walaupun mengetahui tentang keshahihan hujjah taqlid itu sendiri.” (Al-Lamadzhabiyyah Akhtharu Bid’ah al-syari’ah al-Islamiyyah, 69)

Taqlid itu hukumnya haram bagi seorang mujtahid dan wajib bagi orang yang bukan mujtahid. Imam al-Suyuthi mengatakan ”Kemudian, manusia itu ada yang menjadi mujtahid dan ada yang tidak. Bagi yang bukan mujtahid wajib bertaqlid secara mutlaq, baik ia seorang awam maupun yang alim. Berdasarkan firman Allah SWT (QS. Al-Anbiya’ 7), ”Bertanyalah kamu pada orang yang alim (dalam bidangnya) jika kalian tidak tahu.” (Al-Kawkab al-Sathi’ fi Nazhmi al-Jawami 492)

Dengan demikian, yang bertaqlid itu tidak hanya terbatas pada orang awam saja. Orang-orang alim yang sudah mengetaui dalilpun masih dalam katagori seorang muqallid. Selama belum sampai pada tingkatan mujtahid, mereka wajib bertaqlid, sebab pengetahuan mereka hanya sebatas dalil yang digunakan, tidak sampai kepada proses, metode dan seluk beluk dalam menentukan suatu hukum. Al –Allamah Thayyib bin Abi Bakr al-Hadhrami menegaskan “Orang alim yang tidak sampai pada tingkatan ijtihad, maka sebagaimana orang awam, mereka wajib ber-taqlid.(Mathlab al- Iqazh fi al-Kalam al-Syai’in min Ghurar al-Alfazh 87)

Jadi, tidak semua taqlid itu tercela. Yang tidak terpuji hanyalah taqlid buta (a’ma) yang menerima suatu pendapat mentah-mentah, tanpa mengerti dan berusaha untuk mengetahui dalilnya. Sedangkan taqlid-nya orang alim yang belum sampai pada tingkatan mujtahid adalah hal terpuji dan dianjurkan. Hal itu tentu lebih baik daripada memaksakan diri untuk berijtihad padahal tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya.

Taqlid sesuatu yang niscaya bagi setiap orang Islam. Setidak-tidaknya ketika awal melaksanakan bagian dari ajaran Islam. Seperti orang-orang yang bersedekah, di dalam shalat, mengangkat tangan ketika takbiratul ihram, dia tentu melakukannya walaupun masih belum meneliti dalilnya, apakah shahih ataukah tidak.

Jika di kemudian hari dia tahu argumetasinya, maka berarti dia telah keluar dari taqlid a’ma (taqlid buta) yang tercela itu. Namun demikian, dia tetap berstatus sebagai seorang muqallid, karena dia tidak tahu dalil-dalil tersebut secara detail. Setidaknya, dalam cara mengambil kesimpulan hukum, ia masih mengikuti metode dari imam mujtahid tertentu.

Taqlid itu sesungguhnya berlaku dalam berbagai persoalan di dalam kehidupan ini. Seorang dokter, misalnya, ketika memberikan resep obat kepada pasiennya, tentu dia mengambil dari apotik, bukan dari obat hasil temuannya sendiri. Dia cukup membeli produk perusahaan obat tertentu yang bonafit. Begitu juga seorang guru geografi, ketika menerangkan kepada murid-muridnya bahwa bumi itu bulat, di hanya mengikuti teori Galileo Galilei dan Thomas Copernicus, bukan dari hasil penelitian dia sendiri. Dan begitu seterusnya.

Kemudian, bagaimana dengan Imam Abu Dawud yang meriwayatkan ucapan Imam Ahmad bin Hanbal “Imam Ahmad berkata kepadaku, ”Janganlah kamu bertaqlid kepadaku, juga kepada Imam Malik, Imam Syafi’I, al-Awza’i, dan al-Tsauri. Tapi galilah dalil-dalil hukum itu sebagaimana yang mereka lakukan.” (Al-Qawl al-Mufid li al-Imam Muhammad bin Ali al-Syaukani 61)

Coba perhatikan dengan seksama, kepada siapa Imam Ahmad berbicara? Beliau menyampaikan ucapan itu kepada Abu Dawud pengarang kitab Sunan Abi Dawud yang memuat lima ribu dua ratus delapan puluh empat hadits lengkap dengan sanadnya. Tidak kepada masyarakat kebanyakan. Sehingga wajar, kalau imam mengatakan hal itu kepada Imam Abu Dawud, sebab ia telah memiliki kemampuan untuk berijtihad.

Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Syaikh Waliyullah al-Dahlawi ketika mengomentari pendapat ibn Hazm “Pendapat Ibn Hazm yang mengatakan bahwa taklid itu haram (dan seterusnya)…itu hanya berlaku bagi orang yang mempunyai kemampuan ijtihad walaupun hanya dalam satu masalah.” (Hujatullah al-Baligah, juz I hal443-444)

Membebani awam al-Muslimin (masyarakat kebanyakan) dengan ijtihad sendiri-sendiri, jelas memberatkan dan mustahil. Karena minat setiap seseorang pada bidang-bidang ilmu pengetahuan itu berbeda-beda. Sedangkan yang menekuni ilmu agama tidak banyak. Bagi yang tidak sempat mempelajari ilmu agama, ia harus bertanya dan mengikuti orang-orang yang paham tetang masalah agama.

Al-Qur’an sudah mengatakan agar ada sekelompok orang yang menekuni ilmu agama, tidak perlu semuanya. Sehingga mereka dapat memberikan fatwa kepada yang lainnya. Allah SWT berfirman:

“Tidak seharusnya semua orang mukmin berangkat ke medan perang. Mengapa tidak berangkat satu rombongan dari tiap-tiap golongan untuk mempelajari dengan mendalam ilmu agama agar mereka dapat memberikan peringatan (pelajaran) kepada kaumnya apabila mereka sudah kembali. Mudah-mudahan mereka waspada. (QS al-Taubah, 122)

Sahabat Nabi adalah orang-orang terpilih. Meskipun begitu, kualitas keilmuan mereka tidak sama, dan tidak semua menjadi mujtahid. Sebagian mereka menjadi mufti, sebagian yang lain mengikuti apa yang difatwakan sahabat yang lain. Dan Rasulullah mengutus beberapa sahabat ke berbagai daerah untuk menyebarkan agama Islam serta menyelesaikan permasalahan yang terjadi, baik dalam ibadat dan mu’amalat, sosial kemasyarakatan, menjelaskan halal haram dan semacamnya. Lalu penduduk di daerah itu mengikuti apa yang difatwakan para sahabat tersebut.

Kaitannya dengan ittiba, sebagian orang ada yang membedakan dengan taqlid. Namun sebenarnya tidak ada perbedaan dalam kedua kata itu. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Syaikh al Buthi ”Tidak ada perbedaan kalau perbuatan itu disebut dengan taqlid atau ittiba’. Sebab dua kata itu mempunyai arti yang sama. Dan tidak terbukti adnya perbedaan secara bahasa antara keduanya.” (Al-Lamazhabiyyah Akhtharu Bid’ah Tuhaddid al-Syari’ah al-Islamiyah,69)

Bahkan ittiba’ tidak selalu berarti baik. Tidak jarang di dalam al-Qur’an, ittiba’ ditujukan untuk sesuatu yang tidak terpuji, sebagaimana firman Allah ”Dan janganlah kamu mengikuti (ittiba’) langkah-langkah setan karena sesungguhnya dia merupakan musuh yang nyata bagi kalian.” (QS-al Baqarah, 168)

Hal tersebut berarti taqlid merupakan sunatullah (hukum alam) yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya atau diperjuangkan untuk dihapus. Namun demikian, bukan berarti umat Islam harus terperangkap pada taqlid buta, karena akan menggambarkan keterbelakangan serta rendahnya kualitas individu umat Islam. Itulah sebabnya ulama pesantren mencetak ulama yang mumpuni.

Talfiq

Dalam bertaqlid, umat Islam diberi kebebasan untuk memilih madzhab mana saja yang sesuai dengan hati nuraninya. Tapi kebebasan tersebut bukan tanpa kendali. Ada satu syarat, bahwa kebebasan ini jangan sampai terperangkap dalam talfiq. Karena mayoritas ulama tidak membenarkan adanya talfiq ini.

Secara bahasa, talfiq berarti melipat. Sedangkan yang dimaksud talfiq secara syar’i adalah mencampuradukkan pendapat seorang ulama dengan pendapat ulama yang lain, sehingga tidak seorang pun dari mereka membenarkan perbuatan yang dilakukan tersebut. Muhammad Amin al-Kurdi mengatakan “(Syarat kelima dari taqlid) adalah tidak talfiq, yaitu tidak mencampur antara dua pendapat dalam satu qadhiyah (masalah) baik sejak awal, pertengahan dan seterusnya, yanag nantinya, dari dua pendapat itu akan menimbulkan satu amaliyyah yang tidak pernah dikatakan orang yang berpendapat.” (Tanwir al-Qulub 397)

Jelasnya, talfiq adalah melakukan suatu perbuatan atas dasar hukum yang merupakan gabungan dua madzhab atau lebih. Contohnya sebagai berikut:

a. Seseorang berwudhu menurut madzhab Imam syafi’I dengan mengusap sebagian (kurang dari seperempat) kepala. Kemudian dia menyentuh kulit wanita ajnabiyyah (bukan mahramnya), dan langsung shalat dengan mengikuti madzhab Imam Hanafi yang mengatakan bahwa menyentuh wanita ajnabiyyah tidak membatalkan wudhu. Perbuatan ini disebut talfiq, karena menggabungkan pendapatnya Imam Syafi’i dan Imam Hanafi dalam masalah wudhu. Yang pada akhirnya, kedua imam tersebut sama-sama tidak mengakui bahwa gabungan itu merupakan pendapatnya. Imam Syafi’i membatalkan wudhu seseorang yang menyentuh kulit lain jenis. Sementara Imam Abu Hanifah tidak mengesahkan wudhu seseorang yang hanya mengusap sebagian kepala.

b. Seseorang berwudhu dengan mengusap sebagian kepala, atau tidak menggosok anggota wudhu karena mengikut madzhab Imam Syafi’i. Lalu ia menyentuh anjing, karena ikut madzhab Imam Malik yang mengatakan bahwa anjing adalah suci. Ketika dia shalat, maka kedua imam tersebut tentu sama-sama akan membatalkannya. Sebab, menurut Imam Malik wudhu itu harus dengan mengusap seluruh kepala dan juga dengan mengosok anggota wudhu. Wudhu ala Imam Syafi’i, menurut Imam Malik adalah tidak sah. Demikian juga, anjing menurut Imam Syafi’i termasuk najis mughallazhah (najis yang berat). Maka ketika menyentuh anjing lalu shalat, shalatnya tidak sah. Sebab kedua imam itu tidak menganggap sah shalat yang dilakukan itu

Talfiq semacam ini dilarang dalam agama. Sebagaimana yang disebut dalam kitab I’anah al-Thalibin Talfiq dalam satu masalah itu dilarang, seperti ikut pada Imam Malik dalam sucinya anjing dan ikut kepada Imam Syafi’I dalam bolehnya mengusap kepala untuk mengerjakan satu shalat.” (I’anah al-Thalibin, Juz I, hal 17)

Sedangkan tujuan pelarangan adalah agar tidak terjadi tatabbu al-rukhash (mencari yang gampang-gampang), tidak memanjakan umat Islam untuk mengambil yang ringan-ringan. Sehingga tidak akan timbul tala’ub (main-main) dalam hukum agama.

Untuk menghindari adanya talfiq yang dilarang ini, maka diperlukan adanya suatu penetapan hukum dengan memilih salah satu madzhab dari madzahibul arba’ah yang relevan dengan kondisi Indonesia. Misalnya, dalam persoalan shalat (mulai dari syarat, rukun dan batalnya) ikut madzhab Syafi’i. untuk masalah sosial kemasyarakatan mengikuti madzhab Hanafi. Sebab, diakui atau tidak bahwa kondisi Indonesia mempunyai ciri khas tersendiri. Tuntutan kemaslahatan yang ada berbeda dari satu tempat dengan tempat yang lain. Dengan begitu. Insya Allah hukum akan ditaati oleh pemeluknya. Tidak hanya tertera di atas tulisan semata.

Persoalan Bid’ah

Akhir-akhir ini, begitu gencar tudingan bid’ah pada seseorang atau kelompok tertentu. Yang satu menyatakan bahwa kelompok yang tidak sepaham dengannya melakukan bid’ah, sehingga mereka tersesat dan ‘berhak’ masuk neraka. Sementara yang lain juga menuding kelompok lain mengembangkan bid’ah. Saling tuding seperti inilah yang kemudian menyebabkan perpecahan dikalangan umat Islam.

Mernurut al-Imam Abu Muhammad ‘Izzudin in Abdisalam, “Bid’ah adalah mengerjakan sesuatu yang tidak dikenal (terjadi) pada masa Rasulallah SAW.” (Qawa’id al Ahkam fi Mushalih al-Anam, Juz II, hal 172)

Sebagian besar ulama membagi Bid’ah menjadi lima bagian:

1. Bid’ah Wajibah, yakni bid’ah yang dilakukan untuk mewujudkan hal-hal yang diwajibkan oleh syara seperti mempelajari ilmu Nahwu, Sharaf, Balaghah dan lain-lain. Sebab, hanya dengan ilmu-ilmu inilah seseorang dapat memahami al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW secara sempurna.

2. Bid’ah Muharramah, yakni bid’ah yang bertentangan dengan syara’ seperti madzhab Jabariyyah dan Murji’ah.

3. Bid’ah Mandubah, yakni segala sesuatu yang baik, tapi tidak dilakukan pada masa Rasulullah SAW misalnya shalat tarawih secara berjamaah, mendirikan madrasah dan pesantren.

4. Bid’ah makruhah, seperti menghiasi masjid dengan hiasan yang berlebihan.

5. Bid’ah mubahah, seperti berjabat tangan setelah shalat dan makan makanan yang lezat. (Qawa’id al-Ahkam fi Mashalih al- Anam, juz I hal, 173)

Maka tidak heran jika sejak dahulu para ulama telah membagi bid’ah menjadi dua bagian besar. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Syafi’i RA yang dikutip dalam kitab Fath al-Bari, ”Sesungguhnya yang diada-adakan itu ada dua macam. (Pertama), sesuatu yang baru itu menyalahi al-Qur’an, Sunnah Nabi SAW, Atsar sahabat atau Ijma’ ulama. Ini disebut dengan bid’ah dhalal (sesat). Dan (kedua, jika)sesuatu yang baru tersebut termasuk kebajikan yang tidak menyalahi sedikitpun dari hal itu (al-Qur’an, al-Sunnah dan Ijma). Maka perbuatan tersebut tergolong perbuatan baru yang tidak dicela.” (Fath al-Bari, Juz xvII, hal.10)

Syaikh Nabil Husaini menjelaskan, ”Para ahli ilmu telah membahas persoalan ini kemudian membaginya menjadi dua bagian. Yakni bid’ah haanah dan bid’ah dhalalah. Yang dimaksud bid’ah hasanah adalah perbuatan yang sesuai dengan kitab Allah SWT dan Sunnah Rasulullah SAW. Keberadaan bid’ah hasanah ini masuk dalam bingkai sabda Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, ”Siapa saja yang membuat sunnah yang baik (sunnah hasanah) dalam agama Islam, maka ia akan mendapatkan pahala dari perbuatan tersebut serta pahala dari orang-orang yang mengamalkannya setelah itu, tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka. Dan barang siapa yang merintis sunnah jelek (sunnah sayyi’ah), maka ia akan mendapatkan dosa dari perbuatan itu dan dosa orang-orang setelahnya yang meniru perbuatan tersebut, tanpa mengurangi sedikitpun dosa-dosa mereka”. Dan juga berdasarkan Hadits shahih yang mauquf, yakni ucapan Abdullah bin Mas’ud RA, ”Setiap sesuatu yang dianggap baik oleh semua muslim, maka perbuatan tersebut baik menurut Allah SWT, dan semua perkara yang dianggap buruk orang-orang Islam, maka menurut Allah SWT perbuatan itu juga buruk.” Hadits ini dishahihkan oleh Hafidh Ibn Hajar dalam al-Amali.” (al-Bid’ah al-Hasanah, wa Ashula min al-Kitab wa al-Sunnah, 28)

Dari sini dapat diketahui bahwa bid’ah terbagi menjadi dua, yaitu:

1. Bid’ah hasanah,

Bid’ah yang tidak dilarang oleh agama karena mengandung unsur yang baik dan tidak bertentangan dengan ajaran agama. Masuk dalam kategori ini adalah bid’ah wajibah, mandubah, dan mubahah. Dalam konteks inilah perkataan Sayyidina ’Umar bin Khattab RA tentang jama’ah shalat tarawih yang beliau laksanakan, ”Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini (yakni sahalat tarawih dengan berjamaah).” (Al-Muwaththa’ 231)

Contoh, bid’ah hasanah adalah khutbah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, membuka suatu acara dimulai dengan membaca basmalah di bawah seorang komando, memberi nama pengajian dengan istilah kuliah shubuh, pengajian ahad pagi atau titian senja, menambah bacaan subhanahu wa ta ’ala (yang diringkas dengan SWT) setiap ada kalimat Allah, dan shallahu ’alaihi wasalam yang diringkas dengan SAW) setiap ada kata Muhammad. Serta perbuatan lainnya yang belum pernah ada pada masa Rasulallah SAW, namun tidak bertentangan dengan inti ajaran Islam.

2. Bid’ah sayyi’ah (dhalallah)

Bid’ah yang mengandung unsur negatif dan dapat merusak ajaran dan norma agama Islam. Bid’ah muharramah dan makruhah dapat digolongkan pada bagian yang kedua ini. Inilah yang dimaksud oleh sabda Nabi Muhammad SAW, ”Dari A’isyah RA, ia berkata, ”Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, ”Barang siapa yang melakukan suatu perbuatan yang tiada perintah kami atasnya, maka amal itu ditolak”. (Shahih Muslim, 243)

Dengan adanya pembagian ini, dapat disimpulkan bahwa tidak semua bid’ah itu dilarang dalam agama. Sebab yang tidak diperkenankan adalah perbuatan yang dikahawatirkan akan menghancurkan sendi-sendi agama Islam. Sedangkan amaliyah yang akan menambah syiar dan daya tarik agama Islam tidak dilarang. Bahkan untuk saat ini, sudah waktunya umat Islam lebih kreatif untuk menjawab berbagai persoalan dan tantangan zaman yang makin kompleks, sehingga agama Islam akan selalu relevan di setiap waktu dan tempat (shalih li kulli zaman wa makan).

Hadits tentang Semua Bid’ah adalah Sesat

Untuk memahami al-Quran ataupun hadits, tidak bisa hanya dilihat secara parsial atau hanya melihat arti lahiriah sebuah teks. Ada banyak hal yang harus diperhatikan ketika membaca serta menafsirkan al-Qur’an atau al-Hadits. Misalnya kondisi masyarakat ketika ayat tersebut diturunkan. Termasuk pula meneliti teks tersebut dari aspek kebahasaannya, yakni dengan perangkat Ilmu Nahwu, Sharaf, Balagah, Mantiq , dan sebagainya.

Hadits yang sering dijadikan dasar pelarangan semua bid’ah itu adalah “Dari Abdulah bin Mas’ud, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, ”Ingatlah, berhati-hatilah kalian, jangan sampai membuat hal-hal yang baru (yang bertentangan dengan syara’). Karena perbuatan yang paling jelek adalah membuat-buat hal baru dalam masalah agama. Dan setiap perbuatan yang baru dibuat itu adalah bid’ah. Dan sesungguhnya semua bid’ah itu adalah sesat. (…………….wa kullu mukhdatsati bid’atun wa kullu bid’atin thalalatun).(Sunan Ibn Majah 45)

Dalam hal ini, Nabi SAW menggunakan kata kullu, yang secara tekstual diartikan seluruh atau semua. Sebenarnya, kata kullu tidak selamanya berarti keseluruhan atau semua. Namun, adakalanya berarti sebagian, seperti firman Allah SWT, ”Dan kami jadikan segala sesuatu yang hidup itu dari air. (wa ja’alnaa minal maai kulla syay in haiyyin).” (Qs. Al-Anbiya, 30)

Walaupun ayat ini mengunakan kata kullu, namun tidak berarti semua benda yang ada di dunia ini diciptakan dari air. Buktinya adalah fiman Allah SWT, ”Dan Allah SWT menciptakan jin dari percikan api yang menyala.” (Qs. Al-Rahman, 15)

Contoh lain adalah firman Allah SWT :

Karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap perahu. (wa kaa na wa raa a hum malikun ya’ khudu kulla safiinatin ghosban)” (Qs. Al-Kahfi,79)

Ayat ini menjelaskan bahwa di hadapan Nabi Musa AS dan Nabi Khidir AS ada seorang raja lalim yang suka merampas perahu yang bagus. Sedangkan perahu yang jelek tidak diambil. Buktinya perahu yang ditumpangi kedua hamba pilihan itu dirusak oleh Nabi Khidir AS supaya tidak diambil oleh raja yang lalim tersebut. Kalau semua perahu dirampas, tentu Nabi Khidir AS tidak akan merusak bagian tertentu dari perahu yang mereka tumpangi. Hal ini juga menunjukkan bahwa tidak semua perahu dirampas oleh raja tersebut. Juga menjadi petunjuk bahwa kullu pada ayat itu tidak dapat diartikan keseluruhan, tetapi berarti sebagian saja, yakni perahu-perahu yang bagus saja yang dirampas.

Maka demikian pula dengan hadits tentang bid’ah itu. Walaupun menggunakan kata kullu, bukan berarti seluruh bid’ah dilarang. Karena yang terlarang adalah sebagian bid’ah saja, tidak semuanya. Ini bisa dibuktikan, karena ternyata para sahabat juga banyak melaksanakan perbuatan serta membuat kebijakan yang tidak pernah ada pada waktu Rasulullah SAW masih hidup. Misalnya usaha untuk membukukan al-Qur’an, menambah jumlah adzan menjadi dua kali pada hari Jum’at, shalat tarawih secara berjamaah, dan masih banyak lagi hasil ijtihad para sahabat yang ternyata tidak pernah ada pada masa Rasulullah SAW.

Nah, kalu kullu pada hadits itu diartikan keseluruhan, yang berarti semua bid’ah dilarang, berarti para sahabat telah melakukan dosa secara kolektif (bersama). Padahal, sejarah telah membuktikan bahwa mereka adalah orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, mengerjakan yang diperintah dan manjauhi segala larangan Allah SWT dan RasulNya. Bahkan diantara mereka sudah dijamin sebagai penghuni surga. Maka tidak mungkin kalau para sahabat Nabi SAW tidak mengetahui, apalagi tidak mengindahkan larangan dalam hadits itu.

Ini sebagai bukti nyata bahwa kata kullu yang ada pada hadits itu berarti sebagian, bukan keseluruhan. Karena itu tidak semua bid’ah dilarang. Yang dilarang adalah bid’ah yang secara nyata akan merusak ajaran agama Islam.

D. CIRI-CIRI TASAWUF ASWAJA

Seorang hamba diharuskan pula untuk mempraktikkan adab (etika dan sopan santun) yang sesuai dengan sikap penghambaannya di hadapan Tuhannya. Etika itu merupakan akhlak yang dipraktikkan Rasulullah SAW kepada Allah SWT dan kepada sesama mahluk. Aspek ini disebut dengan Ihsan. Penelitian terhadap dimensi Ihsan inilah yang akhirnya melahirkan ilmu tashawwuf atau ilmu akhlaq.

Tasawuf atau sufisme ini menjunjung nilai-nilai kerohanian dan adab sebagai ruh dalam ibadah. Orang yang mempelajari tasawuf disebut sebagai sufí.

Dalam hal tasawuf, Paham Ahlussunnah WalJamaah mengikuti tasawuf yang diajarkan oleh Imam Junaid, Imam Ghazali, dan Imam Qusyairi, terutama Imam Ghazali. Pada intinya, konsep tasawuf yang dihadirkan para sufí sunni ini berusaha menyampaikan bahwa ilmu tidak akan dinamakan tasawuf apabila ia tidak dibingkai dalam ajaran syariat islam.

Tasawuf ini seringkali diartikan sebagai ilmu mengenai tahapan-tahapan menuju puncak pengenalan diri terhadap Allah SWT. Tahapan-tahapan itu terbagi dalam bagian Thariqoh, Hakikat, dan Ma’rifat. Tasawuf sendiri merupakan ajaran akhlaq yang didasarkan pada akhlaqnya Nabi Muhammad SAW. Diantara sikap batin yang menonjol dibahas dalam tasawuf diantaranya mengenai sikap ikhlas, istiqomah, zuhud dan Wara’.

Thariqoh sebagai jalan awal menuju Ma’rifatu Allah yang merupakan bagian dari ilmu tasawuf telah diajarkan Nabi Muhammad SAW melalui sahabatnya seperti Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw. dan Sayyidina Abu Bakar Ash-shiddiq. Diantara thoriqoh mu’tabaroh (sah) dan musalsal (bersilsilah ilmu hingga ke Nabi Muhammad) diantaranya Thoriqoh Qadiriyah yang didirikan Syekh Abdul Qodir Al-Jailaniy, Thoriqoh Syadziliyah yang didirikan Syekh Abul Hasan Ali Assadzili, thoriqoh Naqsabandiyah yang didirikan Syekh Muhammad Bahaudin An-Naqsabandiy, dan thoriqoh Tijaniyah yang didirikan Syekh At-Tijaniy. Menurut Habib Luthfi bin Yahya, Mursyid Thariqoh di Indonesia, Thoriqoh yang mu’tabaroh di Indonesia tercatat sekitar 48 macam.

Mengenai hakikat, telah dijelaskan oleh Imam Al-Qusyairi bahwa hakikat ialah penyaksian atas rahasia ke-Tuhan-an, semua bentuk ibadah atau syariat tidak akan mengena jika tidak mengenal intinya (hakikat). Syariat untuk mengetahui kewajiban suatu perintah dan larangan bermaksiat sementara hakikat untuk mengetahui makna inti, keputusan Allah, dan rahasia yang ada di dalamnya.

Kondisi saat berkembangnya Ilmu Tasawuf yang mulai dituliskan dan dimulai sekitar abad ke-3 H yang memperkenalkan konsep Ittihad (penyatuan), Hulul (leburnya substansi manusia ke dalam substansi Ilahi), dan Wahdatul Wujud (penyatuan wujud), serta Wahdatul Muthalaqah (penyatuan mutlak), dalam pengertian ma’rifat itu ditolak oleh Imam Abul Hasan Al-Asy’ari karena dianggap tidak sesuai. Sikap Imam Asy’ari itu didukung dan berusaha diluruskan oleh para tokoh tasawuf sunni, diantaranya Imam Ghazali, dan Imam Qusyairi. Menurut mereka, tasawuf merupakan upaya sungguh-sungguh dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah sedekat mungkin, melalui sikap zuhud (sikap menjauhi cinta dunia), ketekunan ibadah (al-Nusuk) dan latihan rohani (al-riyadhoh al-nafs), meskipun harus diakui bahwa ada dua alam yakni alam dhohir yang dicapai melalui panca indera dan alam batin yang dicapai dengan sarana emanasi (pancaran rohani) dan ilham, tetapi hal itu bukanlah melalui proses ittihad, hulul, atau wahdatul wujud, melainkan melalui proses mukasyafah dan musyahadah (terbukanya tirai- hijab ghoib dan terbukanya kemampuan untuk melihat keagungan Ilahiyah) yakni suatu jenis pengetahuan perasaan tertentu yang dimiliki orang-orang yang sudah mampu melepaskan dirinya dari pengaruh duniawi atau godaan materi dan mampu berperilaku yang mencitrakan sifat-sifat terpuji. (Ma’rifat Dzauqiyah).

Meskipun konsep pemikiran para sufí falsafi seperti Dzun Nun Al-Mishri, Abu Yazid Al-Bustami, Muhyiddin Ibnu ‘Arabi, dan Ibnu Sab’in bahkan salah satu Sufi paling kontroversial, Husain bin Mansur Al-Hallaj (yang memperkenalkan istilah Ittihad, Wahdatul wujud, dsb) ditolak oleh kaum ASWAJA, namun pada bagian tertentu, seperti ilmu riyadhoh, hikmah, dan amaliyah yang diajarkan dan dilakukan oleh para sufí falsafi tersebut tetap dipelajari dan dilakukan oleh kaum ASWAJA dalam rangka menambah nilai-nilai tasawuf dalam bingkai nilai-nilai syariat islam.

Sumber Bacaan:

Fiqh Tradisional – Jawaban Pelbagai Persoalan Keagamaan Sehari-hari.

Ahlussunnah wal Jamaah dalam persepsi dan tradisi NU





IDEOLOGI TRANSNASIONAL MENJADI TANTANGAN IDEOLOGI ASWAJA

23 07 2008

MODUL

LATIHAN DASAR PEMANTAPAN

PAHAM AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH

( LDP ASWAJA )

Bagian 2

Materi 3

IDEOLOGI TRANSNASIONAL

MENJADI TANTANGAN IDEOLOGI ASWAJA

PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA (PSDM)

IKATAN MAHASISWA NAHDLIYYIN (IMAN)

SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA (STAN)

26-27 Juli 2007

MATERI 3

IDEOLOGI TRANSNASIONAL MENJADI TANTANGAN IDEOLOGI ASWAJA

a. IDEOLOGI TRANSNASIONAL

Ü IDEOLOGI KIRI (LIBERALISME)

Ü IDEOLOGI KANAN (FUNDAMENTALISME)

b. IDEOLOGI PERTENGAHAN – TAWASUTH

(AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH)

A. IDEOLOGI TRANSNASIONAL

Ideologi transnasional merujuk kepada pergerakan ideologi global yang melintasi batas-batas antar negara dan bangsa. Ideologi itu bukan hanya sebuah dakwah atau kampanye keyakinan melainkan juga gerakan politik untuk mempengaruhi sebuah kebijakan politik sebuah negara.

Dalam garis besarnya, Ideologi Transnasional terbagi menjadi dua haluan yaitu Ideologi Kiri (Liberalisme) dan Ideologi Kanan (Radikalisme/Fundamentalisme). Ancaman Liberalisme dan fundamentalisme bisa timbul dari agama apa pun dan dari mana pun. Ideologi ini mengancam eksistensi negara dan agama di Indonesia. Bangsa Indonesia sebenarnya sudah mempunyai jati diri bangsa, yaitu ideologi Pancasila. Karena itu, dalam konteks menghadapi ancaman dua arus besar ini, mestinya kita harus mempertegas Pancasila sebagai ideologi nasional dan Ahlussunnah Wal Jamaah yang menganut konsep Wasathiyah (pertengahan) sebagai ideologi agama Islam.

Tersebarnya ideologi liberalisme Barat sejak abad pertengahan dibarengi dengan model-model imperialisme di negara-negara Islam di Timur Tengah. Setelah sebelumnya liberalisme di Barat sendiri berhasil menaklukkan agama-agama di Barat. Kesuksesan ini diekspor ke negara-negara Timur Tengah sehingga Khilafah Islamiyah mulai dari Dinasti Umayyah, Abbasiyah hingga Turki Usmani tumbang satu per satu. Termasuk terjajahnya Indonesia oleh Belanda hingga mencapai 350 tahun. Sedangkan ancaman radikalisme dan fundamentalise ditandai dengan munculnya gerakan Islam ideologis di Timur Tengah yang merupakan reaksi dari liberalisme berbalut penjajahan ini.

Ü IDEOLOGI KIRI (LIBERALISME)

Sekarang, Liberalisme Barat mengancam agama khususnya Islam dan negara. Gerakan liberalisasi agama dapat dilihat dengan munculnya Islam Liberal. Kelompok ini dalam memahami Islam menggunakan pendekatan-pendekatan yang bebas sehingga tidak sesuai dengan paham Ahlussunnah wal jamaah. Paham liberal ini menempatkan akal di atas segalanya. Lebih lanjut, Islam Liberal ini menggunakan pendekatan hermeunetika yaitu yang berakar pada pemikiran filsafat dalam menafsirkan hukum agama. Islam memang membolehkan atau menerima filsafat tapi tidak dalam masalah-masalah yang telah ditentukan oleh teks. Hal ini didasarkan pada kaidah yang mengatakan jika ada nash naqliy(Al-quran) yang bertentangan dengan aqliy(akal) maka yang dimenangkan adalah naqliy karena wahyu kebenarannya absolut.

Islam Liberal di Indonesia sendiri kian mencuat setelah berdirinya organisasi Jaringan Islam Liberal (JIL) pada 21 Februari 2001 yang notabene dideklarasikan beberapa intelektual muda yang sudah sering kita dengar namanya.

Faktor pemicu lahirnya JIL, awalnya sebagai counter (penanding) terhadap gerakan Islam Radikal di Indonesia namun belakangan JIL membuat gaduh suasana lantaran telah melakukan kritik dan destruksi syariat. Mereka tak hanya mengotak-atik bidang muamalah namun telah berani merusak tatanan ranah ubudiyah dan Ilahiyah. Puncaknya ketika Ulil Abshor yang menulis artikel tertentu pada Harian Kompas 18 November 2002. Slogan JIL “Menuju Islam yang ramah, toleran, dan membebaskan” cepat tersebar lantaran jaringan yang dimilikinya, diantaranya lewat Kajian Utan Kayu, yang beredar melalui media cetak (tak kurang dari 51 koran) dan radio KBR 68 H

Sedangkan Liberalisasi sendiri juga mengancam sistem perekonomian Indonesia yang berlandaskan ekonomi kerakyatan, bahkan sudah mengancam kehidupan sosial-budaya. Tatanan kehidupan masyarakat Indonesia sudah mulai agak bergeser ke arah individualis.

Ideologi liberalisme-kapitalisme yang dikomandoi AS membuat dunia menjadi tidak aman. Perang, konflik, dan agitasi berlangsung tanpa henti. Afghanistan, Irak, dan Palestina, menjadi korban keganasan ideologi tersebut.

Ü IDEOLOGI KANAN (FUNDAMENTALISME)

Di sisi lain, Terdapat kelompok Islam fundamentalisme, radikalisme, ekstremisme. Kelompok ini mengusung adanya formalisasi syariat, terbentuknya pemerintahan Islam (Khilafah Islamiyah). Padahal untuk menerapkan syariat tidak perlu adanya sebuah negara Islam. Hal yang lebih utama adalah dakwah untuk mengembangkan nilai-nilai Islam dalam perilaku berbangsa dan bernegara. Hal ini tercermin dalam prinsip yang terkandung dalam Piagam Madinah pada zaman Rasulullah. Dalam piagam yang berisi 12 pasal tersebut, tidak ada satu pasal pun yang mengharuskan upaya pendirian negara Islam sehingga yang terpenting adalah isinya Islam bukan negara Islamnya. Hal yang terpenting adalah kita harus selalu mendorong tumbuh dan berkembangnya nilai-nilai Islam di Indonesia. Negara Islam tentu menjadi impian setiap muslim namun mengubah suatu negara menjadi negara Islam harus memperhatikan kehendak pemeluk agama lain. Tidak bisa umat muslim itu bersikeras dan memaksakan kehendak kepada pemeluk agama lain, karena tidak ada paksaan dalam beragama.

Cara kelompok Islam Radikal yang dikomandani oleh Usamah bin Laden itu juga dengan cara kekerasan dalam menghadapi Ideologi Liberalisme-kapitalisme yang dikomandani AS, seperti mengebom gereja, tempat-tempat wisata, tempat-tempat maksiat, sampai pada bom bunuh diri.

Menurut Yusuf Qordlowi, segala perilaku ekstrem ini disebabkan oleh beberapa hal. Antara lain, lemahnya pandangan terhadap hakikat agama, kecenderungan tekstual dalam memahami nash-nash, sibuk mempertentangkan hal-hal sampingan seraya melupakan problem-problem pokok, pemahaman keliru terhadap beberapa pengertian, serta mengikuti yang tersamar dan meninggalkan yang jelas (Islam Ekstrem, Yusuf Qordhowi, 1989:51-80).

Perilaku ekstrem itulah, yang melahirkan kelompok fundamentalis. Kelompok tersebut berpegang teguh kepada tradisi dan orisinalitas. Paradigma semacam itu tidak lepas dari kerangka berpikir mereka yang tekstualis, formalis, skripturalis, dan final.

Kita bisa melihat saat ini banyak bermunculan faham-faham keagaaman yang keras/radikal. Faham radikal itu melihat umat Islam yang tidak sepaham dengan mereka atau umat agama lain dengan mata kebencian. Peledakan Bom-Bom yang terjadi di Indonesia mulai dari Bom Bali, Bom kuningan, Bom di gereja adalah sebuah bukti yang nyata tentang radikalisme agama yang menyebabkan kerugian materi dan psikologi bagi bangsa Indonesia yang mereka sebut dengan jihad. Kelompok Radikal Islam telah benar-benar sampai di Indonesia. Selain itu, juga banyak terjadi aksi-aksi pengrusakan yang mengatasnamakan agama, mulai pengrusakan tempat hiburan, tempat ibadah,dsb. Lalu, polisi dianggap sebagai apa? Ada juga sebagian kelompok yang mengkafir-kafirkan kelompok lain, menyatakan sesat, dsb. Gerakan tersebut diyakini dapat mengancam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan berpotensi memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Semua itu adalah bibit-bibit perpecahan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semua contoh yang tersebut di atas hanyalah terjadi di kalangan intern umat Islam. Sesama umat Islam saja sudah saling membenci, lalu bagaimana dengan hubungan dengan umat non-Islam, di Indonesia, tentu saja lebih keras. Padahal mereka juga saudara kita walalupun bukan saudara seiman tapi saudara sebangsa. Ingat Satu Nusa, Satu bangsa, dan satu bahasa, Indonesia!

Munculnya faham dan gerakan radikal tersebut terjadi karena mereka mengklaim sebagai kelompok yang paling benar dan yang paling baik. Sementara kelompok lain merupakan kelompok yang tersesat. Dengan pandangan semacam ini maka umat Islam mudah terjerembab ke dalam jurang dogmatisme dan fanatisme yang sangat akut. Sehingga ujung-ujungnya efek yang ditimbulkan adalah menguatnya sikap tidak toleran dan anti keragaman dalam diri umat Islam. Selain merugikan umat Islam sendiri , sikap fanatisme dan dogmatisme yang cenderung eksklusif tersebut secara eksplisit telah mengingkari nilai-nilai fundamental Islam sendiri. Mengklaim diri benar merupakan tindakan yang sah-sah saja dalam kehidupan beragama, namun kalau semangat itu kemudian menjadikan kita tidak terbuka dan tidak toleran dengan pihak lain itu merupakan sebuah kesalahan yang sangat fatal. Justru kebenaran yang kita yakini tersebut harus kita teguhkan dengan bersikap terbuka pada pihak lain. Artinya kesediaan kita berbaur dengan yang lain adalah justru untuk meneguhkan keislaman kita.

B. IDEOLOGI PERTENGAHAN – TAWASUTH

(AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH)

Menurut KH. Yusuf Hasyim, ideologi transnasional baik dari Barat maupun Timur sama berbahaya. Sebab, liberalisme dari Barat maupun Islam ideologis dari Timur toh sama-sama merusak. Masuknya ideologi ini merusak tatanan kehidupan agama Islam di Indonesia dan bentuk negara Indonesia.

Moderatisme (wasathiyah) adalah paham yang selalu mencari jalan tengah dari dua kecenderungan, tidak condong (ekstrem) kanan dan kiri. Oleh karena itu wajar, apabila salah satu profesor di Jepang (Gus Mus, 2006) memprediksi, paham tradisional moderat di Indonesia akan menjadi mainstream ideologi dunia di tengah eskalasi dan masifikasi (meningkat dan bertambahnya) dua ideologi dunia yang sama-sama menyeramkan. Faham Aswaja menganut pola pikir jalan tengah, antara faham ekstrem ‘aql (rasional) dan ekstrem naql (skripturalis). Diwujudkan dengan pilihan sumber pemikiran bagi warga NU tidak hanya mengacu atas al-Qur’an dan Hadis saja, tapi ditambah kemampuan akal untuk mencerna permasalahan serta realitas yang terjadi secara empirik. Pandangan tersebut merujuk dari para pemikir terdahulu sebagaimana yang dikembangkan Abu Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi sebagai landasan teologis. Untuk bidang fikih, menganut mazhab empat, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hambal.

Moderatisme akan membawa orang pada watak yang fleksibel dan akomodatif, termasuk dengan budaya lokal. Salah satu doktrin yang relevan dalam hal itu adalah adah muhakkamah, yakni suatu tradisi yang berkembang di masyarakat menjadi landasan dan sumber penetapan hukum. Kaidah tersebut dalam praktisnya mengakui budaya lokal dan memberikan sinaran dan sentuhan keagamaan pada tradisi tersebut jika bertentangan dengan ajaran Islam. Dalam satu ritual budaya, ada nilai lokal budaya dan universalitas ajaran Islam yang sudah bersinergi dan terinternalisasi dalam budaya tersebut. Inilah Islam Ahlussunnah Wal Jamaah yang berkarakter Nusantara.

Dalam konteks itu, kaidah adah muhakkamah tersebut menjadi bukti kepedulian Islam terhadap pelestarian budaya leluhur dengan strategi islamisasi budaya. Bukan dengan penghapusan budaya lokal, dengan memunculkan budaya murni Arab atau arabisasi yang berpotensi besar ditolak warga setempat.

Salah satu aktor integrasi keislaman dan kebudayaan lokal tersebut adalah Sunan Kali Jaga yang menggunakan wayang setelah dirombak seperlunya, baik bentuk fisik wayang itu maupun lakonnya. Juga gamelan, yang dalam gabungannya dengan unsur-unsur upacara Islam populer menghasilkan tradisi Sekatenan di pusat-pusat kekuasaan Islam seperti Cirebon, Demak, Yogyakarta, dan Solo.

Sebagai sebuah kesimpulan, Ideologi Islam transnasional baik dari barat maupun timur yang sama-sama ekstrem,satunya ekstrem kanan dan yang satu ekstrem kiri adalah sebuah hal yang membahayakan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Dengan faham Islam Aswaja dan ideologi tengah, Islam akan terlihat sangat jauh dari kesan gerakan Islam garis keras, tapi lebih pada wajah gerakan Islam moderat, toleran dan inklusif. Dan Pancasila tidak bertentangan dengan hal itu, sehingga NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dengan Pancasila dan UUD 1945 adalah suatu hal yang sudah final.

Sikap Inklusif dan Keterbukaan dalam Islam

Secara historis sikap inklusifisme Islam ini dapat kita ketahui ketika Rosulullah SAW menciptakan piagam madinah (madinah charter). Piagam madinah bukan semata-mata hasil dari Islam, tapi merupakan hasil konsensus antara nabi dengan kelompok-kelompok lain yang ada pada waktu itu. Jadi meskipun nabi pada waktu itu mempunyai misi dakwah untuk menyebarkan Islam, namun nabi tidak kemudian mengklaim diri paling benar kemudian bersikap eksklusif dan memaksa kepada orang lain untuk masuk Islam, tapi beliau justru menghormati pihak-pihak lain yang berbeda dengan mengajaknya secara bersama-sama untuk membangun masarakat.

Semangat Keagamaan

KH Mustofa Bisri mengatakan semangat keagamaan yang radikal itu dapat dinetralisasi dengan pemahaman ilmu agama yang lebih mendalam dan luas. Banyak ajaran agama yang menawarkan kelembutan dan kedamaian. Terbatasnya pemahaman agama ini terjadi karena proses belajar agama yang tidak tuntas. Semangat keagamaan dapat harus diimbangi dengan keilmuan. Lebih lanjut, KH Mustofa Bisri mengatakan ajaran sufisme dan dakwah dengan pendekatan sufistik memberi peran besar dalam membangun kehidupan bersama yang plural. Jika para ahli fikih(hukum) cenderung menggunakan pendekatan legal-formal, para sufi mendekati persoalan dengan sudut pandang hati nurani. Bagi para sufi, semua manusia adalah makhluk Tuhan yang perlu dihargai dan tak perlu meributkan bentuk formal. Kita dapat melihat bagaimana Wali Songo berdakwah menyebarkan ajaran Islam di bumi Nusantara ini dengan toleransi yang tinggi. Para Wali Allah itu berdakwa dengan tidak langsung menjelekkan, menyesatkan, agama yang ada saat itu. Tetapi mulai berdakwah dengan damai, dengan memasukkan ajaran Islam dalam budaya mereka sepanjang budaya itu tidak menyalahi syariat Islam.

Akhirnya, toleran tidak hanya sebuah sikap bangsa Indonesia yang tercermin dalam Pancasila tetapi juga menjadi inti ajaran Islam dalam berdakwah. Marilah kita hargai perbedaan pendapat dan pemikiran. marilah kita bersatu, sebagai umat Islam dan sebagai Bangsa Indonesia dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Saat ini, akhir-akhir ini toleransi seakan-akan telah semakin memudar dalam kehidupan bangsa Indonesia khususnya kehidupan beragama. Katanya, bangsa ini adalah bangsa yang demokratis, toleran yang tercermin dalam sila kedua Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Kehidupan beragama khususnya agama Islam banyak sekali muncul pertentangan dan perdebatan yang sudah mengarah pada sikap saling menjatuhkan. Perbedaan boleh saja dan dipandang sebagai rahmat tapi janganlah dengan adanya perbedaan itu ukhuwah Islamiyah menjadi renggang.

Perbenturan peradaban (clash of civilizations) dalam istilah Samuel Huntington, sebenarnya adalah perbenturan ideologi-ideologi besar di dunia yang pada awalnya merupakan gerakan pemikiran yang kemudian diikuti dengan agenda aksi secara fisik.Terjadinya perbenturan ini adalah akibat buntunya dialog yang dibangun oleh berbagai ideologi sehingga perbedaan pemikiran berlanjut menjadi perbedaan lewat aksi kekerasan fisik.

Tersebarnya ideologi liberalisme Barat sejak abad pertengahan dibarengi dengan model-model imperialisme di negara-negara Islam di Timur Tengah. Setelah sebelumnya liberalisme di Barat sendiri berhasil menaklukkan agama-agama di Barat. Kesuksesan ini diekspor ke negara-negara Timur Tengah sehingga Khilafah Islamiyah mulai dari Dinasti Umayyah, Abbasiyah hingga Turki Usmani tumbang satu per satu. Termasuk terjajahnya Indonesia oleh Belanda hingga mencapai 350 tahun.

Muncul gerakan Islam ideologis di Timur Tengah, seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tharir, Majelis Mujahidin,Al- Qaeda,dan sebagainya adalah reaksi dari liberalisme berbalut penjajahan ini. Di Indonesia, zaman prakemerdekaan ditandai dengan munculnya organisasi nasionalisme seperti Budi Utomo, Serikat Dagang Islam,Muhammadiyah, dan NU serta lainnya, juga dalam rangka memperkuat nasionalisme kebangsaan mengusir penjajah waktu itu.

Namun, sekarang ini setelah negara-negara jajahan ini merdeka, ideologi itu terus disebarkan sehingga inilah yang membuat Samuel Hutington membuat suatu kesimpulan setelah Perang Dingin usai, akan terjadi perbenturan peradaban. Padahal,yang terjadi sebenarnya bukanlah perbenturan peradaban, tetapi perbenturan kepentingan hegemoni politik dan ekonomi.

NU berpikir, sekarang ini dunia perlu ideologi alternatif untuk menghindari perbenturan-perbenturan global yang akan menimbulkan korban sia-sia. NU menawarkan Islam moderat (tawassuth wal i’tidal) ahlussunna waljamaah. Pak Ud––panggilan akrab almarhum KH Yusuf Hasyim pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang putera Hadratus Syaikh Hasyim Hasyim’ari pendiri NU––sebelum meninggal berwasiat kepada NU lewat saya agar menghadang ideologi liberalisme dari Barat maupun ideologi radikalisme dan kekerasan dari Timur.

Menurut Pak Ud, ideologi transnasional baik dari Barat maupun Timur sama berbahaya.Sebab,liberalisme dari Barat maupun Islam ideologis dari Timur toh sama-sama merusak. Masuknya ideologi transnasional ke Indonesia dapat merusak tatanan NU dan Indonesia. Pemerintah harus menggunakan Pancasila sebagai ideologi yang membatasi masuknya ideologi transnasional. Sedangkan NU harus terus memperkuat pemahaman aswajanya ke seluruh struktur dan kultur di bawah NU. Kami sepakat dengan Pak Ud, kami berkeliling ke Barat dan Timur Tengah untuk mengampanyekan NU sebagai ideologi alternatif.

Kami dari NU adalah pemimpin Islam pertama di dunia yang datang ke “ground zero” di New York,AS (lokasi pengeboman WTC pada 9/11/2001) untuk menolak “kekerasan” dari Islam ideologis. Demikian juga kami datang ke Irak, Iran, dan Palestina untuk menolak “kekerasan”dari liberalisme ala Barat. Kita datang ke Timur Tengah dan melihat ternyata Irak, Iran, dan Palestina menjadi korban ideologi liberalisme Barat.Mereka diibaratkan sebagai binatang aduan seperti jangkrik. Mereka diadu domba intelijen asing agar penjajah dapat kemenangan secara gratis. NU datang ke sana dengan misi membuat perdamaian dan mendorong agar mereka bersatu.

Kami mengampanyekan kepada mereka Islam ala NU kepada dunia bahwa NU melihat Islam adalah agama, bukan ideologi, karena itu apa yang terjadi di Timur Tengah selama ini bukan Islam sebagai agama, tapi ideologi Islam. Dalam mengampanyekan NU sebagai ideologi alternatif,kami meneladani sikap yang telah dilakukan pendiri NU, Hadratusy Syaikh Hasyim As’ari dan KH Wahab Hasbullah. Mereka bertindak sebagai pengekspor ideologi,bukan pengimpor ideologi.

Pada intinya, peradaban dan agama suatu negara akan hancur dengan adanya paham liberalisme dan radikalisme. Keduanya tidak memberikan solusi jalan tengah (Tawasuth) pada Shirot Al-Mustaqim (jalan yang lurus –yang dibenarkan agama).

Referensi:

“Ideologi Transnasional tantangan baru Islam” artikel dari Majalah Risalah Nahdlatul Ulama

http://www.nu.or.id





Sahabat Nabi, Ahlul Bait, Ulama, Habib, dan Waliyullah

23 07 2008

MODUL

LATIHAN DASAR PEMANTAPAN

PAHAM AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH

( LDP ASWAJA )

Bagian 2

Materi 4

Sahabat Nabi, Ahlul Bait, Ulama, Habib,  dan Waliyullah, dalam pandangan Aswaja

PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA (PSDM)

IKATAN MAHASISWA NAHDLIYYIN (IMAN)

SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA (STAN)

26-27 Juli 2007

Materi 4

Sahabat Nabi, Ahlul Bait, Ulama, Habaib, dan Waliyullah dalam pandangan Aswaja

a. Mengenal Sahabat Nabi dan Keutamaannya

b. Mengenal Ahlul Bait dan keutamaannya

· Anjuran mencintai Ahlul Bait

· Larangan membenci dan menyakiti Ahlul Bait

· Keutamaan Ahlul Bait Rasulullah

c. Jalinan persaudaraan dan musibah perpecahan Sahabat dan Ahlul Bait Nabi menurut ASWAJA

d. Ulama dan Habaib sebagai penerus jalinan saudara Sahabat dan Ahlul Bait Nabi

· Ulama

· Habaib (Habib-habib) dan Bani Alawi (‘Alawiyin)

e. Penjelasan mengenai Waliyullah dan Karomahnya

A. MENGENAL SAHABAT NABI DAN KEUTAMAANNYA

Yang dimaksud dengan sahabat Nabi SAW, ialah orang-orang Islam yang pernah bertemu dengan Nabi SAW ketika beliau masih hidup. Disebutkan :

Sahabat adalah orang yang pernah bersama Nabi SAW dan kalangan umat Islam, atau pernah melihat beliau walaupun hanya sesaat. Dan mereka beriman kepada Nabi dan mereka mati tetap dalam keimanannya itu. (Al-Asdlib al-Badi’ah, 457)

Para sahabat adalah manusia yang mulia di sisi Allah SWT, karena mereka telah berjuang bersama Nabi SAW mengorbankan jiwa raga dan hartanya. Sejarah telah berbicara bahwa keimanan dan keislaman mereka begitu terpatri di dalam dada mereka, yang tak lapuk karena hujan dan tak lekang karena panas. Sebagai bukti, ribuan sahabat gugur sebagai syuhada’ semata-mata karena membela Nabi SAW. Karena itu pantas kalau Nabi SAW sangat mencintai mereka. Firman Allah SWT:

Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama beliau adalah keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang kepada sesama mereka”. (QS. al-Fath 29)

Begitu juga Allah SWT meridhai para sahabat Nabi SAW. Allah SWT berfirman :

Orang-orang yang terdahulu bagi yang pertama (masuk Islam) di antara Kaum Muhajirin dan Kaum Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada Allah”. (QS. Al-Taubah, 100)

Dan sahabat itu merupakan generasi terbaik. Nabi SAW bersabda :

“Dari sahabat Imran bin Hushain RA la berkata. “Nabi SAW bersabda, “Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya lalu generasi seterusnyanya”. (Shahih al­-Bukhiri 12457)

Ibn Hajar al-Haitami mengatakan :

Wahai kaum muslim yang memenuhi hatinya dengan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya wajib Atas kalian mencintai sahabat-sahabat nabimu Muhammad SAW.karena sesungguhnya Allah telah memberikan anugrah kepada mereka yang tidak pernah di berikan kepada lainnya….

Dan sebab nabi SAW sering memuji mereka serta beliau melarang mencela mereka”. (Tathhir al-janan wa al- lisan, 5)

Disebutkan juga dalam banyak hadits, bahwa Nabi SAW tak segan-segan memuji para sahabatnya. Beliau selalu memanggil para sahabatnya itu dengan sebutan paling baik dan mereka sukai. Maka tidak heran jika semua sahabat merasa dirinya paling dekat kepada. Nabi SAW. Misalnya pujian Nabi SAW pada sahabat Abu Bakar RA. Nabi SAW bersabda :

Dari Ibn ‘Abbas RA, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Jika aku bisa menjadikan (seseorang) kekasih niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih. Akan tetapi Abu Bakar adalah saudara dan sahabatku”. (Shahih al-Bukhiri, [3383])

Dan pujian Nabi SAW kepada sahabat Umar bin al­ Khathtab RA. Nabi SAW bersabda :

”Dari Sa’ad bin Abi Waqqash, Rasalullah SAW bersabda, koyakanlah wahai putra al-Khattab (umar) demi Dzat yang menguasai diriku, setan tidak akan satu jalan, kecuali dia melewati jalan yang lain yang tidak kamu lalui”. (Shahih al-Bukhiri, 134071)

Pujian Nabi SAW kepada Sayyidina ‘Utsman RA. Rasulullah SAW bersabda :

“Dari ‘Atha’, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Tidakkah aku malu kepada orang laki-laki yang malaikat juga malu kepadanya (yakni sahabat ‘Utsman RA)”. (Shahih Muslim [4414])

Dan pujian Rasulullah SAW kepada Sayyidina Ali RA, Nabi SAW bersabda :

“Dari Salamah bin al-Akwa RasuIuIlah SAW bersabda, “sungguh aku akan berikan bendera ini kepada seorang laki-laki (Ali bin Abi Thalib) yakni (Ali bin Abi Thalib) yang kelak Allah akan membuka kedua tangannya, dia mencintai dan dicintai Allah dan Rasulnya”.(Shahih al-Bukhiri[2753])

Begitu mesranya Rasulullah SAW dengan para sahabatnya. Maka, sudah sewajarnyalah kita meneladani akhlaq dan perilaku Rasulullah SAW tersebut, yaitu mencintai dan menghormati para sahabatnya.

Karena itu, kita dilarang membenci apalagi menghina mereka. Nabi Muhammad SAW bersabda :

“Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian mencaci para sahabat, janganlah kalian mencaci sahabat-saliabatku !. Demi Dzat Yang Menguasai kita, andaikata salah satu di antara kalian menafkahkan emas sebesar gunung Uhud, maka (pahala nafkah itu) tidak akan menyamai (pahala) satu mud atau setengahnya dari (nafkah) mereka”. (Shahih Muslim [4610])

Mengukuhkan sabda Nabi SAW tersebut, Syarif al ­Radhi al-Musawi meriwayatkan ucapan Sayyidina jika terhadap para penghujat sahabat Nabi SAW :

“Sesungguhnya aku tidak senang bila kamu menjadi orang yang suka mencaci maki (para sahabat)”. (Nahj al-Baldghah, 323)

Lebih tegas lagi Sayyidina Ali RA. berkata kepada para sahabatnya :

“Aku berwasiat kepadamu tentang sahabat Rasul SAW. Janganlah kalian menacaci mereka. Karena mereka adalah sahabat Nabi SAW, yang tidak berbuat bid’ah sama sekali dalam agama dan tidak pula menghormati ahli bid’ah. Memang demikianlah Rasul SAW berwasiat kepadaku tentang mereka”. (Hayah al-QuIfib Ii al­Majlisi, juz II, hal 621)

Bagi orang yang benar-benar mencintai Sayyidina Ali RA, tentu akan mematuhi apa yang menjadi ajaran beliau, karena tanda orang yang cinta itu adalah setia, sesuai dengan perkataan Imam Syafi’i RA :

Manakala cinta kau itu tulus, tentu engkau akan mematuhi
(orang yang dicintai) Karena orang yang cinta akan selalu patuh
pada yang dicintainya nya (Diwan al-Imam al-Syif i’i, 58)

Mencintai Nabi SAW berarti mencintai keluarga dan sahabatnya dan mencintai keluarga dan sahabat Nabi merupakan wujud kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.

B. MENGENAL AHLUL BAIT (KELUARGA NABI) DAN KEUTAMAANNYA

Keluarga Nabi Muhammad SAW dikenal dengan sebutan Ahlu al-Bait. Mereka adalah orang-orang yang disucikan oleh Allah SWT. Sebagaimana dalam firman-Nya :

“Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa dari kalian wahai ahlul bait (keluarga Nabi Muhammad SAW) dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya“. (QS. al-Ahzab, 33)

Keluarga Nabi Muhammad SAW adalah ahlul kisa dan istri‑istri beliau beserta segenap keturunannya. Dalam sebuah hadits disebutkan :

Dari Ummi Salamah RA, “Setelah turun ayat (QS. al-Ahzab 33) Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa kamu wahai ahli baik (anggota keluarga Rasulullah). Dan dia hendak membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. Maka Rasulullah SAW menutupkan kain kissa’nya (surbannya)di atas Ali, Fathimah, Hasan dan Husain, seraya berkata,”Ya Allah mereka adalah ahli baitku, maka hapuskanlah dosa dri mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya”. (Sunan al-Tirmidzi, [2139])

Dalam hadits yang lain dijelaskan :

“Dari Zaid bin Arqam ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Ahli baitku, aku ingatkan kamu sekalian tentang ahli baitku”. Kemudian sahabat Hushain berkata pada Zaid, “Siapakah ahlu bait Nabi hai Zaid? Apakah istri-istrinya juga termasuk ahli bait?” Maka dijawab bahwa istri-istrinya juga termasuk ahli bait. Ahli bait adalah orang-orang yang haram menerima sedekah. Hushain bertanya lagi, “Siapakah mereka itu ? Lalu djJawab bahwa mereka itu adalah keluarga Ali, keluarga ‘Aqil, keluarga Ja’far dan keluarga ‘Abbas”. (Shahih Muslim 14425))

Termasuk keluarga Nabi SAW adalah semua keturunan beliau. Dalam hadits yang lain dijelaskan :

“Dari beberapa dalil itu dapat disimpulkan bahwa fathimah, ‘Ali, Hasan dan Husain RA termasuk keluarga Nabi SAW. Mereka semua termasuk Ahli Kisa’ yang disebutkan dalam hadits. Sedangkan istri-istri Nabi merupakan keluarga Nabi berdasarkan keumuman ayat al-Qur’an, serta manthuq (arti tersurat) hadits yang menerangkan tentang anjuran membaca shalawat kepada Nabi SAW, istri dan keluarga beliau”. (‘Allmui Awladakum Mahabbata Ali Bait al-Nabi, 18)

Syamsudin bin Muhammad al-sakhawi mengatakan :

“Imam Ahmad mengatakan bahwa yang dimaksud dengan keluarga Nabi Muhammad SAW di dalam hadits (tentang) tasyahud adalah keluarga dalam rumah beliau. Atas dasar inilah, apakah boleh kata ahl itu menjadi ganti dari kata alu? Ada dua riwayat. Sebagian mengatakan bahwa yang dimaksud dengan keluarga nabi Muhammad SAW adalah istri-istri dan anak cucu beliau. Sebab kebanyakan hadits yang menggunakan redaksi wa ali Muhammad. (Bahkan) ada hadits riwayat A Humaid dengan redaksi Wa azwajuh wa dzurriyatuh (istri dan keturunan Nabi SAW). Hal ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan keluarga Nabi adalah para istri dan anak cucu beliau”. (Al-Qawl al-Badi’ fi al-Shalah ala al-Habib al-Syafi’, 81)

Penegasan bahwa istri Nabi SAW itu adalah keluarga beliau disebutkan dalam al-Qur’an :

“Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dari pada diri mereka sendiri. Dan istri-istrinya adalah ibu mereka”. (Al-Ahzab, 6)

Dengan demikian, keluarga Nabi Muhammad SAW adalah istri-istri beliau yang kemudian dikenal dengan ummu al-mu’minin dan keturunan Sayyidina Fatimah RA.

· ANJURAN MENCINTAI AHLUL BAIT

Dan Nabi SAW sendiri memerintahkan kita umat Islam untuk menghormati dan memuliakan keluarga beliau. Dalam salah satu hadits, Nabi SAW bersabda :

“Dari Abi Said al-Khudri berkata, “Rasulullah bersabda, “sesungguhnya kau tinggalkan untuk kalian dua wasiat, Kitabullah (al-Qur’an) dan keluargaku”. (Sunan al-Tirmidzi, [3720])

Oleh sebab itulah, sangat wajar jika kita sebagai umat Nabi SAW’ harus menjaga dua warisan tersebut. Yakni mencintai dan menghormati mereka. Sehingga umat Islam tidak diperkenankan menyakiti apalagi mencacinya. Nabi SAW bersabda :

“Diriwayatkan dari Abi Said al-Khudri RA beliau berkata, “Rasulullah SAW pernah bersabda, “Demi Dzat Yang Menguasai diriku, tidaklah seseorang marah (mencaci dan membenci) kepada keluargaku kecuali Allah akan menceburkannya ke dalam neraka (HR. Al-Hakim).

Maka menjadi satu keharusan bagi umat Islam untuk mencintai keluarga Nabi Muhammad SAW. Apalagi itu diteladankan oleh ulama dan para kekasih Allah SWT. Disebutkan dalam Syarh aqidah Al-Awam:

“Sudah menjadi tradisi para ulama yang mengamalkan ilmunya dan para kekasih Allah SWT yang shalih untuk selalu mencintai keluarga Nabi”. (Mujaz al-Kalam Syarh Manzhumah’ Aqidah al-‘Awam, 163)

· LARANGAN MEMBENCI DAN MENYAKITI AHLUL BAIT

Banyak sekali ayat Al – Qur’an dan hadits tentang larangan membenci ahlu bait Rasulullah saw. dan menyakiti mereka. Oleh sebab itu, setiap muslim yang ingin menyelamatkan imannya hendaklah berhati-hati, jangan sampai membenci salah seorang dari ahlu bait Rasulullah saw. Sebab dapat membahayakan ia dan kehidupannya di akhirat, dan termasuk orang yang menyusahkan beliau.

Para ulama menyebutkan hadits–hadits yang menerangkan, bahwa orang yang menyakiti ahlu bait berarti menyakiti Nabi saw, dan barang siapa yang menyakiti Nabi saw, maka sama dengan menyakiti Allah SWT, dan ia berhak mendapat murka, siksaan dan masuk dalam ancaman Allah sebagaimana dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan mela’natinya di dunia dan diakhirat. Dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.”(QS. Al-Ahzab:57)

Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah.” (QS. Al – Ahzab:53)

Di dalam hadits disebutkan :

“Sesungguhnya nabi SAW telah bersabda sedangkan beliau di atas mimbar,” Apa keadaan kaum yang menyakiti aku dalam nasab dan kerabatku, ingat, barang siapa yang menyakiti keturunanku dan orang – orang yang mempunyai hubungan denganku, berarti ia menyakiti aku, dan barang siapa menyakiti aku, maka ia benar-benar menyakiti Allah ta’ala,” (HR. At – Thobroni dan AL – Baihaqi)

“Sesungguhnya saya memerangi orang-orang yang memerangi ahli bait saya, dan saya memberi jaminan selamat kepada orang-orang yang berdamai dengan ahli bait saya.” (HR At- Turmudzi , Ibnu Majah dan AL – Hakim)

“Sesungguhnya Allah melarang masuk surga terhadap orang yang menganiaya ahli baitku, atau orang yang memerangi mereka, atau orang yang membantu orang yang memerangi mereka atau orang yang memaki-maki mereka.” (HR. Imam Alunad).

Sesungguhnya Nabi saw. Bersabda:” Andaikata seorang laki – laki antara hajar aswad dan maqam Ibrahim melakukan sholat dan puasa, kemudian meninggal dunia sedangkan ia membenci ahli bait Muhammad saw, maka ia masuk neraka.” (HR. At – Thabrani dan Al – Hakim)

Rasulullah saw telah bersabda: Murka Allah menjadi sangat terhadap orang yang menyakiti aku tentang keluargaku.” (HR. Ad-Dailami)

· KEUTAMAAN AHLUL BAIT RASULULLAH

Pertalian dengan Rasulullah dan bernasab dengannya itu merupakan salah satu kemuliaan yang besar. Nenek moyang dan keturunan Nabi saw. adalah orang-orang mulia, karena nasab mereka bertalian dengan nasab beliau, para ulama sepakat, bahwa para habaib adalah orang – orang paling baik keturunannya dari sisi ayah (nasab) nya, namun mereka tetap sejajar dengan lainnya dalam bidang hukum-hukum syari’ah dan hudud.

Ayat Al – Qur’an yang menunjukkan keutamaan ahlul bait Rasulullah saw. Antara lain:

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih – bersihnya.” (QS. Al – Ahzab: 33)

Para ulama menjelaskan, bahwa ungkapan ahlul bait itu mencakup keluarga rumah tempat tinggal dan keluarga nasab. Istri-istri beliau adalah keluarga rumah tempat tinggal, sedangkan kerabat-kerabatnya adalah keluarga karena pertalian nasab. Banyak hadits yang menunjukkan keterangan ini. Antara lain:

“Sesungguhnya Nabi saw, mengemukakan sebuah kain pada mereka (Ali, Fatimah, Al Hasan dan Al Husain) dan bersabda, “Ya Allah, mereka adalah ahli baitku dan orang-orang khususku, hilangkan dari mereka noda dan bersihkan mereka sebersih-bersihnya.”

Dalam riwayat lain disebutkan:

Rasulullah saw menutupkan kain kepada mereka dan meletakkan tangannya ke atas mereka dan bersabda: “Ya Allah, sesungguhnya mereka adalah keluarga Muhammad, maka jadikanlah sholawat-Mu dan barokah-Mu kepada keluarga Muhammad, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung.

Ayat lain yang menunjukkan keutamaan ahlil bait adalah :

“Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak kamu, isteri – isteri kami dan isteri – isteri kamu, diri kami dan diri kamu : kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya Ia’nat Allah ditimpakan kepada orang – orang yang dusta.” Qs. Ali Imran: 61)

Para ahli tafsir menjelaskan bahwa ketika ayat ini turun, Rasulullah saw. Mengajak Ali, Fatimah, Al – Hasan dan Al Husain ra. Beliau menggendong Al – Husain, menuntun Al Hasan, Fatimah berjalan di belakang beliau sedangkan Ali berjalan di belakang mereka, dan beliau bersabda, “ Ya Allah, mereka ini adalah keluargaku.”

Ayat ini adalah dalil yang tegas, bahwa anak-anak Fatimah dan keturunannya disebut anak-anak Nabi saw, dan mereka bernasab kepada nasab Rasulullah saw. Secara benar dan bermanfaat di dunia dan akhirat.

Dikisahkan sesungguhnya Harun Al Rasyid pernah bertanya kepada Musa AlKadzim ra seraya berkata, “Bagaimana kamu berkata-kata keturunan Rasulullah saw, padahal kamu adalah anak-anak Ali. Seorang laki – laki hanya bernasab kepada datuk dari sisi ayah, bukan datuk dari ibu?” Musa AlKadizim lalu membaca Surat Al An’am, Ayat 84 yang artinya, “ dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik, dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang – orang yang saleh.Lalu dia berkata, “Nabi Isa as. Jelas tidak berayah, tetapi beliau dipertemukan dengan nasab para Nabi dari sisi ibundanya, demikian juga kami dipertemukan dengan nasab Nabi Muhammad saw dari sisi ibu kami, Fatimah ra. dan masih ada tambahan lagi wahai Amirul Mukminin, yaitu turunnya ayat mubahalah. Saat itu Nabi saw. tidak mengajak siapapun kecuali Ali, Fatimah, AlHasan dan AlHusain ra (Majima’ul Ahbab)

Adapun hadits Nabi saw, yang menjelaskan keutamaan ahlul bait sangat banyak, antara lain:

Dari salamah bin Al – Akwa ra. Sesungguhnya Nabi saw Bersabda,”Bintang-bintang itu perlindungan penduduk langit, dan ahlu baitku perlindungan untuk umatku dari perbedaan.”

Dan Ali ra. Ia berkata, Rasulullah saw bersabda,”Bintang bintang itu pengaman penduduk langit, dan ahli baitku pengaman penduduk bumi. Apabila ahlu baitku hilang, maka penduduk bumi hilang, dalam suatu riwayat lain disebutkan,” Apabila Ahlu baitku binasa, maka datanglah kepada penduduk bumi tanda – tanda yang telah dijanjikan kepada mereka.” (HR. Imam Alunad)

Dari Anas ra. Sesungguhnya Rasulullah saw. Telah bersabda, “Tuhanku menjanjikan kepadaku tentang ahli baitku, barang siapa diantara mereka mengakui keesaan Allah, Dia tidak akan menyiksa mereka.” (HR. Al – Hakim)

Sesungguhnya nabi saw. Bersabda, “Perumpamaan ahli baitku di tengah – tengah kamu seperti bahtera Nabi Nuh, barang siapa menaikinya akan selamat dan barang siapa tertinggal darinya, akan tenggelam (binasa)”

Sesungguhnya Nabi saw bersabda,” Setiap doa itu tertutup (belum terkabul). Kecuali dibacakan sholawat untuk Muhammad Dan ahli baitnya. “ (HR. Ad-Dailami)

Imam al-Syafi’I berkata:

Hai ahli bait Rasulllah, cinta kepada kamu adalah kewajiban dari Allah dalam Al – Qur’an yang diturunkan-Nya.

Cukuplah untuk kamu bukti ketinggian derajatmu, siapa saja yang tidak membaca sholawat kepadamu, maka doanya tidak diterima.

Sebagian ulama ahli tahqiq menjelaskan bahwa siapa pun orang yang mau mencermati dan memperhatikan kenyataan kondisi kehidupan umat ini, akan menemukan ahlu bait kondisi kehidupan umat ini, akan menemukan ahlu bait pada umumnya selalu menjalankan tugas-tugas keagamaan dan berdakwah mengajak orang – orang berpegang kuat pada syari’at Nabi Muhammad saw. Pada setiap zaman selalu ada sekelompok dari ahlul bait yang sebab mereka itu Allah menyelamatkan orang-orang dari malapetaka. Mereka itu seperti disabdakan Nabi adalah pelindung untuk penduduk bumi.

Pertalian nasab dengan Rasululah. Itu bermanfaat di dunia dan di akhirat. Dalil Untuk itu sangat banyak diantaranya hadits Nabi saw, yang diriwayatkan Ibu Asakir :

Dari Umar bin Al – Khotthon ra. Dari Nabi saw bahwa setiap nasab dan hubungan keluarga melalui perkawinan di hari Kiamat nanti akan putus, kecuali nasabku dan hubungan kekeluargaan melalui perkawinan denganku.”

Rasulullah saw bersabda: ”Apa keadaan orang – orang yang menyangka, bahwa hubungan kekerabatan denganku tidak bermanfaat. Sesungguhnya setiap sebab pertalian dan nasab pada hari kiamat nanti terputus, kecuali pertalian sebab aku dan sebab nasabku. Sesungguhnya pertalian keluarga denganku itu tetap sambung di dunia dan akhirat.” (HR. Al – Bazzar dan At – Thobroni)

Dari Ibnu Mas’ud ra. Ia berkata, saya mendengar Rasulullah saw. Bersabda diatar mimbar, “Bagaimana orang – orang yang mengatakan, bahwa keluarga Rasullah saw. Tidak memberi manfaat pada kaumnya besok di hari kiamat. Demi Allah, keluargaku tetap bersambung denganku di dunia dan di akhirat, dan sesungguhnya aku hai orang – orang, mendahului kamu semua di telaga ( Al – Kautsar)”. (HR. Aljunaid, Al – Hakim dan Al – Baihaqi)

Mengenai hadits, Hai Fatimah puteri Muhammad, hai shofiyyah puteri Abdulah Muthollib, selamatkan diri kalian dari neraka, sebab saya tidak dapat berbuat apa – apa untuk kamu, Para ulama menjelaskan, bahwa antara hadits di atas dan hadits-hadist tentang keutamaan ahlu bait tidak ada pertentangan, sebab arti hadits diatas adalah, bahwa rasulullah saw, tidak dapat membuat sesuatu, baik bahaya maupun kemanfaatan untuk seseorang, tetapi Allah memberinya kekuasaan memberi manfaat kepada keluarganya, bahkan seluruh umatnya melalui syafa’at umum dan khusus. Beliau tidak mempunya kemampuan berbuat, kecuali apa yang dikuasakan oleh Allah Kepadanya. Demikian juga halnya sabda Rasulullah saw. “Aku tidak dapat menghindarkan sedikitpun siksa Allah dari kamu semua. “ Artinya, hanya dengan diriku tanpa anugerah Allah yang diberikan-Nya kepadaku berupa hak memberi syafa’at, maka aku tidaklah dapat berbuat menghidanrkan kamu dari siksa Allah seikitpun. Hanya semata-mata karena anugerah Allah yang diberikan kepadaku berupa hak memberi syafa’at aku menjadi dapat memohon ampunan untuk kamu (umatku)

Iman Ahmad bin Hajar pernah ditanya oleh seseorang, “Manakah yang lebih muda, antara habib (Keturunan Rasulullah saw) yang bodoh dan orang yang berilmu yang mengamalkan ilmunya? Siapakah di antara keduanya yang lebih berhak dimuliakan. Jika keduanya berada dalam satu tempat?” Imam Ahmad bin Hajar menjawab, Masing – masing dari keduanya memiliki keutamaan yang agung adapun kemuliaan habib sekalipun bodoh. Ia adalah dalam jasadnya terdapat darah dan daging mulia Rasulullah saw, yang tidak dapat ditandingi dengan apapun. Adapun kemuliaan orang yang berilmu yang mengamalkan ilmu karena ia memberi manfaat kepada kaum muslimin dan memberi petunjuk kepada orang – orang sesat ke jalan Allah mereka itu adalah penerus perjuangan para Rasul Allah dan pewaris ilmu mereka. Adapun yang harus diutamakan jika keduanya berada dalam satu majelis adalah habib berdasarkan hadits :

“Dahulukanlah orang-orang Quraisy”

Mengingkari bahwa Nabi saw, memiliki dzurriyah yang mempertemukan ras dengan beliau, dengan menggunakan dalil, “Muhammad bukanlah bapak seseorang dari kamu semua. Pendapat seperti itu dan dalil yang dikemukakan jelas tidak benar, karena ayat tersebut diturunkan berkaitan dengan Zaid bin Haristzah ra, yang waktu itu Nabi SAW. Mengangkatnya sebagai anak angkat, Zaid seperti anak beliau dan mengatakan Zaid bin Muhammad. Kemudian Allah melarang mengangkat anak dan melarang memberi status hukum seperti anak kandung dengan ayat :

“Panggillah mereka (anak – anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak – bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah.” (QS. Al – Ahzab: 5)

Setelah ayat ini turun, Zaid dipanggil dengan panggilan Zain bin haritsah. Ketika menjadi besar, maka dinikahkan Zainab binti Jahsy, kemudian terjadi perceraian. Setelah habis masa iddahnya, ia dipinang oleh Rasulullah saw. Untuk dinikahi sendiri. Allah mengawinkan beliau dengan Zainab seperti dalam firman-nya:

Orang-orang munafik berkata, “Muhammad menikahi istri anaknya yang tidak pernah berlaku di kalangan masyarakat.” Kemudian Allah swt. Menurunkan ayat sebagai jawaban cibirian orang – orang munafik:

“Muhammad itu sekali – kali bukanlah bapak dari seorang laki – laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi – nabi,” (QS. Al – Ahzab : 40)

Para ulama sepakat, bahwa di antaran khushusiyyah Nabi Saw. Adalah anak-anak puteri beliau bernasah kepada beliau semuanya secara sah, berdasarkan sabda beliau :

Sesungguhnya Allah menjadikan keturunan semua nabi pada sulbinya, dan Allah menjadikan keturunanku pada Sulbi Ali bin Abi Thalib. “(HR. Imam At – Thobroni)

Setiap anak laki – laki seorang ayah memiliki ashobah (penerima bagian ashabah). Kecuali dua puteri Fatimah, karena akulah wali keduanya dan ashobah mereka berdua (HR. Al – Hakim)

Mencium tangan ahlu bait Nabi saw diperbolehkan bahkan seyogyanya dilakukan sebab mencium tangan mereka merupakan taqarrub (mendekatkan) dan tawaddud (mencintai) pada Nabi saw.

Dalil boleh mencium tangan kerabat ahlil bait Nabi saw adalah apa yang dilakukan sahabat besar Nabi saw sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al – Hakim dan Al – Baihaqi yang di shohihkan oleh Ibnu’ Asakir dan Ibnu Abdil Barr dari Al – Sya’bi ia berkata:

Zaid bin Tsabit setelah melakukan sholat atas jenazah ibunya. Lalu keledainya didekatkan kepadanya agar dinaikinya, kemudian Ibnu Abbas memegang keledainya dan memegang kendalinya. Zaid berkata: biarkan hai putera paman Rasulullah saw. Ibnu Abbas berkata: demikianlah kami memperlakukan ulama. Zaid mencium tangan Ibnu Abbas ra dan berkata: Demikian inilah kami diperintahkan berbuat kepada keluarga Nabi kita Muhammad saw.

Imam al – Bukhori dalam al Adab al Mufrod meriwayatkan

Dari shuhaib ra, ia berkata: Saya Telah melihat Ali bin Abi Thalib mencium tangan dan kaki Al Abbas.”

C. JALINAN PERSAUDARAAN DAN MUSIBAH PERPECAHAN SAHABAT DAN AHLUL BAIT NABI MENURUT ASWAJA

Pandangan Ahlussunnah tentang Musibah Perselisihan antara Sebagian Sahabat.

Dalam menyikapi perselisihan yang terjadi di sebagian sahabat, golongan Ahl al-Sunnah wa al-jama’ah tetap berpedoman pada prinsip Tawaddu (tengah-tengah atau netral), karena meyakini bahwa para sahabat merupakan orang-orang yang mulia yang sudah seharusnya kita hormati. Di dalam kitab al-Muntakhabat disebutkan :

“Imam Syafi’i RA berkata, dan pernyataan itu juga dimiliki dari ‘Umar bin ‘Abdil Aziz RA, “Hal itu (tentang para sahabat) merupakan darah yang diciptakan oleh Allah dari tangan kami, maka sudah selayaknya lidah kita disucikan dari (membicarakan/ menghina) mereka”. (Al-Muntakhabat, 127)

Di samping itu, perselisihan di kalangan sahabat itu merupakan hasil ijtihad yang akan mendapat dua pahala kalau benar dan satu pahala jika salah. Ibn Ruslan dalam kitab Zubadnya mendendangkan syair :

“Apa yang terjadi di kalangan sahabat kita tidak berkomentar
(memihak) Dan dari pahala ijtihad maka kami menetapkannya
(Main al-Zubad, 7)

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Imam Asyari sebagai tokoh golongan AN al-Sunnah wa al-jama’ah. Beliau menyatakan bahwa para sahabat merupakan orang-orang pilihan. Bahkan di antara mereka sudah mendapat jaminan surga. Sedangkan perselisihan yang terjadi hanyalah perbedaan ijtihad. Karena itu tugas kita adalah menjaga kesucian dan kemulian mereka.

“Apa yang terjadi antara Sayyidina ‘Ali RA, al-Zubair RA dan ‘Aisyah RA hal itu karena adanya perbedaan pendapat dan hasil ijtihad, dan Sayyidina ‘Ali RA lah yang menjadi pemimpin. Sebab mereka semua termasuk ahli ijtihad. Nabi Muhammad SAW telah menjamin mereka untuk masuk surga. Jaminan Nabi SAW ini menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang benar dalam ijtihadnya. Begitu juga yang terjadi antara Sayyidina ‘Ali RA dan sahabat Mu’awiyah, RA. Hal itu juga terjadi karena perbedaan pendapat dan perbedaan hasil ijtihad. Semula sahabat adalah pemimpin yang terpercaya, tidak dicurigai dalam masalah agama. Allah SWT telah memuji mereka semua. Dan kita diperintahkan untuk mengakui, patuh dan menjaga kehormatan mereka. Serta mejauhkan diri dari orang-orang yang merendahkan martabat mereka RA. (Al-Ibanah ‘an Ushul al‑Dinniah,260)

Sikap netral yang dirumuskan oleh Imam Asy’ari tersebut pada hakikatnya merupakan pelaksanaan dari sikap tawassuth yang diajarkan oleh sayyidina Ali, sebagaimana pitutur beliau:

“Sebaik-baik manusia adalah golongan yang bersikap netral, yang bisa diikuti oleh orang-orang di belakangnya dan menjadi rujukan orang-orang yang berlebih-lebihan (ekstrim).” (Lisan al-‘Arab, juz Juz VII, hal 299)

Berdasarkan beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa golongan Ahl sunnah wa’al-Jama’ah tetap berpegang pada prinsip tawassuth dan tawajun dalam menyikapi perselisihan di antara para sahabat. Yang diwujudkan dengan sikap diam, dan tetap meyakini bahwa sahabat Nabi SAW adalah manusia yang mulia. Karena mereka adalah orang-orang yang pertama beriman dan mengamalkan ajaran Nabi Muhammad SAW. Kalaupun ada kekurangan pada diri mereka, namun hal itu bisa ditutupi oleh kebaikan yang mereka miliki. Dan berbeda dengan pandangan kaum Syi’ah yang menjunjung tinggi para ahlul bait (bahkan dengan akidah yang menyimpang) tanpa memuliakan para sahabat yang berselisih dengan ahlul bait.

Jalinan Persaudaraan antara Keluarga dan Sahabat Nabi Muhammad SAW

Musibah perselisihan yang terjadi pada sebagian sahabat tidak dapat dijadikan tanda kalau diantara para sahabat tidak terjalin persaudaraan yang sangat erat. Justru sebaliknya , jalinan kemesraan yang bertaut di hati mereka ibarat cinta bersambut, kasih berjawab. Indahnya pergaulan antara keluarga dan sahabat Nabi SAW harus diteladani oleh umat Islam. Hal ini terungkap dari tutur kata Sayyidina Ali RA yang selalu menjunjung tinggi para sahabat sebagai manifestasi rasa cinta yang mendalam. Terutama pada sahabat besar. Dalam kitab Al-Syafi karya al-Syarif al-Murtadha yang dijuluki Alam al-Huda , Juz 2, hal 428, diceritakan tentang ucapan Sayyidina Ali RA mengenai sahabat Abu Bakr RA dan Umar RA. Sebagaimana yang dikutip dalam kitab Al-Syi’ah Minhum ‘Alaihim

“Sayyidina Ali AS berkata tentang sahabat Abu Bakr RA dan Umar RA, “ Sesungguhnya umat yang paling baik setelah Nabinya adalah Abu Bakr RA dan Umar RA”. (Al-Syi’ah Minhum ‘Alaihim, 60)

Kecintaan Sayyidina Ali RA berlangsung terus hingga sahabatnya itu meninggal dunia. Misalnya ketika Sayyidina ‘Umar RA meninggal dunia. Dalam kitab yang sama disebutkan :

“ Ketika sahabat ‘Umar dimandikan dan dikafani, Sayyidina ‘Ali RA masuk, lalu berkata, “Tidak ada diatas bumi ini seorangpun yang lebih aku sukai untuk bertemu Allah SWT dengan membawa buku catatan selain dari yang terbentang di tengah-tengah kalian ini (yakni jenazah Sayyidina ‘Umar)”. (Al-Syi’ah Minhum ‘Alaihim)

Sikap Sayyidina Ali ini merupakan ekspresi spontan dari lubuk hati terdalam bahwa di dalam hati beliau benar-benar tertanam jalinan kasih dan tambatan sayang kepada Sayyidina ‘Umar RA. Sebab mustahil beliau melakukannya sekedar taqiyyah(pura-pura) karena takut pada Sayyidina ‘Umar RA, sebab pada waktu itu Sayyidina ‘Umar RA telah meninggal dunia.

Begitu pula sebaliknya. Para sahabat juga sangat mencintai keluarga Nabi SAW. Terbukti dari ucapan Sayyidina Abu Bakr RA :

“Dari Aisyah RA, sesungguhnya Abu Bakr RA berkata, “Sungguh kerabat Rasulullah SAW lebih aku cintai daripada keluargaku sendiri”. (Shahih Bukhari,[3730])

Pada kesempatan lain, sahabat Abu Bakr RA berkata :

“Dari Ibn ‘Umar RA, dari Abu Bakr RA ia berkata, “Perlihatkan Nabi Muhammad SAW terhadap ahli baitnya”. (Shahih Al-Bukhari [3436])

Tidak hanya sampai disitu, kecintaan dan persaudaraan itu berlangsung terus hingga keturunan Nabi SAW. Bahkan kecintaan yang mendalam diantara para sahabat dengan keluarga Nabi Muhammad SAW tidak cukup dengan percakapan semata, tetapi sampai pada pembuktian yang nyata seperti memberikan nama putra mereka dengan nama para sahabat besar itu. Misalnya Sayyidina ‘Ali RA, diantara 33 putra putri beliau ada yang diberi nama Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman (Imam ‘Ali bi Abi Thalib, 9). Sayyidina Hasan dan Husein juga memberi nama dua putranya’Umar dan Abu Bakr.

Thalhah

Hamzah

Ja’far

Ya’qub

Muhammad

‘Urwah

Al Husain

‘Abdurrahman

Al-Hasan

‘Umar

‘Abdullah

Abu Bakr

Al-Qasim

Zaid

Keturunan Sayyidina ‘Ali RA dengan Fathimah RA

Ummi Kulsum

Zainab

Muhassin

Husain

Hasan

Ummu Kultsum Sughra

Zainab Sughra

Sukainah

Fathimah

‘Umar

‘Ali Zainal ‘Abidin

‘Ali al-Khabir

‘Abdullah

Abu Bakr

Thalhah Hamzah Ja’far Ya’qub Muhammad ‘Urwah Al Husain ‘Abdurrahman Al-Hasan ‘Umar ‘Abdullah Abu Bakr Al-Qasim ZaidUmmi  KulsumZainabMuhassinHusainHasanUmmu Kultsum Sughra Zainab Sughra Sukainah Fathimah ‘Umar ‘Ali Zainal ‘Abidin ‘Ali al-Khabir ‘Abdullah Abu Bakr

Sumber : Allimu Awladakum Mahabbati ‘Ali Baiti al-Nabi,

DR. Muhammad ‘Abduh Yamani

Siapapun tahu bahwa orang yang memberikan nama pada anaknya, tentu dipilih nama yang paling disukai, sembari tersirat sebuah harapan semoga anak yang dimaksud dapat meneladani dan memiliki kualitas individu sebagaimana orang yang ditiru namanya.

Bahkan lebih jauh, kecintaan antara para sahabat dan keluarga Nabi Muhammad SAW tidak hanya terbatas pada pemberian nama pada putra-putranya saja, tetapi berlanjut sampai tingkat perbesanan. Misalnya Sayyidina ‘Umar RA menikah dengan Ummi Kultsum RA putri Sayyidina ‘Ali RA, Zaid bin ‘Amr bin Utsman bin ‘Affan RA menikah dengan Fathimah binti al-Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib. (Nasabu Quraisy li al-Zubairi, Juz 4, hal 120 dan 114)

Sudah pasti, hal tersebut tidak akan terjadi bilamana di hati mereka ada permusuhan dan dendam kesumat. Ini sebagai bukti bahwa Allah SWT melindungi para sahabat dan keluarga Nabi Muhammad SAW dari berbagai penyakit hati.

Begitu pula sikap yang dicontohkan oleh Imam Ja’far al-Shadiq ketika beliau ditanya tentang sikapnya kepada sahabat Abu Bakr dan ‘Umar. Dalam suatu riwayat yang disampaikan al-Qadhi al-Imam Nurullah al-Syusyturi disebutkan :

“Sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Imam Ja’far al-Shadiq , “Wahai cucu Rasulullah SAW! Bagaimanakah sikap anda kepada sahabat Abu Bakr dan ‘Umar? “ Beliau menjawab, “Keduanya adalah pemimpin yang adil dan bijaksana. Keduanya berada di jalan yang benar dan mati dengan membawa kebenaran. Mudah-mudahan rahmat Allah SWT selalu dilimpahkan kepada keduanya hingga hari kiamat”. (Ihqaq al-Haq li al-Syusyturi, juz 1, hal 16)

Dalam konteks ini pula Imam Ja’far al-Shadiq RA berkata :

Aku telah dilahirkan oleh Abu Bakr dua kali”. (al-Dhuraquthni)

Silsilah yang pertama dari ibunya, yang bernama Ummu Farwah binti al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakr al-shiddiq. Dan kedua dari neneknya yakni istri al-Qashim yang bernama Asma’ binti ‘Abdurrahman bin Abu Bakr al-Shiddiq. (fathimah al-Thahiroh, RA, 113)

Ketulusan keluarga dan keturunan Nabi SAW sungguh sangat sesuai dengan kesuciannya. Salah seorang tokoh Bani Hasyim, al-Imam ‘Abdullah yang bergelar al-Mahdh, beliau adalah orang pertama yang mempertemukan keturunan Sayyidina Hasan dan Husain RA, menyatakan :

‘Umar lebih baik dariku dan seisi bumi yang seperti aku. Beliau ditanyakan, “Apakah ini taqiyyah (pura-pura)?”. Beliau menjawab, “Kami sedang berada di antara makam dan mimbar Nabi SAW (kami tak akan bohong). Sungguh ini adalah ucapanku di tempat yang sunyi maupun di tempat terbuka. Maka jangan dengarkan ucapan siapapun saudaraku (yang memaki para sahabat)”. (Al-shawa’iq al-Muhriqah, 78)

Jika kita benar-benar mencintai keluarga dan keturunan Nabi SAW, tentu kita wajib mencontoh sikap santun dan kerendahan hati mereka. Sebab sebagai keluarga suci, hati dan lidah mereka jauh dari hal-hal yang mengotori semisal umpatan dan caci maki. Apalagi hasut dan dengki, tentu jauh dari mereka, sejauh dari panggang api.

Kesimpulannya, antara sahabat Abu Bakr RA, ‘Umar RA dan sahabat yang lainnya, dengan Sayyidina ‘Ali RA beserta segenap ahlul bait, terjalin hubungan persaudaraan yang sangat harmonis. Hal itu terus dilanjutkan hingga anak cucu mereka, yang selalu memberikan contoh yang terbaik dengan akhlak mulia yang patut diteladani.

(QS. al-Taubah 100) ada ungkapan:

“Allah SWT telah ridha kepada mereka dan mereka juga ridha kepada-Nya. “

Karena itu Imam Syafi’i RA memberi contoh di dalam membaca taradhdhi.:

“Diriwayatkan dari al-Rabi dari al-Syafi bahwa beliau berkata, “Manusia yang paling utama setelah Rasulullah SAW adalah Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman kemudian. Semoga keridhaan Allah SWT selain tercurahkan kepada mereka”. (ManAqib al-SvAffl, juz I, hal 433)

Maka jika ada sebagian kalangan yang menuduh Imam Syafi’l RA termasuk golongan Rafidhah, yakni golongan yang menolak kepemimpinan sahabat Abu Bakr RA, ‘Umar RA dan Utsman RA. Tuduhan ini disangkal sendiri oleh beliau dalam bait syairnya :

“Mereka mengatakan, “Engkau termasuk golongan Rafidhah aku jawab, ‘tidak’. Rafidhah bukan agamaku juga bukan keyakinanku”. (Diwan al-ImAm. al-Syifi’i, 35)

D. ULAMA DAN HABAIB SEBAGAI PENERUS JALINAN SAHABAT NABI DAN AHLUL BAIT NABI

ULAMA

Firman Allah dalam surat Al-Fathir ayat 28 :

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah Ulama”

Meskipun arti Ulama’ dalam ayat tersebut menurut sebagian besar ahli tafsir tidak terbatas hanya semata orang-orang yang ahli agama, tetapi mencakup semua orang yang menyadari dan mengetahui kebesaran Tuhan dan kekuasaan-Nya di jagad raya ini, dengan argumentasi alur kalimat dalam ayat tersebut dan ayat sebelumnya mengungkapkan fenomena alam (langit, air, berbagai macam buah-buahan, gunung-gunung yang berwarna–warni, manusia, binatang, dan hewan ternak yang beraneka ragam) namun konotasi yang mudah ditangkap adalah mereka yang memiliki kelebihan keilmuan agama dan pengamalannya diatas rata-rata masyarakatnya. Apalagi dalam realitas kehidupan masyarakat cukup banyak orang-orang yang menguasai keilmuan non agama (eksakta, sosial, maupun seni) tidak menunjukkan sikap ketakutannya (khossyah) kepada Allah bahkan sebaliknya.

Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu An-Najjar dari sahabat Anas bin Malik RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda :

Ulama adalah pemimpin, dan orang-orang yang taqwa kepada Allah adalah terhormat, dan duduk bersama mereka memberikan nilai tambah”.

Hadits diatas sanadnya dinilai dlo’if, namun dikuatkan oleh hadits-hadits lain yang artinya sama meskipun redaksinya berbeda, sehingga para ahli tidak keberatan menggunakan hadits ini sebagai rujukan.

Sementara itu, dalam hadits lain disebutkan kedudukan Ulama’ dalam pengertian umumnya masyarakat, antara lain seperti berikut :

“Ulama’ itu pewaris para nabi”

(diriwayatkan Imam Abui Dawud at-Turmudzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dari sumber Abu Darda’ RA)

Ulama’ itu kepercayaan Allah untuk kepentingan ummat-Nya”

(diriwayatkan oleh Imam Al-Qodlo’I dan Ibnu ‘Asakir, dari sanad Anas bi Malik RA)

“Tiga kelompok orang yang dapat memberi syafa’at (pertolongan) besok hari kiamat, mereka itu adalah para Nabi, para ulama’ dan syuhada”

(Diriwayatkan oleh Imam ibnu Majah dari sumber sahabat Usman bin Affan RA. Meskipun Hadits ini dlo’if, tetapi dikuatkan oleh beberapa hadits lain yang menunjang kebenarannya)

Mengenai istilah kyai sebagai pengganti istilah ulama, menurut Manfred Ziemek, istilah itu berasal dari Jawa yang mempunyai makna yang dituakan, dimuliakan, dan dituahkan. Kata tersebut lebih kurang memiliki arti yang sama dengan Ajengan (sunda), Teuku (Aceh), Syekh (Sumatra Utara), Buya (Minangkabau), dan Tuan guru (NTB dan Kalimantan). Dalam realitas kehidupan masyarakat sehari-hari ulama’ sedikitnya mempunyai tiga peran yang ditampilkan dan tiga macam peran tersebut ada yang dilakukan secara bersamaan dan ada kalanya dilakukan sebagian – sebagian atau bergantian. Peran-peran tersebut adalah :

1. Sebagai guru dan pembimbing rohani masyarakat

2. Sebagai penampung dan perumus aspirasi masyarakat

3. Sebagai pemimpin dan pengarah gerakan masyarakat

Dalam Surat AnNisa ayat 59, yang artinya:

Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya dan Ulil Amri diantara kamu”

“Ulil Amri” ditafsirkan sebagian ahli tafsir tidak hanya para pemimpin politis namun juga pemimpin dalam hal agama, yaitu ulama.

HABAIB (HABIB-HABIB) DAN BANI ALAWI (‘ALAWIYIN)

Habib secara bahasa artinya kekasih. Tapi dalam hal sebutan di depan nama orang itu adalah penyebutan untuk keturunan Nabi Muhammad Saw lewat puteri beliau sayidah Fathimah Az-Zahro dan sayid Ali Kwh, lewat cucu Nabi Saw yaitu sayid Hasan dan sayid Husein. Anak keturunan sayid Hasan dan Husein ini dipanggil dengan bermacam-cara penyebutan, seperti sayid (meski demikian saat ini sayid dipakai ketika memanggil orang dalam makna asli yaitu tuan), syarif, habib. Untuk penyebutan keturunan darah Nabi Saw yang wanita ada istilah syarifah, hababah dsb.

Di belakang nama habaib biasanya ada “marga” dari masing-masing keluarga, misal Alatas, Alhaddad, Aljufri, Assegaf, Baharun, Shihab, Albar, Alhasani, Alhamid, bin syeh Abu Bakar (BSA), bin Yahya dsb. “Marga” di sini bukan seperti marga orang Batak misalnya, bukan, “marga” ini hanya kebiasaan dari beliau yang kemudian dijadikan panggilan untuk keturunan beliau. Misal, Alatas. Alatas berasal dari kata bersin. Orang yg pertama kali disebut Alatas adalah Habib Umar bin Abdurrahman Alatas, orang yang ketika beliau masih dalam kandungan sudah bersin dan suara bersinnya terdengar dari luar perut ibunya. Beliau kemudian disebut Alatas di belakang namanya.

Lalu Alhaddad, orang yg pertama kali dipanggil Alhaddad adalah orang yg mampu melembutkan hati yang sekeras apapun juga. Beliau lalu disebut Alhaddad.

Assegaf, orang yg pertama kali dipanggil Assegaf adalah orang yang ilmunya luas hingga menaungi masyarakat. Beliau lalu disebut Assegaf.

Menghormati habib adalah wajib bagi yg mengetahui, menghormati disini bukan berarti membenarkan kalau beliau salah, mengatakan yang lebih baik pada beliau dengan cara yang baik adalah wajib pula bagi kita yang mampu. Jalan habaib adalah jalan salaf karena beliau diajari bapaknya lalu bapaknya diajari kakeknya, lalu diajari oleh bapaknya kakek, dst. hingga sampai ke Alhasan alhusein, sayid Ali dan istri beliau sayidah Fathimah puteri Nabi Saw. Maka dikenallah salah satu Thoriqoh yakni Thoriqoh Alawiyyah. Thoriqoh ini terdiri dari habaib yang merupakan keturunan Nabi Muhammad yang melalui Sayyid AlFaqih AlMuqoddam Muhammad bin Ali Ba’alawi. Mereka dikenal sebagai Bani Alawi atau kaum Alawiyyin.

SEJARAH SINGKAT TENTANG PERANAN ALAWIYIN DI INDONESIA

Kepadamu aku Titipkan Al-Qur’an Dan Keturunanku….

(Al-Hadith Rasullah s.a.w. Dirawikan oleh Imam Ahmad Ibn Hambal)

A. PENDAHULUAN

Pada zaman kekhalifahan Bani Abbas (750-1258 M) berkembanglah ilmu pengetahuan tentang Islam yang bercabang-cabang, tumbuh pula penyimpangan dari ajaran agama Islam. Dibentuknya dinasti Bani Abbas yang turun-temurun mewariskan kekhalifahan. Istilah “muslim bila kaif” telah menjadi lazim. Hidupnya keturunan Sayidatina Fatimah Al-Zahra dicurigai, tiada bebas dan senantiasa terancam, ini karena pengaruh anak cucu dari Al-Hasan dan Al-Huseyn r.a. pada rakyat sangat besar dan disegani. Keinginan kebanyakan Muslim adalah seorang keturunan Nabi yang seharusnya memegang kekhalifahan. Sehingga banyak yang dipenjara dan dibunuh sehingga banyak pula yang pindah dan melarikan diri dari pusat Bani Abbas di Baghdad,

AHMAD BIN ISA r.a.

Dalam keadaan sebagaimana yang diuraikan di atas, supaya memelihara keturunannya dari kesesatan maka sayyid AHMAD BIN ISA BIN MUHAMMAD BIN ALI BIN JA’FAR BIN MUHAMMAD BIN ALI BIN AL-HUSEYN r.a. sesuai doanya sayidina Ibrahim a.s. yang tersurat dalam Al-Qur’an surat 14 ayat 37:

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.

maka dipilihnya Hadramaut yang tidak bertetanaman, untuk menetap dan berhijrahlah beliau dari Basrah ke Hadramaut, dimana beliau wafat di Hasisah pada tahun 345 H.

ALWI BIN UBAIDILLAH

Keturunan dari AHMAD BIN ISA tadi yang menetap di Hadramaut dinamakan ALAWIYIN ini dari nama cucunya ALWI BIN UBAIDILLAH BIN AHMAD BIN ISA yang dimakamkan di Sumul.
Keturunan sayidina Al-Hasan dan Al-Huseyn r.a. disebut juga ALAWIYIN dari sayidina Ali bin Abi-Talib kw, Keluarga Al-Anqawi, Al-Musa-Alkazimi, Al-Qadiri dan Al-Qudsi
. Kebanyakan di Indonesia adalah Alawiyin keturunan dari Alwi bin Ubaidillah.

MUHAMMAD AL-FAQIH AL-MUQADDAM

Luput dari serbuan Hulagu Khan, maharaja Cina, yang menamatkan kekhalifahan Bani Abbas (1257 M), yang memang telah dikhawatirkan oleh AHMAD BIN ISA, maka di Hadramaut Alawiyin menghadapi kenyataan berlakunya undang-undang kesukuan yang bertentangan dengan ajaran Islam, dan kenyataan bahwa penduduk Hadramaut adalah Abadhiyun yang sangat membenci sayidina Ali bin Abi-Talib r.a. Ini ternyata pula hingga kini dari istilah-istilah dalam logat orang Hadramaut. Dalam menjalankan “tugas suci” menyebarkan islam, ialah pusaka yang diwariskannya, banyak dari pada suku Alawiyin tidak segan-segan mendiami di lembah yang tandus. Tugas suci itu terdiri dari mengadakan tabligh-tabligh, perpustakaan-perpustakaan, pesantren-pesantren (rubat) dan masjid-masjid.

Alawiyin yang semula bermazhab “Ahli-Bait” mulai memperoleh sukses dalam menghadapi Abadhiyun itu setelah Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam BIN ALI BIN MUHAMMAD BIN ALI BIN ALWI BIN MUHAMMAD BIN ALWI BIN UBAIDILLAH memilih mazhab Muhammad bin Idris Al-Syafi-I Al-Quraisyi, (mazhab Syafi-I), Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam ini wafat di Tarim pada tahun 653 H.

ALAWIYIN DI INDONESIA

Perlu diketahui pula bahwa penyebaran islam sebagian besar adalah berkat jasa dari bani alawiyin.

Selain itu, dapat disimpulkan bahwa diantara mubaligh-mubaligh Islam yang datang pertama kali ke Indonesia terdapat golongan Alawiyin keturunan Sayidina Hasan dan Sayidina Husein bin Ali, baik yang berasal dari Makkah dan Madinah maupun yang kemudian menetap di Yaman dan sekitarnya. Ada kemungkinan bahwa sebelum sampai ke Indonesia mereka singgah beberapa waktu di Gujarat, pantai barat India sebelum meneruskan perjalan ke Timur (Indonesia, Malaysia Dan Filipina). Mereka berlayar ke Timur untuk berdagang, dan juga menyelamatkan diri dari pemerintahan Bani Umayah atau tidak mau melibatkan diri dalam perang saudara yang terus-menerus berkecamuk, mereka ini secara aktif melakukan dakwah ke India, Indonesia dan juga ke Tiongkok, dengan sendirinya pun ke daerah-daerah yang terletak pada garis Arab-Tiongkok seperti Melaka (Malaysia) dan Filipina.

Islam telah dikenal di sumatera Utara sebelum abad III H dan di bawa oleh para pedagang Arab dan Persi. Kerajaan Islam Perlak didirikan pada 1 Muharrom 225 H (840 M), dengan Sayid Maulana Abdul Aziz Shah sebagai sultannya yang pertama, bergelar Sultan Alaudin Sayid Maulana Abdul Aziz Shah. Ayahnya ialah Sayid Ali bin Muhammad bin Jafar Ash-Shodiq bin Muhammad Al-Bagir bin Ali Zainal Abidin bin Sayidina Husin bin Sayidina Ali bin Abi Tholib dan Fatimah Bin Rosululloh SAW, dinikahkan oleh Muerah (Raja) Perlak Syahrir Nuwi dengan adik kandungnya bernama Putri Makdum Tansyuri.

Dalam perkembangan selanjutnya, kaum Alawiyin dari keturunan Ahmad Al Muhajir bin Isa memegang peranan penting dalam penyebarluasan di daerah-daerah Asia Tenggara termasuk pulau Jawa yang sampai abad XIV M masih dikuasai oleh kerajaan Majapahit yang beragama Hindu.

Terdorong oleh keinginan mencari kehidupan materi yang lebih baik di samping menyebarkan ajaran-ajaran Islam ke seluruh penjuru dunia, banyak dari mereka pergi meninggalkan Hadromaut, ada yang ke Barat sampai ke Somalia, Jibuti, Eritrea, Madagaskar dan lainnya, dan adapula yang ke timur sampai ke India, Cina, Kampucea Sia, Pilipina, Malaysia, Brunei dan Indonesia.

Di setiap negeri yang di kunjungi, mereka langsung membaur dengan rakyat setempat dan menggunakan nama-nama dan gelar-gelar yang dipakai secara umum. Dengan keluhuran akhlak dan kehidupan bersahaja serta ketaatan kepada agama seperti yang diwarisi dari para leluhur, mereka berhasil memikat hati penduduk setempat sehingga dalam waktu yang relatif singkat, Islam telah menyebar dan meluas di berbagi daerah di Asia Tenggara termasuk kepulauan Indonesia. Di antara mereka yang sangat terkenal ialah keturunan Abdul Malik bin Alwy bin Muhammad (Shohib Mirbath) bin Ali (Kholi Qosam) bin Alwy bin Muhammad bin Alwy bin Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir. Sayid Abdul Malik tersebut pergi dari Hadromaut dan menetap di India dan anak cucunya membaur dengan penduduk negeri dan menggunakan nama-nama dan gelar-gelar India. Dalam buku nasab kaum Alawiyin, mereka disebut sebagai keluarga Adzamat Khan. Diantara mereka pergi ke Asia Tenggara yang diantara anak cucunya kemudian dikenal di Indonesia sebagai Wali Songo.

Jamaluddin Husain al-Akbar adalah orang pertama dari keluarga Adzamat Khan yang datang dan menetap di Indonesia. Ia adalah putra Ahmad jalal Syah (lahir dan wafat di India) bin Abdullah khan bin Abdul-Malik (wafat di India) bin Alwi (wafat di Tarim Hadromaut) bin Muhammad (Shahib Marbath) dan seterusnya sampai Imam al-Muhajir. Jamaluddin datang ke Indonesia dengan membawa keluarga dan sanak kerabatnya, lalu meninggalkan salah seorang putranya bernama Ibrahim Zain al-Akbar di Aceh untuk mengajarkan tentang Islam, sedangkan ia sendiri mengunjungi kerajaan Majapahit di Jawa kemudian merantau lagi ke daerah Bugis (Makassar dan Ujung pandang) dan berhasil dalam penyiaran Islam dengan damai sampai ia wafat di daerah Wajo, Makassar. Ia meninggalkan tiga orang putra, yaitu Ibrahim Zainuddin al-Akbar (yang ditinggal oleh ayahnya di Aceh), Ali Nurul Alam dan Zainal Alam Barakat.

Ibrahim Zainuddin al-Akbar  (alias Ibrahim Asmoro) wafat di Tuban Jawa Timur dan meninggalkan tiga orang putra yakni: Ali Murtadha, Maulana Ishaq, (ayah dari Muhammad Ainul Yakin /Sunan Giri) dan Ahmad Rahmatulloh Sunan Ampel (ayah dari Ibrohim Sunan Bonang, Hasyim Sunan Drajat, Ahmad Husanuddin Sunan Lamingan, Zainal Abidin Sunan Demak, Jafar Shodiq Sunan Kudus).

Ali Nurul Alam putra dari Jamaluddin Husein Al Akbar, wafat di Anam (Siam) meninggalkan seorang putra yaitu Abdulloh Khan yang wafat di Kamphuchea (Kamboja). Dua orang putra Abdulloh beliau adalah Baabulloh Sultan Ternate dan Syarif Hidayatulloh Sunan Gunung Jati (ayah dari Sultan Hasanuddin, Sultan Banten yang pertama).

Zainal Alam Barokat, putra ketiga dari Jamaluddin Husen Al Akbar, wafat di Kampuchea atau di Cermin, meninggalkan dua orang putra yaitu Ahmad Zainal Alam dan Maulana Malik Ibrohim (wafat di Gresik).

Dari kalangan keluarga Alawiyin lainnya tercatat nama-nama para pahlawan kemerdekaan RI antara lain Pangeran Diponegoro, nama beliau adalah Mas Ontowiryo beliau lahir pada tanggal 17 Nopember 1785, ayah beliau adalah Hamengkubuwono III ( Sayid Husein bin Alwy Baabud ). Tuanku Imam Bonjol nama beliau adalah Muhammad bin Shahab lahir pada tahun 1772 ayah beliau seorang ulama yang bernama Sayid Khatib Bajanuddin Bin Shahab dll.

Selanjutnya dapat disebutkan disini beberapa nama lainnya yang berjasa dibidang dakwah dan pendidikan mulai sekitar tahun 1800 M, antara lain :

Ü Habib Abdulloh bin Mukhsin AlAthos, Keramat empang, Bogor

Ü Sayid Idrus bin Salim Al Jufry di Palu, Sulawesi penyebar Islam di wilayah Timur

Ü Habib Ali bin Abdurrohman Al Habsyi, pendiri Islamic Center yang terletak di Kwitang

Ü Sayid Muhammad bin Abdurrohman bin Shahab, seorang ulama besar dan sangat memperhatikan kaum lemah seperti anak yatim piatu, janda, fakir miskin. Salah seorang pendiri Jamiatu Khair

Ü dan masih banyak sekali.

Alawiyin yang lebih dikenal dengan sebutan sayid, habib, ayib dan sebagainya tetap dicinta dimana-mana dan memegang peranan rohani yang tidak dapat dibuat-buat sebagaimana juga di negara islam lain. Kebiasaan dan tradisi Alawiyin diikuti dalam Perayaan maulid Nabi, haul, nikah, upacara-upacara kematian dan sebagainya.

Suku-suku Alawiyin di Indonesia yang berjumlah kurang lebih 50.000 orang; ada banyak yang besar, antara mana Al-Saggaf, Al-Attas, Al-Syihab, Al-Habsyi, Al-Aydrus, Al-Kaf, Al-Jufri, Al-Haddad dan semua keturunan asal-usul ini dicatat dan dipelihara pada Al-Maktab Al-Da-imi yaitu kantor tetap untuk statistik dan pemeliharaan nasab sadatul-alawiyin yang berpusat di gedung “Darul Aitam” jalan K.H. Mas Mansyur (dahulu jalan Karet) No. 47, Jakarta Pusat (II/24).

E. PENJELASAN MENGENAI WALIYULLAH DAN KAROMAHNYA

Menurut bahasa, kata wali berarti orang yang mencintai, teman dan penolong. Sedangkan menurut istilah, Syaikh Abu al-Qasim Abdul Karim al-Qusyairi mengatakan:

“Kata Wali itu mempunyai dua pengertian. Pertama, sebagai obyek yaitu seorang yang segala urusannya diserahkan kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman, “Dia melindungi orang-orang yang shaleh ” (QS. Al-A’raf, 196). Oleh sebab itu, seorang wali tidak pernah Menyerahkan urusan kepada dirinya sedikitpun, tapi diserahkan semuanya kepada Allah SWT. Kedua, sebagai subyek yaitu seorang yang selalu menjaga ibadah dan ketaatannya kepada Allah SWT. Ibadahnya selalu berjalan di atas penyerahan diri kepada Allah tanpa dikotori oleh kemaksiatan”. (Al-Risdlah al-Qusyairiyah fi ‘Ilm al-Tashawwuf, 259-260)

Allah SWT berfirman :

Ingatlah, sesungguhnya wali Allah itu tidak ada kekhawatiran kepada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang¬ orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa“. (QS. Yunus, 62-63)

Dari sini bisa disimpulkan bahwa waliyullah itu adalah orang mukmin yang senantiasa patuh pada perintah Allah SWT dan tidak pernah melanggar larangan-Nya. Tidak ada yang ditakuti kecuali Allah SWT. Baginya hanya Allah SWT tempat berlindung, sumber pertolongan, penghambaan dan pengabdian. Jadi, dia tidak pernah melakukan apa saja: mendengar, melihat, melangkah dan sebagainya, kecuali dengan apa yang disenangi dan diridhai oleh Allah SWT. Selain itu seorang bisa dikatakan wali jika dia mengikuti syari’at Rasulullah SAW. Syaikh al-Qusyairi mengatakan :

Dua sifat (di atas) wajib (bagi seorang wali), sehingga seseorang yang dikatakan wali wajib menegakkan hak-hak. Allah ta’at secara maksimal dan sungguh-sungguh serta selalu dalam perlindungan Allah SWT baik dalam keadaan suka maupun duka/kesulitan“. (Al-Risalah al-Qusairiyah fi’iim al-Tashawwuf, 260).

Dengan demikian, tidaklah mudah bagi seseorang mengaku dirinya sebagai wali tanpa disertai ketaqwaan yang maksimal dan ketulusan mengikuti ajaran Rasulullah SAW. Wali Allah bukanlah orang yang memiliki kesaktian luar biasa yang dapat membuat orang semua takjub kepadanya, sedangkan dirinya jauh dari tuntunan dan ajaran agama. Syaikh Muhammad al-Adawi mengatakan :

“Pemahaman wali sebagai orang yang memiliki karomah (kelebihan luar biasa) adalah merupakan sesuatu yang berbeda. Apabila seseorang memiliki kelebihan di luar kebiasaan manusia biasa, maka orang tersebut belum tentu disebut sebagai Wali Allah SWT. Yang pertama kali harus dilihat apakah tingkah laku kesehariannya sesuai dengan al-Qur’an atau Hadits. Jika tingkah lakunya sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW maka ia adalah Wali Allah. Tetapi bila tidak sesuai maka dia bukanlah Wali Allah. Abu al-Qasim al¬junaid berkata, “Ilmu kita (para wali) selalu dikaitkan dengan al-Qur’an dan al-Sunnah. Siapa saja yang tidak mau membaca al-Qur’an dan menulis hadits maka la tidak pantas untuk membicarakan ilmu kita ini, atau ia berkata “Orang itu tidak pantas untuk diikuti” (Al¬Syarh al-Jadid li jawharah al-Tauhid, 115)

Karena itu, orang yang mengaku dirinya sebagai wali, tapi meninggalkan syariat, maka pengakuannya itu adalah dusta semata. Sebagaimana yang dikatakan oleh Hadhratussyaikh KH. Hasym’Asy’ari mengutip dari kitab Nathij al-Afkar sebagai berikut :

Siapa apa saja yang mengaku dirinya menjadi wali tanpa bukti bahwa dia mengikuti syari’at Nabi Muhammad SAW, maka pengakuan orang tersebut adalah dusta dan palsu “. (Al-Durar al-Muntatsirah fi al-MasWil al-Tis’a ‘Asyarah, 4)

Lebih lanjut, Syaikh al-Qusyairi menyebutkan tentang ciri-ciri seorang waliyullah:

Tanda-tanda wali ada tiga. Aktifitasnya hanya untuk Allah SWT, segala hal dikembalikan kepada Allah SWT dan cita-cita(semangat juang)nya hanyalah Allah SWT semata“. (Al-Risalah al¬Qusyairiyah fi ‘llm al-Tashawwuf, 260)

Untuk mencapai ciri kewalian tersebut, seseorang haruslah terjaga dari kemaksiatan (mahfuzh).

Di antara syarat wali adalah harus terjaga dari kemaksiatan (mahfuzh) sebagaimana syarat Nabi harus juga terjaga dari kemaksiatan (ma’shum)“. (Al-Risalah al-Qusyairiyah fi ‘llm al-Tashawwuf, 260).

Adapun yang dimaksud dengan mahfuzh adalah :

Yang dimaksud dengan wali itu mahfuzh (terjaga dari dosa) adalah bahwa wali ltu dijaga oleh Allah secara terus-menerus dari ketergelinciran dan kesalahan. Apabila ia terjatuh ke dalam dua hal itu, dia langsung diilhami untuk bertaubat, sehingga dia bertaubat dari ketergelinciran dan kesalahan tersebut“. (Al-Durar al-¬Muntatsirah fi al-Masa‘il -al-Tis’a ‘Asyarah, 5)

Seringkali para wali itu memiliki kelebihan dan kelemahan yang tidak dimiliki oleh manusia umumnya, yang dikenal dengan karamah. Apa yang disebut dengan karamah? Betulkah karamah itu ada? Dalam al-Syarh al -jadid li Jawharah al-Tauhid disebutkan:

Tetapkanlah olehmu bahwa para wali itu mempunyai karamah, dan barang siapa yang mengingkarinya, jangan pedulikan ucapannya”. (al-Syarh al-Jadid li jawharah al-Tauhid, 113)

Lebih jelas lagi, Ibn Taimiyyah mengatakan :

Kaum Ahl al-Sunnah wa al-jama’ah mempercayai adanya karamah para Wali. Karamah adalah perkara yang luar biasa tanpa bersamaan dengan pengakuan kenabian. jika diikuti dengan pengakuan kenabian, maka disebut dengan mukjizat“. (Syarh al¬”Aqidah al-Wasithiyyah, 82)

Karamah merupakan perkara yang tidak diragukan lagi keberadaannya. Sebab itu sudah terbukti sejak lama. Ibn Taimiyyah mengatakan :

Perkataan (cerita yang telah disebutkan dalam Surat al-Kahfi dan lainnya tentang umat terdahulu, baik sahabat, tabi’in, serta umat yang lainnya) hal itu memberikan gambaran akan adanya karamah yang terjadi dan dicantumkan dalam al-Qur’an serta dalil-dalil lain yang shahih. Diantara karamah yang disebutkan dalam al-Qur’an tentang umat terdahulu adalah tentang kehamilan Maryam RA tanpa adanya seorang suami. Dan cerita yang disebutkan dalam al-Qur’an tentang kisah hidup Ashhab al-Kahfi, cerita sahabat Musa dan cerita sahabat serta cerita Dzulqarnain“. (Syarh al-“Aqidah al Wasithiyyah)

Namun, tidak semua wali memiliki karamah. Dan tidak semua perkara luar biasa itu merupakan karamah yang menunjukkan kewalian seseorang. Yang disebut karamah apabila hal itu timbul dari orang-orang yang selalu berpegang teguh pada aturan dan tuntunan agama Allah SWT. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Syarh al-Jadid li jawharah al-Tauhid :

Tidak ada talazum. (keterkaitan yang erat) antara wali dan perkara luar biasa yang dimiliki seseorang. Kadang kala seseorang menjadi wali, dan tidak nampak perkara yang luar biasa pada dirinya. Dan tidak jarang pula perkara luar biasa itu “muncul dari musuh Allah SWT sebagai sebuah fitnah“. (Al-Syarh al-Jadid Ii jawharah al¬Tauhid , 1161)

Lebih jelas Abi Yazid al-Busthami, seorang sufi besar menyatakan:

“Andaikata kamu melihat seseorang memiliki keramat sehingga bisa terbang di udara, maka janganlah kamu tertipu dengan peristiwa tersebut. Tetapi perhatikanlah terlebih dahulu bagaimana sikap dia dalam melaksanakan perintah dari larangan Allah SWT, menjaga ketentuan-ketentuan agama serta dalam melaksanakan syari’at“. (Qadhiyyah al-Tashawuf al-Munqidz min al-Dhalal, 130)

Dari paparan singkat ini ada beberapa hal yang dapat kita petik. Pertama, wali adalah hamba Allah yang sangat cinta kepada-Nya. Mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh kepada kitab Allah SWT dan sunnah Rasul-Nya. Melaksanakan semua perintah Allah SWT dan menjauhi semua larangan-Nya. Kedua, karimah merupakan perkara luar biasa yang dimiliki oleh seorang wali Allah SWT, meskipun tidak semua wali memilikinya.

Referensi:

Tanya Jawab Praktis Ahlussunnah Wal Jamaah

Makalah Susunan Ustadz Dawud Arif Khan mengenai Aqidah ASWAJA

potrethabaib.multiply.com

santribuntet.wordpress.com

PENUTUP

Demikianlah modul yang kami susun. Mohon maaf apabila terdapat kesalahan baik secara isi maupun cetakan. Kami berharap modul ini dapat menambah keyakinan kita sebagai ummat Islam yang menganut paham ahlussunnah wal jamaah. Untuk kritik, saran dan pertanyaan, dapat disampaikan kepada kami. Terima kasih.

Wassalamualaikum wr wb.

Penyusun

Chafid (085648988083)

Juned (085649147855)

Khanan (085742095859)





Lima Dalil Hukum

31 05 2008

LATIHAN DASAR PEMANTAPAN

PAHAM AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH

LIMA DALIL PERJUANGAN

PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA

IKATAN MAHASISWA NAHDLIYYIN

15 – 17 JULI 2007

PENDAHULUAN

Imam-imam mujtahidin mu’tabarin selalu menggunakan dalil-dalil sebagai dasar dalam berijtihad dan beristinbath untuk menemukan hukum sesuatu yang tidak ada dalilnya yang bersifat qath’I di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dengan mengetahui dan memahami dalil-dalil yang mereka pergunakan tersebut, kita dapat mengetahui betapa sangat teliti dan seksama para imam mengolah dalil-dalil Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dengan demikian, keyakinan kita akan menjadi lebih teguh karena hasil ijtihad (madzhab) dapat dipertanggungjawabkan secara diniyah, terutama memperhatikan akhlak, keahlian, dan kepribadian imam-imam tersebut

Di dalam mengikuti suatu pendapat mengenai masalah agama, bukan saja hanya dinilai pendapatnya, tetapi harus pula dinilai akhlak, keahlian, kesucian batin dan kepribadian orang yang diikuti, sebagaimana ajaran nabi:

“Perhatikanlah dari siapa kamu mengambilnya”

Semoga uraian singkat ini membawa manfaat bagi seluruh umat Islam dan dapat dipergunakan dengan uraian-uraian lain tentang hal-hal yang harus menjadi landasan berpikir, bersikap, dan bertindak bagi kaum Nahdliyyin khususnya dan kaum Ahlussunnah Wal Jamaah pada umumnya.

Kita memohon kepada Allah untuk selalu mendapat ridla dan rahmat-Nya di dalam segala amal dan perbuatan kita termasuk di dalamnya semoga Ikatan Mahasiswa Nahdliyyin dapat istiqomah menyelenggarakan kegiatan Latihan Dasar Pemantapan Paham Ahlussunnah wal Jamaah demi meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

Jakarta, 4 Juni 2007

LIMA DALIL PERJUANGAN

Nahdlatul Ulama memiliki tanggapan, sikap, dan program tentang masalah-masalah perjuangan berdasarkan atas prinsip-prinsip, patokan/kaidah yang disebut lima dalil perjuangan, yaitu:

1. Jihad Fisabilillah,

2. Izzul Islam Wal Muslimin,

3. At-Tawasshuth/Al-I’tidal/At-Tawazun,

4. Saddudz Dzariah,

5. Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Masing-masing dengan pengertian dan penjelasan pada uraian selanjutnya.

1. Jihad Fisabilillah

a. Pengertian yang benar tentang jihad fisabilillah adalah:

1) Dalam arti perang fisik

2) Dalam arti perjuangan berdakwah dan bertabligh

3) Dalam arti pengorbanan harta, tenaga, dan pikiran

4) Dalam arti perjuangan batin membina akhlak dan memerangi hawa nafsu

5) Dalam arti perjuangan untuk perbaikan taraf penghidupan (pangan, papan, sandang)

“…dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (Al-Qur’an, Surat At-Taubah ayat 41)

“Sedang Nabi SAW. duduk-duduk bersama beberapa sahabatnya pada suatu hari, mereka melihat seorang pemuda yang gagah, pagi-pagi pergi bekerja. Mereka berkata: ‘Cih, pemuda ini! Kalau kemudaannya dan kebesaran badannya dipergunakan berperang sabilillah (alangkah baiknya)’ Bersabdalah Nabi SAW.:’Janganlah kalian berkata demikian! Sesungguhnya kalau dia bekerja untuk dirinya untuk mencegah diri dari minta-minta dan tidak memerlukan pertolongan orang, maka dia telah berada di Jalan Allah, kalau dia bekerja untuk dua orang tuanya yang sudah lemah (tidak mampu bekerja) atau keluarganya yang lemah supaya mencukupi kebutuhannya, maka ia telah berada di jalan Allah. Kalau dia bekerja untuk mencari kemegahan dan kemewahan, maka dia berada di jalan setan.” (Thabrani)

b. Jihad fisabilillah memerlukan ketahanan mental dan timbal baliknya juga menumbuhkan ketahanan mental, dengan perkataan lain:

1) Untuk mau berjihad, seseorang memerlukan semangat, dorongan, dan pembinaan mental.

2) Orang yang berjihad karena Allah, akan bertambah kuat iman dan semangatnya, bertambah pengalaman dan pengetahuannya tentang perjuangan, untuk dapat melanjutkan perjuangan itu.

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (Al-Maidah: 54.)

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.(Al-Ankabut: 69.)

c. Pengertian jihad inilah, antara lain, yang menjadi sasaran utama untuk diselewengkan oleh Inggris (baca: kapitalis, imperialis, kristen, barat) dengan menggunakan gerakan Ahmadiyah yang dibina, dibiayai dan didalangi oleh pemerintah Inggris yang menyebarkan pendapat:

1) Bahwa jihad fisabilillah hanya boleh dilaksanakan dengan damai, tutur kata, tanpa perlawanan apalagi kekerasan terhadap lawan

2) Bahwa orang Islam wajib taat dan setia kepada setiap pemerintah yang ada meskipun pemerintahan bangsa asing atau pemerintahan yang menentang ajaran Allah dan rasul-rasul-Nya.

Dengan segala macam usaha, tipu-daya, kelicinan, dan kelicikan; pendapat yang sesat ini diselundupkan dan disalurkan dengan lesan, tulisan, dan lain-lain.

d. Dengan demikian dimaksudkan supaya:

1) Akhirnya ajaran Islam tinggal kulitnya, sedangkan isinya sudah sesuai ‘pesanan Inggris’ (sesat)

2) Akhirnya umat Islam menjadi ‘jinak’, tidak ada daya perlawanan, kehilangan vitalitas dan menjadi kokohlah supremasi dan dominasi imperialis, kristen, barat atas umat Islam di segala bidang

e. Jihad dalam arti perang fisik adalah:

1) Tindakan penertiban keamanan dalam negeri

Tindakan ini hanya boleh dilakukan oleh pemerintah untuk memulihkan ketertiban dan keamanan umum dan untuk menjaga kesatuan dan persatuan bangsa dan umat, ditujukan kepada mereka yang menyusun kekuatan fisik untuk:

a) melakukan tindakan kekerasan terhadap segolongan lain dari rakyat (segolongan rakyat melawan segolongan rakyat yang lain)

b) melakukan pembangkangan dan pemberontakan terhadap pemerintah yang sah (atau dilakukan PBB terhadap negara anggotanya yang membahayakan perdamaian dunia)

“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Al-Hujurat: 9-10)

2) Tindakan keluar (terhadap negara lain), yaitu untuk:

a) Melawan kelaliman dan pengusiran semena-mena (termasuk melawan penjajahan)

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah.”… “ (Al-Hajj: 39-40)

b) Mempertahankan diri dari serangan musuh (dari luar)

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-Baqarah: 190)

3) Perang untuk meratakan jalan dari segala macam rintangan dan perlawanan bagi perkembangan kebebasan beragama, ditujukan kepada:

a) Mereka yang dengan kekuatan/kekerasan menghalangi dan merintangi perkembangan kebebasan beragama pada umumnya dan agama Islam pada khususnya.

Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah…(Al-Baqarah:193)

b) Mereka yang dengan kekerasan memaksakan perbuatan kedhaliman dan kesewenang-wenangan

…Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan(Nya). (An-Nisa: 84)

Itulah pengertian dari trilogi yang terkenal: Islam atau Jizyah atau Perang.

Islam berarti mau mengikuti ajaran Allah.

Jizyah berarti menyerah dengan membayar upeti sebagai tanda tidak bermusuhan dan membuka/meratakan jalan bagi perkembangan kebebasan beragama.

Perang, kalau kedua jalan tersebut ditolak, maka tinggal satu-satunya jalan yang bisa ditempuh, yaitu: perang (kekerasan).

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (Attaubah:29)

2. Izzul Islam Wal Muslimin

a. Al-Izzah, arti semula adalah keunggulan, kemenangan, kejayaan, atau kedudukan baik. Di sini akan digunakan dalam pengertian harga diri. Sebagai prinsip atau dalil perjuangan, Nahdlatul Ulama memberikan arti kesadaran sepenuh-penuhnya bahwa:

1) Islam adalah agama Allah, agama yang paling sempurna, untuk segala orang dan untuk segala zaman

2) Umat Islam, di mana saja, kapan saja, berhak sepenuhnya atas harga diri yang sesuai dengan ketinggian martabat agamanya, bahkan wajib memperjuangkan tercapainya harga diri yang luhur itu serta mempertahankannya dengan segala kemampuan yang ada

3) Percaya atas kekuatan diri umat Islam sendiri, dengan pengertian bahwa:

a) ajaran Islam mampu menggerakkan umat Islam untuk menegakkan dan mempertahankan agamanya

b) umat Islam mampu berjuang/berjihad memelihara, mengembangkan, dan mempertahankan agamanya

c) tidak menggantungkan diri kepada bantuan, apa lagi belas kasih pihak lain

d) jihad menegakkan kalimat Allah tidak dapat dan tidak boleh dititipkan kepada pihak lain

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imron:19)

“Islam itu luhur dan tidak ada yang lebih luhur lagi, tidak ada yang mengatasinya

Jangan kamu sekalian merasa rendah diri, jangan pesimis, kamu sekalianlah yang paling luhur, kalau kamu sekalian beriman

Keunggulan itu hanya milik Allah, rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Al-Maidah:3)

b. Prinsip harga diri dipertahankan dengan:

1) menyesuaikan hidup dan kehidupan umat Islam dengan pola-pola ajaran Islam.

2) tidak hanya meniru-niru apa yang datang dari luar Islam, tanpa diukur dengan norma-norma Islam sendiri, apalagi bila peniruan itu bersumber dari rasa rendah diri dan pengakuan atas supremasi dan dominasi pihak yang ditiru.

“Barangsiapa meniru-niru perbuatan sesuatu golongan, maka ia termasuk golongan lain itu.”

3) selalu berjiwa aktif dan dinamis mencari tempat/bidang perjuangan lain, kalau seandainya mengalami kegagalan di suatu tempat/bidang perjuangan, tidak kemudian menjadi lesu dan berputus asa.

4) berjiwa dan bersikap ‘hijrah’ dalam arti tidak mengadakan kerjasama dengan pihak yang jelas ingin merugikan perjuangan Islam (noncooperation).

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?.” Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah).” Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?.” Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisa:97)

3. Tawasshuth

a. Tawasshuth atau synthetisme diartikan: jalan pertengahan antara dua ujung ekstrimisme. Termasuk dalam pengertian ini:

1) Tawazun (keseimbangan, hukum berpasangan, harmonisasi)

2) I’tidaal (tegak lurus, lepas dari penyimpangan ke kanan dan ke kiri)

3) Iqtishad (menurut keperluan, tidak berlebih-lebihan)

b. Islam adalah agama kesatuan, dengan arti:

1) Umat manusia adalah satu kesatuan, berbeda untuk bekerja sama, berpisah untuk berkumpul. Islam berusaha mempersatukan seluruh umat manusia yang berbeda dan berpisah, supaya berkesatuan sebagai hamba Tuhan: bertauhid dan beribadah kepada Allah Yang Maha Tunggal.

2) Alam semesta adalah satu kesatuan, masing-masing bukan musuh/lawan bagi yang lain. Manusia tidaklah harus memusuhi/melawan dan menundukkan alam, tetapi berkawan dengan alam untuk dapat dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemanfaatan manusia di dalam mencapai tujuan terakhir, yaitu mardlatillah.

3) Islam secara berbarengan memperhatikan:

a) Faktor-faktor dan kepentingan-kepentingan rohaniah dan jasmaniah.

b) Faktor-faktor dan kepentingan-kepentingan spiritual dan materiil.

c) Faktor-faktor dan kepentingan-kepentingan masyarakat dan perorangan.

d) Faktor-faktor dan kepentingan-kepentingan generasi dulu, generasi kini, dan generasi yang akan datang, di dalam satu rangkaian kesatuan untuk melaksanakan satu tugas jihad fisabilillah. Dengan perkataan lain: Perjuangan menegakkan kalimat Allah di atas kalimat manusia adalah satu revolusi yang harus digarap oleh seluruh generasi.

c. Bagi Nahdlatul Ulama yang berhaluan madzhab Ahlussunnah Wal Jamaah, prinsip tawasshuth ini bukan saja dalam bidang filosofis, tetapi meliputi semua bidang, antara lain:

1) Bidang aqidah

a) Berpegang teguh pada dalil naqli (nash Al-Quran dan Al-Hadits) dan dalil aqli (rasio dan logika) yang tidak bertentangan dengan dalil naqli.

b) Menghormati secara wajar semua sahabat-sahabat, terutama khulafaurrasyidin tanpa membenci kepada seseorang di antara mereka. Kalau ada perbedaan pendapat di antara mereka, maka adalah hasil ijtihad masing-masing.

c) Berpendirian bahwa Allah mempunyai sifat-sifat yang membuktikan kemahasempurnaan-Nya tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk.

d) Berpendirian bahwa “masyi’ah” (kehendak yang menentukan) itu dari Tuhan, sedangkan “kasab” (ikhtiar dan usaha) dari manusia. Dengan perkataan lain: manusia mempunyai rencana, namun Tuhanlah yang menentukan berhasil tidaknya rencana itu.

e) Menghadapi sesuatu peristiwa secara wajar, tidak panik, jengkel, kemudian terjerumus menyalahkan semua pihak, apalagi mengkafirkannya, dan dengan demikian menolak ekstrimisme yang ada pada:

(1) Mu’tazilah, yang terlalu rasionalistis sehingga memaksa-maksa dalil naqli untuk disesuaikan dengan apa yang dapat difahami oleh akal mereka (dalil aqli).

(2) Khawarij, yang terlalu jengkel terhadap dua pihak yang sedang bertentangan (pihak Sayyidina Ali dan Sayyidina Muawiyah) sehingga memusuhi kedua-duanya.

(3) Syiah, yang terlalu mencintai Sayyidina Ali sehingga menyalahkan/ memusuhi semua pihak yang tidak mau memuja Sayyidina Ali menurut cara mereka.

(4) Musyabbihah, yang terlalu letterlijk memahami dalil-dalil yang menerangkan sifat-sifat Allah sehingga mereka “menyerupakan” Allah dengan makhluk dengan adanya sifat-sifat yang sama.

(5) Mu’aththilah yang terlalu khawatir terjerumus kepada “menyerupakan” Allah dengan makhluk sehingga mereka berpendapat bahwa Allah itu tidak memiliki sifat apa-apa.

(6) Jabariyah, yang terlalu bersandar kepada takdir sehingga mereka berpendapat bahwa makhluk tidak mempunyai rasa tanggung jawab karena tidak memiliki kemampuan untuk berkehendak berbuat apa-apa.

(7) Qadariah yang berlebih-lebihan menilai kehendak makhluk sehingga mereka berpendapat bahwa segala sesuatu sepenuhnya timbul karena kehendak makhluk sendiri, tidak ada “campur tangan” Tuhan.

2) Bidang Akhlaq, berpegang teguh kepada pendirian:

a) Bahwa pada dasarnya semua manusia adalah sederajat dan seharga. Menghormat kepada yang lebih ‘besar’ dan mengasihi yang lebih ‘kecil’, masing-masing secara wajar, tidak berlebih-lebihan.

b) Bahwa keberanian dan perhitungan adalah sekaligus harus dipergunakan sebagai dua tindakan yang wajar dan seimbang.

c) Bahwa harta benda harus dipergunakan untuk keperluan kebaikan menurut keperluan, tidak lebih dan tidak kurang.

d) Bahwa kepentingan diri harus diperhatikan tanpa pengorbanan pihak lain apalagi kepentingan umum; sebaliknya kepentingan orang lain/umum harus diperhatikan (ditolong) tanpa merusak diri sendiri.

e) Dan lain-lain sifat tawasshuth, dan karena itu Islam menolak kelebihan-kelebihan dari:

1) Tahawwur, yaitu terlalu berani sehingga tidak memperhatikan akibat dari sesuatu perbuatan yang menimbulkan bahaya dan kerusakan

2) Jubn, terlalu memperhitungkan bahaya sehingga tidak berani berbuat sesuatu dengan alasan perhitungan dan kebijaksanaan.

3) Takabbur, terlalu tinggi menilai diri sendiri terlalu rendah menilai pihak lain sehingga menjadi sombong, congkak, ujub, dan lain-lain.

4) Ihanatunnafs, yaitu terlalu rendah menilai diri sendiri dan terlalu tinggi menilai pihak lain sehingga menjadi penakut, pesimis, diam, apatis.

5) Bukhl, yaitu terlalu seret mengeluarkan harta benda, sehingga tidak dapat memanfaatkan harta bendanya, hanya menjadi waker dari harta bendanya

6) Isrof, terlalu mudah mengeluarkan harta bendanya sehingga habis harta bendanya tanpa manfaat, nafsu-nafsu lainnya yang tidak terkendalikan lagi.

7) Iitsar, yaitu terlalu bersemangat mengorbankan diri dan kepentingannya sehingga sengaja merusak diri dengan maksud membela pihak lain.

8) Ananiyah, yaitu terlalu mementingkan diri sendiri sehingga mengorbankan kepentingan orang/pihak lain, mencari untung untuk diri sendiri dengan merugikan orang lain.

9) Dan lain-lain budi pekerti yang berat sebelah.

3) Bidang Syariah, berpendirian bahwa:

a) Manusia mempunyai kewajiban terhadap Allah, terhadap sesama manusia, terhadap alam semesta, dan terhadap diri sendiri. Masing-masing harus dilakukan seimbang menuju ke arah mardlatillah

b) Setiap muslim pada dasarnya harus memahami Al-Quran dan Al-Hadits sebagai sumber ajaran Islam, tetapi karena kenyataan menunjukkkan tidak semua/tidak banyak jumlahnya orang yang mampu memahami secara benar, maka Nahdlatul Ulama memilih haluan bermadzhab, mengikuti pendapat tokoh-tokoh/imam-imam yang menurut ujian sejarah jelas mempunyai pendapat-pendapat (madzhab) yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, kelengkapannya dan kemurniannya (madzhab empat) dan dengan demikian menolak:

(1) Tasahul, yaitu gemampang atau menganggap ringan masalah-masalah agama dan pelaksanaan syariatnya sehingga malas beribadah, asal berjiwa dan bersemangat agama, dan sebagainya.

(2) Ghuluw, yaitu terlalu bersemangat dalam beribadah sehingga berlebih-lebihan, melewati batas, seperti berpuasa pati geni dan tidak mau kawin (karena ingin suci) dan sebagainya atau melupakan masalah duniawiah sama sekali.

(3) Taqlid buta, terlalu mengikuti pendapat orang lain tanpa memperhitungkan kemampuan/kemurnian yang diikuti atau mengikuti semua pendapat orang yang ringan-ringan saja sehingga terjerumus ke dalam talfiq.

(4) Ijtihad serampangan, yaitu terlalu berani berijtihad dan beristinbath sendiri tanpa mengingat kemampuan diri, tanpa memenuhi syarat-syarat, sehingga menimbulkan kesimpangsiuran, kekeliruan, penyelewengan, dan sebagainya.

4) Bidang Ekonomi, berpendirian:

a) Bahwa seluruh alam semesta diciptakan oleh Allah untuk kepentingan manusia yang harus dimanfaatkan oleh manusia sebagai bekal ibadah kepada Allah.

b) Kepentingan dan hak individu/pribadi bukan hanya saja diakui, tetapi dilindungi; namun tiap pribadi/individu sebagai warga masyarakat wajib memperhatikan dan beramal untuk kesejahteraan orang lain/masyarakat, dan menolak ekstremisme yang ada pada:

(1) Liberalisme-kapitalisme, yang terlalu memberikan hak dan kebebasan kepada perorangan/individu tanpa memperhatikan/melindungi kepentingan masyarakat sehingga menimbulkan penindasan-penindasan, penghisapan manusia atas manusia.

(2) Marxisme-komunisme, yang dengan dalih mementingkan kepentingan umum, merampas hak dan kebebasan perorangan (individu) sehingga melingkar kembali menimbulkan penindasan minoritas yang berkuasa terhadap mayoritas yang sudah dirampas kekuasaannya.

4) Bidang Politik ketatanegaraan, berpendirian:

Negara adalah organisasi milik warga negaranya untuk kesejahteraan hidupnya. Kepentingan negara harus diperhatikan oleh para warganya, demikian pula negara harus memperhatikan kepentingan warganya, diajak bicara dan bekerja untuk kepentingan negaranya, karena itu Islam menolak berlebih-lebihan yang terdapat pada:

a) Demokrasi liberal dalam bentuknya yang asli, yang memberikan kebebasan mutlak dalam memperoleh kekuasaan dengan jalan kebebasan berpendapat, pendapat yang bagaimana saja tanpa garis ajaran dan batas-batas.

b) Diktator, dalam segala bentuknya yang hanya memperbolehkan satu pendapat, satu cara hidup; tanpa musyawarah, tanpa kebebasan, sehingga hanya penguasa yang berhak mengeluarkan pendapat dan harus ditaati secara mutlak

5) Bidang Kebudayaan, berpendirian:

a) Bahwa kebaikan dan kebenaran hanyalah dari Allah yang diberikan kepada manusia dahulu, manusia kini, dan manusia masa depan.

b) Yang baik dari manapun dan kapanpun datangnya, harus dipelihara dan dikembangkan. Yang buruk dari manapun dan kapanpun datangnya, harus dicegah, dan menolak pendapat yang:

(1) Terlalu mengagungkan yang lama, sama sekali menolak yang baru, sehingga beku dan tidak berkembang

(2) Terlalu mengagungkan yang baru, memutuskan hubungan dan menghapus yang lama sehingga hanyut tak terkemudi

6) Dan lain-lain bidang, selalu tawasshuth, i’tidal, tawazun menjadi prinsip dan pedoman.

d. Di mana ada ujung yang berlebih-lebihan, maka Islam menegakkan kebenaran di tengah-tengahnya, tegak-lurus, As Shirathal mustaqim.

“Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (Al-Anbiyaa:92)

“…dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (Al-Furqan:2)

“…Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang…” (Al-Mulk:3)

“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (Yasin:36)

4. Saddudz Dzariah (Kewaspadaan yang Bersifat Preventif)

a. Saddudz Dzariah artinya menutup jalan ke arah bahaya. Semua hal atau perbuatan yang terang menimbulkan bahaya atau menimbulkan sesuatu yang terlarang, menurut Islam dihukumi terlarang, meskipun perbuatan/hal itu sendiri aan sich (lidzatihi) semula tidak terlarang. Jalan yang terang menuju bahaya harus ditutup.

b. Prinsip Saddudz Dzariah atau tindakan preventif ini digunakan untuk menilai perbuatan itu sendiri, apakah berakibat baik atau buruk, tanpa melihat niat yang melakukannya:

1) Perbuatan yang terang berakibat buruk dilarang, walaupun dilakukan dengan niat baik. Tentang pahala niatnya baiknya adalah urusan Allah, tetapi perbuatan itu sendiri dilarang.

2) Perbuatan yang berakibat baik tidak dilarang, walaupun dilakukan dengan niat buruk. Tentang dosa dari niat buruknya adalah urusan Allah, tetapi perbuatan itu sendiri tidak dilarang.

Dengan perkataan lain, prinsip Saddudz Dzariah memisahkan penilaian antara niat dan perbuatan. Prinsip ini akan mempengaruhi prinsip al umuru bimaqashidiha (segala sesuatu diukur dengan niatnya) nanti pada bagian dalil hukum. Tegasnya niat baik di dalam melakukan perbuatan terlarang atau terang menimbulkan bahaya tidak mengubah hukum larangan terhadap perbuatan itu. Contoh:

1) Seorang dengan ikhlas lillahi ta’ala mencaci-maki patung-patung yang dituhankan oleh penyembah-penyembah berhala yang membawa akibat golongan itu mencaci-maki Allah. Niat baiknya mungkin mendatangkan pahala, tetapi perbuatannya itu dilarang.

2) Seorang pedagang membanting harga dagangannya sedemikian rupa sehingga mempengaruhi harga pasar (turun), tetapi niatnya untuk menjatuhkan saingannya, pedagang lain. Maka perbuatan ini tidak terlarang. Adapun dosa niat buruknya terserah pada Allah.

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan…” (Al-An’am:108)

5. Amar Ma’ruf Nahi Munkar

a. Arti sekata demi sekata dari amar ma’ruf nahi munkar ialah:

1) Amar ma’ruf = menyuruh berbuat baik.

2) Nahi munkar = mencegah berbuat buruk.

b. Menurut istilah (terminologi) Islam, amar ma’ruf nahi munkar adalah usaha sekuat-kuatnya dengan cara yang sebaik-baiknya menggunakan alat yang ada untuk tercapainya tujuan:

1) Terlaksananya segala kebaikan yang diajarkan oleh Islam.

2) Tercegahnya segala keburukan yang dilarang oleh Islam.

c. Prinsip ini adalah merupakan kewajiban dan sikap hidup setiap muslim, sesuai dengan posisi, kondisi, dan situasinya masing-masing.

1) Wajib bagi setiap muslim, yaitu:

Amar ma’ruf nahi munkar terhadap hal-hal/perbuatan-perbuatan yang dapat diketahui nilai/hukumnya oleh setiap orang, menurut hukum agama yang jelas (tanpa ragu-ragu, tanpa memerlukan pertimbangan/perbandingan yang rumit). Umpamanya: mengajak sembahyang, puasa, tolong menolong, dan sebagainya; atau melarang mencuri, mencaci-maki, membunuh, memfitnah, dan sebagainya.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” (Ali Imron:110)

2) Wajib bagi golongan-golongan tertentu:

a) Amar ma’ruf nahi munkar terhadap hal-hal yang memerlukan pertimbangan-pertimbangan yang saksama dari segi hukum agama dan nilai-nilai kemasyarakatan, supaya tidak terjadi kemlesetan penilaian. Hal ini khusus menjadi tugas ahli hukum atau pemimpin masyarakat.

b) Hal-hal yang memerlukan kewenangan. Kekuasaan (authority) untuk menjamin ketertiban dan keamanan. Hal ini khusus menjadi tugas pejabat/penguasa pemerintah yang kompeten, seperti menghukum pencuri, pembunuh, dan lain-lain.

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imron:104)

d. Sasaran Amar ma’ruf nahi munkar adalah perbuatan manusia dalam arti yang luas, termasuk sikap mental , ucapan, dan tingkah laku. Tentang istilah munkar, dijelaskan sebagai berikut:

1) Perbuatan munkar adalah perbuatan yang harus dicegah timbulnya, meskipun perbuatan itu sendiri tidak termasuk dosa bagi yang melakukannya, umpamanya: telanjangnya seorang gila di tempat umum, sikap/ucapan ahli tasawuf/tarekat yang karena sulit dipahami oleh orang awam sehingga dapat menyesatkan, dan sebagainya. Jadi munkar lebih luas daripada maksiat dan tidak khusus dosa-dosa besar saja.

2) Perbuatan munkar yang wajib dicegah haruslah perbuatan yang nyata dan tampak, tanpa memerlukan penyelidikan (tajasus), tanpa dicari-cari.

3) Perbuatan yang harus dicegah itu harus pula sudah jelas-jelas, tidak diperselisihkan (mukctalaf ‘alaih) menurut ijtihad. Tegasnya yang mujma’ ‘alaih, muttafaq ‘alaih, disepakati oleh imam-imam mujtahid bahwa perbuatan itu adalah munkar.

e. Pelaksanaan amar ma’ruf nahi munkar haruslah bertahap dan bertingkat, terutama dengan memperhatikan faktor-faktor: pelaksana amar ma’ruf nahi munkar dan pelaku perbuatan ma’ruf/munkar.

1) Ta’rif/ta’lim/ta’dib: pemberitahuan, peringatan, pendidikan, bimbingan dan cara-cara halus lainnya tanpa melukai hati yang bersangkutan.

Andaikata kamu kaku dan keras, maka mereka akan menjauhi kamu.

Barangsiapa mengajak kebaikan, maka ajakan itu harus dengan baik pula.

2) Nahi bittakgwif: larangan dengan menakut-nakuti kepada ancaman hukuman-hukuman. Tingkat ini terutama ditujukan kepada pelaku munkar yang sudah jelas tahu dan menyadari keburukan perbuatannya itu

3) Ta’nif: ultimatum, peringatan kasar dan sebagainya; terutama ditujukan kepada pelaku munkar yang berbahaya dan mengejek segala nasihat halus. Pada tingkat ini harus diperhatikan:

a) Hanya dilakukan setelah terpaksa dilakukan.

b) Kata-kata keras ditujukan hanya pada persoalannya saja, tidak merembet-rembet yang lain.

4) Takhjir biljad: mencegah/mengubah yang sama dengan fisik. Pada tingkat ini harus diperhatikan:

a) Rakyat umum/anggota masyarakat hanya berkewajiban dan boleh amar ma’ruf nahi munkar itu dengan usaha-usaha tanpa kekerasan fisik.

b) Penangkapan, pemenjaraan, pemukulan, atau penyitaan hanya menjadi hak penguasa pemerintahan.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” (Ali Imron:110)

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imron:104)

f. Pada scope yang lebih luas dan dengan program jangka panjang, amar ma’ruf nahi munkar dilakukan dengan:

1) Tarbiyyah watta’lim: melaksanakan, memelihara, mengembangkan, dan meningkatkan pendidikan dan pengajaran Islam bagi putera-puteri Islam yang akan mewarisi perjuangan di masa depan sehingga mereka menjadi muslim yang berilmu agama Islam, yakin akan kebenaran Islam, beramal menurut Islam.

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata…” (Yusuf:108)

“…Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar.” (Al-Baqarah:111)

2) Al-irsyad: memberikan bimbingan kepada khalayak umum ke arah ilmu dan amalan islam, dan mempengaruhi pendapat umum (public opinion) ke arah kebenaran dan kemenangan perjuangan Islam, dakwah menegakkan kalimat Allah di atas kalimat manusia

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar… (At Taubah:71)

Tiada ada sesuatu bangsa melakukan kemaksiatan padahal di antara mereka ada yang mampu melarangnya, tetapi tidak berbuat apa-apa kecuali maka umat itu dikhawatirkan menerima siksa dari Allah secara keseluruhan (Al-Hadits)

3) Al-istikhlaf: memanfaatkan legalitas, otoritas, dan fasilitas wewenang, kekuasaan, kedudukan dan jabatan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan di bidang eksekutif, legislatif, teknis administratif, dan lain-lain.

(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan (Al-Haj:41)

g. Amar ma’ruf nahi munkar kepada penguasa/pemerintah, Nahdlatul Ulama lebih mengutamakan cara:

1) Personal approach, pendekatan pribadi, kontak person.

2) Legalitas pada lembaga legislatif, mempergunakan hak bicara, menyampaikan usul, mengoreksi dan lain sebagainyadi dalam badan-badan yang ditentukan untuk itu.

“Sebaik-baiknya jihad adalah menyampaikan kebenaran kepada penguasa yang sewenang-wenang.” (Al-Hadits).

“Barangsiapa mempunyai pendapat/nasehat untuk penguasa maka janganlah digembar-gemborkan di muka umum. Peganglah tangannya, temuilah sendirian. Kalau ia terima usul pendapat/nasehat itu, baiklah. Kalau tidak diterimanya maka pengusul sudah memenuhi kewajiban dan haknya .“(Al-Hadits)

h. Di dalam melakukan prinsip amar ma’ruf nahi munkar ini Nahdlatul Ulama mempunyai tiga arena yang harus digarap bersamaan:

1) Arena pemerintahan: ikut bergerak dan menggerakkan segala kegiatan politik/pemerintahan dalam segala aspek dan fasetnya (legislatif, eksekutif, dan lain-lainnya).

2) Arena kemasyarakatan: ikut bergerak dan menggerakkan potensi dan aktivitas masyarakat, di mana terdapat segala macam kekuatan yang positif.

3) Arena intern organisasi:

a) Memelihara dan mengembangkan potensi partai dengan segenap ormasnya yang cukup besar dan kompleks.

b) Menggerakkan potensi partai raksasa ini untuk menggarap segala programnya.

LIMA DALIL HUKUM

1. Di dalam masalah hukum agama, Nahdlatul Ulama mengambil dari sumber Al-Qur’an dan Al-Hadits. Di dalam memahami dan mengambil hukum dari Al-Qur’an dan Al-Hadits (istinbath), Nahdlatul Ulama sangat berhati-hati karena kekeliruan dalam istinbath (akibat kesembronoan dan kekurangan syarat) sangatlah berat tanggung jawabnya di hadirat Allah SWT. Yang Mahateliti dan Maha Mengawasi. Oleh karenanya, Nahdlatul Ulama memilih suatu sistem yaitu sistem mengikuti hasil ijtihad imam-imam mujtahidin mu’tabarin, yaitu yang benar-benar mengetahui seluk-beluk serta latar belakang dalil Al-Qur’an dan Al-Hadits, dilandasi dengan mental ikhlas, taqwa dan wara’ (sangat berhati-hati supaya tidak berbuat dosa).

2. Ijtihad artinya telah mengerahkan seluruh daya pikir untuk menemukan hukum sesuatu hal berdasar dalil-dalil Al-Qur’an dan Al-Hadits. Ijtihad tidaklah mengenai hal-hal yang sudah terdapat dalilnya yang bersifat qath’i (jelas, tegas, tidak memerlukan peninjauan panjang-lebar, seperti wajibnya shalat, haramnya zina, dan sebagainya). Tetapi, ijtihad adalah mengenai hal-hal yang bersifat dhanni dan badhari (memerlukan peninjauan lebih lanjut, memilih satu kemungkinan pengertian dari beberapa kemungkinan pengertian, umpamanya wajibnya niat dalam shalat, batalnya wudhu karena persentuhan kulit antara pria dan wanita, dan sebagainya).

3. Sudah barang tentu ijtihad memerlukan syarat-syarat tertentu, sebagaimana seorang yang memberikan pendapatnya di dalam suatu bidang ilmu (umpamanya kedokteran, teknik, hukum, dan sebagainya) memerlukan pula syarat-syarat tertentu.

Persyaratan ini dapat diringkas menjadi tiga kelompok persyaratan:

a. Perbendaharaan ilmu yang luas dan mendalam tentang Al-Qur’an dan Al-Hadits serta bahasa Arab.

b. Kemurnian niat, kesucian batin di dalam melakukan ijtihad, lepas dari hawa nafsu, kepentingan diri, golongan, dan sebagainya, semata-mata karena Allah untuk mendapatkan kebenaran.

c. Penguasaan metode, logika, dan ketajaman analisa yang seksama

4. Hasil-hasil ijtihad seorang mujtahid dinamakan madzhab. Bermadzhab ialah mengikuti hasil ijtihad seorang imam mujtahid. Karena ijtihad itu hanya mengenai hal-hal yang bersifat dhanni tidak qath’i, maka bermadzhab pun hanya mengenai hal-hal yang tidak bersifat qath’i. Oleh karena menurut kenyataan sejarah, di antara imam-imam mujtahidin mu’tabarin (yang dapat dipertanggungjawabkan) hanya empat imam yang hasil ijtihadnya (madzhabnya) tercatat dengan tertib dan lengkap, yaitu Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali, maka Nahdlatul Ulama menentukan pengambilan hukum dengan berhaluan salah satu madzhab yang empat itu.

5. Metode yang dipergunakan di dalam berijtihad itu haruslah dapat dipertanggungjawabkan secara agama dan secara ilmiah, dengan menggunakan kaidah-kaidah berfikir yang tertentu, sedang sumbernya Al-Qur’an dan Al-Hadits. Para Imam Mujtahidin mu’tabarin menggunakan metodenya masing-masing yang cukup dapat dipertanggungjawabkan. Kalau toh ada perbedaan di antara metode-metode mereka, maka perbedaan itu adalah dalam hal-hal yang kecil, sedang pada garis besarnya para imam mujtahidin yang empat itu, mendasarkan ijtihadnya atas:

  1. Nash Al-Qur’an.
  2. Nash Al-Hadits.
  3. Al-Ijma’ (kesepakatan/kesamaan hasil ijtihad para sahabat nabi atau para imam mu’tabarin).
  4. Al-Qiyas (analogi atau perbandingan antara sesuatu yang hukumnya sudah ada nashnya dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits sesuatu yang lain yang belum ada nashnya).

Empat dasar ini pula yang dipergunakan oleh imam-imam, tokoh-tokoh agama Islam yang di dalam bidang aqidah (tauhid) mengikuti perumusan Imam Abul Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi yang dikenal sebagai (golongan) Ahlussunnah Wal Jama’ah.

6. Kemudian di bawah ini dikemukakan kaidah-kaidah di dalam mengolah dalil-dalil dan dasar-dasar hukum berijtihad dan beristinbath oleh imam-imam mujtahid, terutama Imam Asy-Syafi’i.

Untuk mudahnya kaidah-kaidah ini disebut Lima Dalil Hukum, yaitu:

  1. Segala sesuatu dinilai menurut niatnya.
  2. Bahaya harus disingkirkan.
  3. Adat kebiasaan dikukuhkan.
  4. Sesuatu yang sudah yakin tidak boleh dihilangkan oleh sesuatu yang masih diragukan.
  5. Kesukaran (kemasyakatan) membuka kelonggaran.

7. Perumusan-perumusan singkat ini akan dijelaskan pada uraian-uraian berikut.

  1. Segala sesuatu dinilai menurut niatnya.

Sesungguhnya segala amal itu hanya dinilai menurut niat (hanya sah/sempurna dengan niat). Setiap orang hanya mendapat apa yang diniatinya. Barangsiapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Siapa berhijrah karena wanita yang akan dikawininya atau karena harta benda yang akan didapatnya, maka hijrahnya adalah menurut tujuan hijrahnya (Al-Hadits)

1) Niat itu membedakan nilai suatu perbuatan. Mandi dengan niat menghilangkan hadats berbeda nilainya dengan mandi dengan niat kebersihan semata-mata.

2) Niat menentukan sah atau tidaknya beberapa macam ibadah tertentu (ibadah wajib: sembahyang, wudlu dan sebagainya). Melakukan perbuatan-perbuatan seperti sembahyang, tetapi tidak dengan niat sembahyang maka tidak sah sebagai sembahyang.

3) Tempat niat adalah pada hati. Pengucapan niat hanyalah kesempurnaan. Sebaliknya pengucapan tanpa kesadaran batin/gerak hati, tidak mempunyai nilai apa-apa.

4) Waktu niat adalah berbarengan dengan permulaan gerak perbuatan, kecuali:

a) Dalam hal tidak mungkin/sulit dilakukan pada awal perbuatan (seperti puasa) maka dapat dilakukan sebelum memulai perbuatan (yaitu pada malam harinya).

b) Dalam hal ibadah sunnah (tidak wajib) dapat dilakukan di tengah berlangsungnya perbuatan.

5) Dalil ini bersangkut erat dengan dalil saddudz dzariah (dalil keempat dari lima dalil perjuangan), sehingga:

a) Perbuatan yang jelas mendatangkan akibat timbulnya bahaya, tetap dilarang, meskipun dilakukan dengan niat baik.

b) Perbuatan mubah yang mendatangkan manfaat, tidak dilarang meskipun dilakukan dengan niat buruk. Tentang niatnya itu sendiri, niat baik atau buruk, adalah urusan dia dengan Tuhan, bisa dinilai tersendiri

  1. Bahaya harus disingkirkan

“…dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan…” (Al-Baqarah :195)

“Tidak boleh ada kerusakan dan membalas kerusakan di dalam Islam.” (Al-Hadits)

1) Bahaya adalah sesuatu yang jelas akan menimbulkan kerusakan pada:

a) Agama

b) Diri (nyawa, badan, anggota badan)

c) Akal

d) Keturunan (nasab)

e) Harta benda

2) Segala bahaya yang jelas menimbulkan bahaya dilarang

a) Menghalang-halangi, memusuhi, dan atau menyelewengkan agama dilarang.

b) Membunuh, melukai, menganiaya seseorang dilarang.

c) Minum-minuman yang memabukkan dilarang.

d) Berzina dilarang.

e) Mencuri, merampok, tabdzir (pemborosan) dilarang.

Sebaliknya, sesuatu yang dalam keadaan biasa dilarang, dalam keadaan darurat tidak dilarang. Darurat adalah keadaan dimana kalau sesuatu yang terlarang itu tidak dikerjakan, maka akan timbul bahaya seperti yang tersebut di atas {poin 1)}.

a) Makan daging bangkai, dalam keadaan biasa adalah terlarang tetapi bagi orang yang sedang kelaparan dan tidak menemukan makanan lain, sehingga kalau dia tidak makan daging bangkai itu nyawanya terancam (akan mati), maka makan daging bangkai bagi orang itu tidak dilarang

b) Sesuatu yang terlarang menjadi tidak terlarang bagi orang yang berada dalam keadaan terpaksa atau dipaksa untuk melakukan perbuatan itu, sehingga kalau ia tidak melakukannya pasti timbul siksaan dari yang memaksa yang merupakan bahaya salah satu yang tersebut pada poin 1) di atas.

3) Bahaya yang masih berupa ancaman, kekhawatiran, atau kemungkinan yang belum jelas/ belum pasti timbul, tidak termasuk darurat/ikrah (bahaya/terpaksa) yang dimaksud poin 1).

4) Dari dalil ini timbul anak-anak dalil:

a) Darurat memperbolehkan hal-hal yang semula dilarang.

b) Menolak kerusakan didahulukan dari menarik kebaikan.

c) Bahaya tidak boleh dihilangkan dengan bahaya (lain).

d) Yang diperbolehkan karena darurat, hanya sekadar (menghilangkan) darurat itu.

e) Mengambil yang lebih ringan dari dua bahaya.

5) Faktor-faktor yang tergolong darurat yang dapat menimbulkan keringanan hukum ialah:

a) Sakit.

b) Perjalanan jauh ( + 194 km).

c) Kelupaan.

d) Kesulitan yang merata yang umumnya menimbulkan kesulitan menghindarinya.

e) Kelemahan/cacat (belum cukup umur, pikun, gila, dan sebagainya).

f) Keadaan terpaksa.

  1. Adat kebiasaan dikukuhkan.

“Dari Aisyiah R.A. berkata: Pada hari Asyura (sepuluh muharram) otrang Quraisy pada zaman jahiliyyah sama berpuasa. Nabi Muhammad pun berpuasa (pada hari itu). Setelah beliau berada di Madinah, beliau juga berpuasa (pada hari itu) dan menyuruh orang berpuasa. Kemudian setelah datang kewajiban puasa Ramadhan, beliau tinggalkan puasa Syura. Siapa mau, boleh berpuasa, siapa tidak mau boleh tidak berpuasa (hanya sunnah).” (Al-Hadits)

1) Adat kebiasaan dinilai dan diperhitungkan sebagai faktor hukum, dengan syarat:

a) Tidak bertentangan dengan nash Al-Qur’an dan Al-Hadits.

b) Berlaku terus-menerus (continue) tidak berganti-ganti (insidentil).

c) Sudah menjadi kebiasaan umum yang merata.

Contoh:

§ Ibadah haji, yang sudah menjadi kebiasaan sebelum Islam, ditetapkan sebagai ibadah haji.

§ Berpuasa pada hari Asyura yang sudah berlaku sebelum Islam tetap disunnahkan bagi kaum muslimin.

§ Minum arak yang sudah menjadi kebiasaan sebelum Islam dilarang oleh agama Islam.

§ Maksimum masa haid ditentukan 15 hari, karena 15 hari itulah yang menurut adat kebiasaan yang umum.

2) Sesuai dengan dasar di atas, maka peraturan perundangan yang baik haruslah memperhatikan kondisi masyarakat, adat istiadatnya, pergaulannya, dan kegemarannya, selama:

a) Tidak menetapkan sesuatu yang merusak.

b) Tidak menghilangkan kemaslahatan.

c) Tidak bertentangan dengan nash Al-Qur’an dan Al-Hadits. Islam datang tidaklah secara mutlak menghapuskan segala kebiasaan yang sudah berlaku, tetapi di samping membawa prinsip-prinsip tertentu, juga selalu memperhatikan kemaslahatan yang harus dipertahankan dan kerusakan yang harus disingkirkan.

  1. Sesuatu yang sudah yakin tidak boleh dihilangkan oleh yang masih diragukan

“Tinggalkanlah apa-apa yang masih meragukan dan pakailah yang tidak lagi meragukanmu. “ (Alhadits)

1) Yang masih meragukan dianggap tidak ada.

2) Yang dianggap ada ialah yang sudah tidak meragukan lagi tentang adanya.

Contoh:

§ Orang yang ragu-ragu apakah dia sudah sembahyang atau belum dihukumi belum sembahyang.

§ Orang yang ragu-ragu apakah dia sudah batal wudlunya atau belum (sebelumnya ia yakin sudah berwudhu) dihukumi belum batal.

§ Orang bersembahyang dan ia ragu-ragu apakah ia sudah melakukan rakaat ketiga atau ke empat, dihukumi melakukan rakaat ketiga (yang sudah diyakini ialah rakaat ketiga, rakaat keempat masih diragukan).

§ Si A menuduh si B berhutang kepadanya. Tuduhan ini baru dibenarkan kalau si A membuktikan bahwa si B berhutang padanya atau si B mengakuinya.

§ Seseorang beberapa waktu setelah bersembahyang ada najis pada pakaiannya yang mungkin sudah ada pada waktu dia bersembahyang dan mungkin belum, dihukumi bahwa najis itu datang sesudah ia bersembahyang. Jadi sembahyangnya sah.

  1. Kesukaran (kemasyakatan) membuka kelonggaran.

“…Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…” (Al-Baqarah:185)

1) Kesukaran (kemasyakatan) ada dua macam:

a) Yang sudah lazim (sewajarnya) terdapat pada waktu orang mengerjakan perbuatan itu, umpamanya: dinginnya wudlu, laparnya puasa, dan sebagainya. Kesukaran yang wajar ini tidak mempengaruhi keringanan hukum.

b) Yang tidak lazim (sewajarnya) terdapat pada waktu melakukan perbuatan itu, dan ada dua macam pula:

(1) Yang ringan, seperti pusing ringan karena puasa, letih karena berhaji, dan sebagainya. Ini tidak mempengaruhi keringanan hukum.

(2) Yang berat, seperti lapar yang sangat melemahkan sampai menimbulkan kerusakan diri (badan, nyawa, dan sebagainya) dan sebagainya. Inilah yang mempengaruhi keringanan hukum

Sumber Bacaan:

Diambil dari: Pedoman Berpikir Nahdlatul Ulama, karangan K.H.Achmad Siddiq, diterbitkan pada tahun 1992 oleh Forum Silaturrahmi Sarjana NU Jatim





Tahlil

31 05 2008

Sebelum agama Hindu, Budha dan Islam masuk ke Indonesia, kepercayaan yang dianut oleh bangsa Indonesia antara lain adalah paham animisme. Menurut paham ini, ruh dari orang-orang yang sudah mati itu sangat menentukan bagi kebahagiaan dan kecelakaan orang-orang yang masih hidup di dunia ini. Disamping itu, bangsa-bangsa yang menganut paham animisme ini juga berkeyakinan bahwa ruh dari orang yang sedang mengalami kematian itu tidak senang untuk meninggalkan alam dunia ini sendirian tanpa teman, dan ingin mengajak anggota keluarganya yang lain.

Untuk itu, agar anggota keluarga yang mati itu tidak mengajak anggota keluarga yang lain, maka anggota keluarga yang ditinggal mati itu melakukan hal-hal yang antara lain sebagai berikut:

§ Menyembelih binatang ternak seperti: kerbau, sapi, kambing, babi, atau ayam milik si mayit, agar nyawa dari binatang tersebut menemani ruh si mayit agar tidak me-ngajak anggota keluarganya yang masih hidup; dan memberikan atau menyediakan sesaji di tempat tertentu untuk ruh si mayit, agar ruh si mayit itu tidak marah kepada anggota keluarganya.

§ Setelah tiga hari dari kematian, yaitu saat mayit yang sudah di tanam dalam kubur mulai membengkak, di tempat tidur orang yang mati bagi orang Jawa dan di atas buffet yang telah dipasang foto dari orang yang mati bagi orang Cina, diberikan se-saji agar ruh dari orang yang mati tidak marah. Demikian pula pada hari ketujuh, ke empat puluh, keseratus, satu tahun, dua tahun dan keseribu dari hari kematiannya.

§ Bagi orang Cina, anggota keluarga yang mati itu diinapkan di rumah duka beberapa hari lamanya, dan selama itu papan nama dari rumahnya disilang dengan kertas hitam atau lainnya untuk mengenalkan kepada ruh si mayit bahwa rumahnya adalah yang papan namanya diberi silang. Dan setelah mayit dikubur, maka tanda silang tersebut di buang, dengan maksud agar apabila ruh si mayit tersebut pulang ke rumahnya, ruh itu tersesat tidak dapat masuk ke dalam rumahnya, sehingga tidak dapat mengganggu anggota keluarganya.

§ Bagi orang Jawa ada yang menyebarkan beras kuning dan uang logam di depan mayit sewaktu mayit di bawa ke pekuburan dengan maksud untuk memberitahukan kepada si mayit bahwa jalannya dari rumah sampai ke pekuburan adalah yang ada beras kuning dan uang logamnya. Sehingga jika ruh si mayit ingin pulang ke rumah untuk mengganggu anggota keluarganya dia tersesat, sebab beras kuning dan uang logam di jalan yang dilaluinya sudah tidak ada lagi karena beras kuningnya sudah dimakan oleh ayam atau burung, sedang uangnya sudah diambil oleh anak-anak. Ada pula yang mengeluarkan jenazah dari rumah tidak boleh melalui pintu rumah, tetapi harus dibobolkan pagar rumah yang segera ditutup kembali setelah jenazah dibawa ke kubur dan lainnya lagi dengan maksud agar ruh si mayit itu tidak dapat kembali lagi ke rumahnya.

Pada waktu agama Hindu dan agama Budha masuk di Indonesia, kedua agama ini tidak dapat merubah tradisi yang telah dilakukan oleh bangsa Indonesia yang berpaham animisme tersebut, sehingga tradisi tersebut berlangsung terus sampai saat agama Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh para penganjur Islam yang kemudian terkenal dengan nama Wali Songo.

Pada saat Wali Songo datang, tradisi bangsa Indonesia yang telah berurat berakar selama ratusan dan bahkan mungkin ribuan tahun lamanya, tidak diberantas, tetapi hanya diarahkan dan dibimbing sedemikian rupa, sehingga tidak bertentangan dengan pokok-pokok ajaran Islam.

Disusun oleh:
Drs. KH. Achmad Masduqi





Sufi

31 05 2008

Tazkirah Kesufian

“هو الذي بعث في الأميين رسولا منهم يتلو عليهم آياته ويزكيهم

ويعلمهم الكتاب والحكمة وإن كانوا من قبل لفي ضلال مبين

الحمعة : 2

Dialah yang telah megutuskan di kalangan orang-orang Arab yang umiyyin,seorang Rasul dari bangsa mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, dan membersihkan mereka (dari iktiqad yang sesat), serta mengajarkan mereka Kitab Allah (Al-Quran) dan hikmah. Sesungguhnya mereka sebelum (kedatangan Nabi Muhammad) itu adalah dalam kesesatan yang nyata.

Makna Ringkas Sufi

Sesetengah orang mengatakan: “Para sufi dinamakan demikian hanya kerana kemurnian (shafa) hati dan kebersihan tindakan mereka (athar).”

Bisyr ibn al-Harits mengatakan: “Sufi adalah orang yang hatinya tulus (shafa) terhadap Tuhan. Ulama lain menyatakan: “Sufi adalah orang yang tulus terhadap Tuhan dan mendapat rahmat tulus dari Tuhan. “

Sebahagian mereka telah mengatakan: “Mereka dinamakan sebagai para Sufi kerana pada baris pertama “shaf” di depan Tuhan, kerana besarnya keinginan mereka di hadapanNya”.

Sesetengah menyatakan: “Mereka dinamakan Sufi kerana sifat-sifat mereka menyamai sifat-sifat orang yang tinggal di serambi masjid (shuffah), yang hidup pada masa Nabi SAW “yang lain-lain lagi telah mengatakan: “Mereka dinamakan sufi hanya kerana kebiasaan mereka mengenakan baju dari bulu domba (shuf).

Nabi Muhamad SAW Contoh Utama

Tidak syak lagi Nabi Muhamad merupakan contoh unggul dalam membicarakan pemikiran sufi dan alamnya. Hidup Rasulullah yang penuh dengan penderitaan, pengorbanan demi menyampaikan risalah Islam ini menggambarkan ciri-ciri kesufian dalam usaha mendekatkan diri kepada Allah.

Hampir semua kitab yang menulis tentang baginda menceritakan bagaimana keadaan rumahtangganya. Bukan sahaja tidak terdapat perabot-perabot yang mewah dan makanan yang enak malah alas tidurnya hanya berbekalkan tikar yang apabila tidur di atasnya, bekasnya terlekat di pipinya. Bukan sahaja sajian roti kering yang dibuat dari tepung kasar dengan segelas air minum, sebutir atau dua butir kurma yang sememangnya telah diketahui umum.

Hadis yang diriwayatkan Al-Bukhari menceritakan bahawa Saiditina Aisyah pada satu ketika mengadu kepada Urwah dengan katanya: “Lihatlah Urwah, kadang-kadang berhari-hari dapurku tidak bernyala..”

Ibnu Masud menerangkan bahawa beliau pernah masuk ke rumah Rasulullah dan didapatinya Nabi sedang berbaring di atas sepotong anyaman daun kurma yang membekas kepada pipinya. Dengan sedih Ibn Masud bertanya: “Ya Rasulullah apakah tidak baik aku mencari sebuah bantal untukmu?”. “Nabi menjawab: “Tidak ada hajatku untuk itu. Aku dan dunia adalah laksana seorang yang sedang bermusafir, berteduh sebentar di kala hari sangat terik di bawah naungan sepohon kayu yang rendang, kemudian berangkat dari situ ke arah tujuan lain yang kekal”.

Dalam sebuah riwayat lain bahawa pada suatu hari Nabi teringat dalam sembahyangnya, bahawa di rumahnya masih tersimpan satu pundi-pundi emas yang belum disampaikan kepada mereka yang berhak menerimanya. Lalu diringkaskan sembahyangnya dan dengan tergesa-gesa baginda pergi membahagi-bahagi sedekah itu kerana baginda tidak ingin sepotong emas pun tinggal di rumahnya.

Terdapat juga dalam cerita bahawa pada suatu hari pernah diletakkan orang di depannya sekaligus tujuh puluh ribu dirham emas. Semua wang itu emas itu seketika itu juga dibahagi-bahagikan dan sebutir pun tidak ada yang tertinggal. Abdul Rahman bin ‘Auf menceritakan ketika Nabi Suci SAW wafat tidak ada yang tinggal padanya kecuali sepotong roti, sebilah pedang, seekor kaldai tunggangan dan sebidang tanah untuk anaknya Fatimah Az-zahra’.

Demikianlah keadaan pemimpin agung dunia ini yang menjadi contoh berzaman untuk membuka mata sahabat dan pengikutnya melihat, apa tujuan sebenar manusia itu hidup. Untuk membuka hati keluarga dan umatnya lebih luas daripada perutnya, daripada mulutnya, daripada mata, hidung dan telinganya, sehingga tubuh yang kasar itu dapat menerima percikan cahaya Ilahi yang lebih tinggi tentang wujud, sehingga dengan demikian dapatlah manusia merasai tujuan hidup yang sementara ini untuk menuju akhirat yang kekal abadi.

Rumahtangganya menjadi contoh, pakaiannya menjadi ikutan, makanannya menjadi teladan dan sabar serta toleransinya pun menjadi panduan.

Zaman Selepas Rasulullah

Golongan sahabat merupakan golongan sufi. Mereka bersama Rasulullah bangun berjuang menentang kekufuran dan kemunafikan. Mereka tidak segan menyatakan pendirian bersama Rasulullah. Merekalah petunjuk sepanjang zaman menerangi alam yang gelap, mewarnai kehidupan manusia menyusun susur atur masyarakat, menjiwai kemurnian yang luhur dan prinsip yang tegar.

Setelah zaman sahabat, munculnya zaman para tabien yang memunculkan ramai golongan yang mempunyai sifat dan personaliti anggun yang mencirikan kehidupan Rasulullah SAW.

Saidina Ali yang namanya begitu dominan dalam silsilah tareqat, bukan sahaja tokoh kezuhudan dan hikmah, malah beliau juga adalah negarawan ulung dan pemerintah dan syahid kerana keadilannya. Surat beliau kepada sahabatnya, Malik Asytar merupakan kod etika bertulis untuk panduan pemimpin negara. Dia adalah wujud yang merealisasikan ‘rahban fi al-lail wa fursan fi an-nahar”

Begitu juga Khalifah Umar Abdul Aziz yang menjadi pemerintah yang mengekalkan kezuhudan walaupun sekelilingnya penuh kekayaan dan kemewahan. Sehingga terdapat kisah yang memperakui bahawa pada waktu tersebut tidak ada seorang pun rakyatnya yang layak menerima zakat lantaran kekayaan dan kemewahan umat. Sungguhpun demikian, style dan cara hidup pemimpin Khalifah Umar Abdul Aziz tidak pernah disebut sebagai pemboros, pengaut kemewahan negara, tidak pernah dicatatkan tentang ketamakan harta, rasuah, penyelewengan wang rakyat, penyalahgunaan harta rakyat dan seumpamanya.

Zaman Moden

Penyakit hubbun dunya dan hubbul jaah telah menjadi satu macam penyakit yang disukai, diburui tanpa menghiraukan dosa dan pahala. Keegoan dalam diri manusia untuk menerima kebenaran juga merupakan penyakit hati yang melanda masyarakat pada hari ini.

Kebejatan sosial, politik dan ekonomi yang melanda kita pada hari ini kadang-kala memberikan kita satu konklusi bahawa lantaran pengabaian terhadap usaha menyucikan jiwa, usaha mengislahkan diri, manusia terkapai dalam medan kehidupan malah seringkali lemas mencari petunjuk kebenaran lantas tersadai di pinggir khayalan.

Apakah ciri-ciri kesufian yang memancarkan jiwa zuhud, qanaah, kesederhanaan, redha, mahabbah, syukur dan sebagainya itu hanya relevan dengan zaman silam yang hanya layak untuk dipaparkan dalam sejarah semata-mata?

Apakah dengan realiti kita pada hari amat sukar rasanya untuk sekurangnya kita mencontohi mereka dalam kehidupan kita? Apakah zaman sekarang tidak relevan untuk membicarakan sufi dan kepentingan tentangnya sedangkan kesufian inilah yang memberikan kegemilangan dan kecemerlangan kepada tamadun umat Islam malah melahirkan jiwa kental, jiwa berani, teguh dan sabar menghadapi penderitaan dan cabaran malah berasa teguh dalam menyelusuri peredaran zaman menongkah arus cabaran.

Apakah zaman kini yang disebut zaman moden amat janggal untuk kita bicarakan kesufian lantaran canggihnya teknologi yang kita miliki, majunya kehidupan duniawi yang kita huni ini. Tetapi dalam masa yang sama umat manusia pada hari ini sedang terkepung dalam bahaya Jahiliyyah abad baru.

Budaya cintakan kebendaan sudah menjadi paparan kehidupan manusia, saban waktu malah setiap detik kita didendangkan dengan alunan pembangunan kebendaan yang tidak segan silu memaparkan personaliti-personaliti mazmumah. Bahkan lebih parah mereka bukan sahaja berbangga dengan corak kehidupan yang ‘maju’ ini malah menuding telunjuk menyatakan pihak lain sebagai penghalang kemajuan, kolot dan pemecah belah umat.

Al-hasilnya dapat dilihat, kemajuan IT, pembangunan kebendaan telah dijadikan alat untuk membina kekayaan secara individu. Yang miskin dan lemah terus terancam. Kemurnian akhlak, keluhuran budi dan tingkahlaku telah dipinggir dan dipisahkan dalam agenda pembangunan.

Tokoh revolusi dan sufi, Abu Dzar Al-Ghifari ketika berteriak di hadapan mahligai mewah Muawiyah, beliau berkata: “Jika istana ini kamu bina dengan hartamu sendiri, kamu berlebih-lebihan. Sekiranya engkau dirikan istana ini dengan harta rakyat sesungguhnya kamu telah khianat.”

Runtuhya institusi politik yang berorientasikan ism-ism hubbun dunya dan hubbul jaah telah dapat kita saksikan kini. Percakaran dan perpecahan sesama mereka menjadi isu yang tidak sudah-sudah penghujungnya.

Sifat mazmumah yang tertanam dalam hati masyarakat bukan lagi perkara baru yang didedahkan. Sifat hasad dengki, tamak, pentingkan diri sendiri adalah paparan cerita yang saban hari menjadi penyakit hati dalam masyarakat.

Lantaran itu seluruh masyarakat dan negara bergelut dengan masalah yang tidak-tidak sudah-sudah jalan penyelesaiannya.

Kegersangan Dunia Moden

Ketika modenisasi datang ada beberapa reaksi kaum muslimin. Pertama kagum dengan modenisasi sehingga mereka mellihat kembali kesesuaian Islam dalam dunia sekarang. Lalu timbullah gejala sekularisme yang memisahkan agama dan politik kerana mereka merasakan hukum Islam sudah tidak relevan.

Kelompok kedua ialah mereka yang menjauh diri daripada apa saja yang bernama kemodenan. Segala bentuk pemodenan dianggap Barat dan jahat. Akhirnya mereka sendiri terperosok dan terpisah daripada masyarakat. Hasilnya mereka bukan sahaja tidak dapat menyelesaikan masalah kontemporari bahkan mereka juga gagal memahami kenyataan hidup.

Kelompok ketiga ialah mereka yang bereaksi dengan penuh kritis dan meneliti modenisasi dari segala aspeknya-positif dan negatif. Misalnya, kita mahu ulama-ulama yang dibesarkan di bawah bimbingan pondok dan asuhan hauzah mampu membuat kritikan terhadap sistem dan fahaman sekularisme, nasionalisme, kapitalisme dan bermacam isme lagi. Murtadha Muthahhari misalnya sangat pakar dalam menganalisis akar-akar pemikiran marxisme.

Orang-orang moden, terutama Barat dan para pendokongnya, dalam dunia moden kecewa terhadap modenisasi kerana kegersangan rasional yang dibawanya. Maka masyarakat mula menginginkan sesuatu yang tidak logik, tidak rasional. Sehingga lahirlah apa yang disebut post-modernisme.

Di dalam filem lazimnya, logika banyak dilempar jauh kerana mereka sudah jemu dengan logik, kecewa dengan rasionalisme dalam kehidupan.

Lalu mereka mula memasuki hal-hal yang mistikal, yang di luar rasional. Maka di sinilah peranan para sufi dan tasawwuf itu perlu memainkan peranan bagi mengisi kekosongan masyarakat moden kini. Ibnu Arabi atau Syed Hussein Nasr misalnya, selain berpegang kepada rasional yang kuat, juga berpaut kepada dimensi mistikal-tasawwuf.

Sekali lagi tasawwuf harus memberi kekuatan terhadap kerinduan-kerinduan yang digersangkan oleh rasionalisme moden. Tragedi ‘Sauk’ adalah contoh bagaimana masyarakat yang terdiri daripada profesional, ahli korporat dan lain-lain mengidap ‘kerinduan’ mistikal ini.

Jika kita soroti kedatangan dan perkembangan Islam di Malaysia khususnya Kelantan, Islam muncul kepada kita dengan wajah yang menyenangkan masyarakat pada waktu itu. Majlis tahlil, sambutan Maulid Nabi, ziarah kubur dan sebagainya begitu cocok dengan mereka.

Dan tradisi ini terus berkembang dan sentiasa dipelihara oleh para tok lebai, tok ayah, para ulama silam dan diwarisi oleh generasi berpendidikan agama hari ini. Kesannya Islam terus mendapat sambutan dan terbukti pemupukan bi’ah Islamiyyah lebih ketara di Kelantan. Dan inilah juga faktor mereka terus ingin mengekalkan kepimpinan ulama.

Relevansi Sufi Dalam Dunia Moden

Cahaya iman yang terpancar daripada jiwa mukmin yang bersih sahajalah yang mampu memberi sinar kepada kehidupan kini.

Lantaran itu apabila kita berbicara mengenai perkara ini tidak ada formula yang ampuh dan berkesan melainkan kita mengembalikan diri kepadaNya yang Maha Esa, mengembalikan kepada penginsafan bahawa dunia yang bersifat sementara ini bukan segalanya yang kita cari. Bahawa dunia yang mengilusikan waktu yang sedetik ini tidak mungkin untuk pergunakan untuk kepuasan diri dan hawa nafsu kerana natijah daripada perkara tersebut adalah sesal dan binasa.

Sebab itu Allah sebut dalam Al-Quran: (Surah An-Naazi’at: 37-39)

ُErtinya: Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya.

Apabila kita berbicara mengenai Sufisme di tengah masyarakat moden, ada suara sumbang yang menyatakan bahawa ini adalah satu usaha memutarkan jarum jam ke belakang, menyelusuri zaman silam dengan segala kemunduran. Menyingkapkan tirai kemiskinan dengan segala kesusahan dengan pelbagai bayangan yang terjelma di minda kepala mereka untuk memencilkan pengertian dan penghayatan sufi ini.

Relevansi Sufism pada hari ini, dilihat dari persepsi dan pandangan yang keliru. Kini apabila istilah sufism diketengahkan ramai yang memahami bahawa Sufi merupakan cara hidup golongan tertentu yang mengamalkan zikir-zikir tertentu, tidak suka keluar untuk bergaul bersama masyarkat, berperilaku tidak rasional, memencilkan diri dari kehangatan bermasyarakat dan seumpamanya.

Tasawwuf dianggap anti sains, anti kemajuan dan anti kemodenan. Bagi para pembencinya tasawwuf difahami sebagai suatu usaha menghindari dunia, menyibukkan diri dalam zikir dan doa. Biarlah tasawwuf dipelajari oleh orang tua dan uzur sebelum mati.

Kadang kala seorang aktivis menganggap tasawwuf menurunkan semangat juang seseorang untuk menentang kezaliman. Tasawuf hanya ubat untuk menghalau hantu raya dan santau. Selain bank Islam, sains Islam, universiti Islam, ada juga klinik Islam iaitu tasawwuf.

Namun perlu disedari bahawa jiwa sebenarnya walau apapun disebut tentangnya kita memerlukan pentazkiyahan. Walau macamana zaman berubah sekalipun jiwa perlu diubati dari penyakit. Kerana penyakit ini jika tidak diubati akan menjadi barah merosakkan manusia.

Lantaran itu alim ulama’ yang silam seperti Imam Al-Ghazali mengungkapkan pengertian penjernihan jiwa bukan setakat mengamalkan amalan tertentu dan aktiviti tertentu semata-mata. Tetapi sebenarnya apa yang perlu dilihat adalah Imam Ghazali telah menetapkan dasar sufi secara keseluruhan untuk diamalkan.

Bukan apabila disebut mengenai sufi, ia adalah satu juzu’ dengan juzu yang lain tetapi sebenarnya apa yang disebut pentazkiyahan nafs adalah satu usaha untuk menjadikan diri kita sebagai hamba kepada Allah, yang benar-benar patuh kepada perintahNya, menjadikan hidup di dunai ini sebagai jambatan ke akhirat. Menjadikan hidup ini sebagai tempat berteduh dari perit matahari buat sementara waktu bagi meneruskan perjalanan yang panjang dan abadi.

Mereka menjadikan dunia ini sebagai tempat untuk mencari bekalan akhirat. Menjadikan dunia ini sebagai tempat membina kemakmuran dan pengislahan. Oleh sebab itu mereka teguh dengan prinsip dan keyakinan semata-mata dengan nama Islam-walau karihal kafirun.

Sebaliknya sufi dengan ciri-ciri yang ada padanya merupakan nadi kekuatan, menjadi penjana segala kemajuan malah menjadi intipati kepada pembangunan masyarakat yang ampuh dan terjamin.

Menakjubkan kalau kita melihat nama-nama besar dalam dunia sufi, mereka merupakan cermin ketokohan. Al-Hallaj, Al-Qawariri dan sebagainya adalah pemuka masyarakat dalam pemerintahan dan keagamaan. Jalaluddin Ar-Rumi pernah menjadi menteri. Malik bin Dinar adalah seorang sultan. Sultan Akbar yang berjaya menyatukan India dalam kedamaian dan kemakmuran adalah seorang raja yang sufi (*cerita Sultan Akbar ini perlu disaring-Gagasan Ulama)).

Tareqat Sanusiyyah di Tunisia berhasil menghalau penjajah dan membentuk Libya. Imam Khomeini, pemimpin Revolusi Islam Iran yang menggemparkan itu dikenali sebagai seorang tokoh irfan abad ke-15. Berkat aliran-aliran sufi, bangsa Chechen yang memelihara Islam dalam cengkaman komunisme bangkit menentang Rusia sendirian. Terakhir, pejuang Hizbullah Lebnon yang berjaya menghambat Israel juga menghidupkan amalan sufisme dalam rutin kehidupan mereka.

Perlu difahami di sini ialah sebenarnya sufi berasal daripada makna penyucian jiwa. Penyucian jiwa daripada penyakit hati, keegoan, ketamakan dunia, harta, pangkat dengan menginsafi bahawa dunia yang bersifat sementara ini bukan segalanya yang dikejarkan.

Bukan matlamat utama yang hendak dicapai. Tetapi dunia ini adalah jambatan menuju akhirat. Tasawwuf yang sebenarnya ialah gaya hidup yang meliputi sikap, pandangan dan tingkah-laku. Tasawwuf bukan mekanisme pelarian dan persembunyian. Para sufi bukan meninggalkan dunia. Bahkan mereka ingin menggoncangnya. Tasawwuf juga tidak menafikan syariat. Tasawwuf berpijak pada syariat untuk menjalani tareqat agar mencapai hakikat.

Penutup

Masyarakat harus sedar bagaimana seorang sufi mampu berperanan dalam pembangunan dan perkembangan ummah kerana seseorang sufi yang sebenar adalah mereka yang melakukan sesuatu pekerjaan dengan sebaik dan seikhlas mungkin. Zuhud dalam tasawwuf bukan kependetaan yang menolak dunia tetapi memiliki dunia.

Keserakahan dan rakus terhadap kekuasaan dan kekayaan didorong oleh hilangnya rasa takut kepada Allah dan lupanya manusia dengan azab nerakaNya. Kezaliman dalam masyarakat juga berpunca daripada sirnanya rasa mahabbah sesama insan. Manusia sanggup bertuhankan manusia lain disebabkan tidak ada kebergantungan dan pergharapan kepada Allah.

Maka sufisme pada hari ini perlulah diungkapkan sebagai satu usaha untuk menuju redha Allah, cinta dan patuh kepada perintahNya dengan menempuh perjalanan Ilahiyyah seperti taubat, khauf wa raja’, zuhud, mahabbah, sabar dan sebagainya yang dengannya manusia akan lebih memakmurkan dunia ini menjadi ‘baldatun thaiyibatun wa rabbun ghafur’.

Semoga bermanfaat kepada semua.





Fiqh Cewek

31 05 2008

Fiqhunnisa’

Maraknya pemakaian kontrasepsi KB baik dengan mengkonsumsi pil, suntik, spiral maupun lainnya seiring mengganggu siklus pendarahan haidh seorang wanita. Fenomena ini dianggap enteng sebagian wanita, mereka merasa tidak berkewajiban bertanya tentang kebenaran hitungan haidh mereka, sehingga banyak kita jumpai perempuan yang tidak shalat dengan alasan haidh padahal darang yang keluar tersebut belum tentu darah haidh. Dan sebagian kaum adam yang telah meiliki istri maupun anak perempuan juga tidak mengetahui masalah yang terkait dengan Haidh dan nifas ini kecuali hanya sedikit. Oleh karenanya alfaqir menuliskan ini sebagai pengetahuan dasar bagi semua yang belum mengetahuinya, semoga dapat bermanfaat.

Haidh adalah darah yang keluar secara alami dari ujung rahim perempuan pada waktu-waktu tertentu. Arti kata “alami” disini maksudnya adalah keluar tanpa sebab-sebab tertentu seperti kontraksi rahim pada wanita yang hendak melahirkan, darah yang keluar tersebut bukanlah dihukumi darah haidh.

Dalil hukum haidh berasal dari QS Al Baqarah : 222, yang berbunyi :

Mereka bertanya kepadamu tentang haidh, katakanlah ‘Haidh itu adalah suatu kotoran’. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita (jangan bersetubuh) diwaktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci (Mandi besar). Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu ditempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”

Seorang perempuan dapat mengeluarkan darah haidh jika telah berumur 9 tahun dalam hitungan tahun Qamariyah dengan toleransi waktu kurang dari 16 hari. Contohnya gadis yang lahir pada 20 Muharram 1400 H, Kemudian pada tanggal 1 Muharram 1409H dia melihat darah keluar dari kemaluannya, maka darah tersebut tidak bisa disebut darah haidh karena gadis tersebut belum mencapai 9 tahun – 16 Hari. Lain halnya kalau keluarnya darah pada tanggal 10 Muharram 1409 H, meski belum 9 tahun darah yang kelua adalah darah haidh karena ada toleransi kurang dari 16 hari.

Haidh memiliki masa minimum, standard, dan maksimum. Paling sedikitnya haidh adalah 24 jam dan paling banyaknya 15 hari, dan kebanyakan wanita mengeluarkan darah haidh 7-8 hari. Dalil ditetapkannya masa-masa haidh adalah riset yang dilakukan oleh Imam Syafi’i terhadap para wanita yang ada dimasanya. Oleh karenanya, jika ada sekelompok wanita yang memiliki kebiasaan bertentangan dengan apa yang telah ditetapkan oleh Imam Syafi’i maka kita katakana bahwa darah yang keluar itu adalah darah istihadhah.

Sifat haidh

Darah haidh memiliki beberapa sifat, warnanya merah pekat (agak kehitaman), merah, merah agak kuning, kuning, keruh (kuning pudar), kadang memiliki bau yang tidak sedap, dan kadang keluarnya kental. Seorang perempuan belum dikatakan suci dari masa haidh jika masih ada warna kuning atau bercak-bercak kuning. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari ra diriwayatkan bahwa ada seorang perempuan yang mengutus budaknya untuk datang ke tempat Sayyidah ‘Aisyah ra dengan membawa wadah berisi kapas yang belepotan warna kuning, maka sayyidah ‘Aisyah berkata, jangan terburu-buru hingga kamu melihat warna putih. Artinya jangan terburu-buru shalat sebelum kamu betul-betul suci dengan tidak keluarnya cairan kuning dan keruh.

Darah yang keluar dimasa kehamilan jika memenuhi syarat-syarat haidh juga dihukumi haidh. Darah haidh terkadang keluar dengan terputus-putus dan kadang pula tidak.Darah yang sehari keluar sehari tidak semuanya dihukumi haidh beserta dengan masa bersihnya, dengan 2 syarat :

1) Tidak melebihi 15 hari. Jika darah kedua datang setelah 15 hari maka tidak lagi disebut haidh, karena waktu maksimum haidh adalah 15 hari.

2) Jumlah keseluruhannya tidak kurang dari 24 jam. Jika ternyata jumlah keseluruhannya tidak mencapai 24 jam maka semua darah tersebut dihukumi darah istihadhah.

Contoh, seorang wanita mengeluarkan darah 3 hari, kemudian bersih sampai dihari kesepuluh keluar darah lagi. Darah yang terakhir masih dihukumi darah haidh. Berbeda jika keluar darah 10 hari, bersih 5 hari dan keluar darah lagi di hari ke 16, maka darah dihari ke 16 tersebut tidak lagi dihukumi darah haidh. Dan seorang wanita yang dalam 6 hari melihat darah setiap harinya 3 jam saja, semua darahnya dihukumi darah istihadhah.

Bersihnya kemaluan dari cairan kuning dan keruh merupakan tanda sucinya perempuan dari haidh, yaitu jika ia memasukkan kapas pada kemaluannya akan keluar bersih tidak terkotori oleh bercak-bercak kuning, tentunya jika darah tersebut telah mencapai waktu minimun haidh, yaitu 24 jam (sehari semalam). Dengan demikian dia wajib mandi besar, melakukan shalat, puasa (dibulan puasa), dan halal bagi suaminya untuk menyetubuhinya. Jika dalam waktu dekat darahnya keluar kembali berarti haidnya masih berlanjut, puasa yang telah dilakukan harus di qadha dan tidak ada dosa dengan persetubuhan yang telah dilakukan karena mereka melakukannya atas dasar hukum dzahir bahwa sang istri telah suci.

Suci antara 2 haidh

Paling sedikitnya suci antara 2 haidh adalah 15 hari (jika hitungan bulan qamariyah = 30, atau 14 jika hitungan bulan qamariyah = 29), sebab jika paling banyaknya masa haidh adalah 15 hari maka paling sedikitnya masa suci adalah 15 / 14 hari, karena biasanya dalam sebulan seorang wanita tidak kosong dari haidh dan suci. Masa suci pada umumnya adalah sisa bulan dari masa haidh dan tidak ada waktu maksimum untuk suci karena seorang perempuan terkadang tidak keluar haidh sama sekali atau keluar haidh hanya sekali seumur hidupnya.

Darah yang keluar sebelum selesainya masa suci tidak disebut darah haidh, dan perempuan tersebut dinyatakan sebagai perempuan yang memiliki sisa masa suci. Contoh, perempuan yang keluar haidh 7 hari, kemudian suci 10 hari, setelah itu keluar darah 5 hari. Darah yang terakhir tersebut tidak disebut darah haidh karena masa sucinya masih kurang 5 hari. Jadi dalam 5 hari terakhir tadi wanita tersebut tetap dihukumi suci.

Nifas

Nifas adalah darah yang keluar setelah kosongnya rahim dari janin (termasuk gumpalan daging atau darah jika para bidan bayi mengatakan bahwa itu adalah calon janin). Dengan syarat keluarnya darah sebelum selang 15 hari dari waktu melahirkan. Wanita yang melahirkan tanpa mengeluarkan darah, kemudian setelah 15 hari ada darah keluar, maka darah tersebut dihukumi darah haidh.

Dalil dalam masalah nifas adalah hadits Ummi Salamah ra, perempuan-perempuan yang nifas pada zaman Rasulullah SAW duduk (menunggu nifas mereka) selama 40 hari.

Masa maksimum nifas adalah 60 hari, masa minimumnya sebentar (sekali keluar) dan umumnya wanita mengeluarkan darah tersebut selama 40 hari. Hukum nifas dimulai sejak keluarnya darah, sampai hitungan 60 hari terhitung setelah melahirkan. Jika ada wanita setelah melahirkan tidak mengeluarkan darah sampai 10 hari kemudian dihari ke 11 keluar darah selama 50 hari, maka secara hitungan dia telah mengalami nifas selama 60 hari, namun pada 10 hari pertama dia dihukumi suci dan wajib melakukan shalat dan puasa sebagaimana perempuan yang suci.

Nifas yang terputus

Wanita yang sedang nifas melihat beberapa hari bersih, jika masa bersihnya mencapai 15 hari, maka darah yang kedua adalah darah haidh. Begitu juga kalau darah yang kedua datang setelah 60 hari. Syaratnya adalah : (a) Seluruh darah akan disebut nifas jika tidak melebihi 60 hari (setelah melahirkan), dan (b) Masa selanya (masa tidak keluar darah) tidak mencapai 15 hari. Contoh kasus :

1) Keluar darah nifas selama 20 hari, bersih 10 hari kemudian keluar darah lagi 20 hari . Semua itu masih dihukumi nifas, karena totalnya kurang dari 60 hari dan masa selanya kurang dari 15 hari.

2) Nifas 30 hari, bersih 20 hari kemudian keluar lagi darah selama 6 hari. Maka darah yang kedua dihukumi darah haidh. Karena setelah 30 hari pertama, masuk masa bersih selama 20 hari (melebihi 15 hari), berarti masa nifas sudah selesai. Dan darah yang keluar setelahnya adalah darah haidh.

3) Nifas 58 hari, bersih 5 hari kemudan datang darah lagi selama 10 hari, darah yang kedua dihukumi darah haidh karena datangnya sudah melebihi waktu nifas yaitu 60 hari (58 + 5 hari = 63 hari).

Sebagaimana telah kita ketahui bahwa darah yang dilihat orang hamil dihukumi haidh jika memenuhi syarat haidh, oleh karena itu tidak ada masa minimun antara haidh dan nifas. Contoh, seorang wanita hamil mengalami menstruasi 5 hari seperti kebiasaannya tiap bulan sejak sebelum hamil, kemudian darah tersebut bersambung dengan melahirkan, maka darah yang keluar setelah melahirkan adalah darah nifas dan darah yang keluar sebelum melahirkan adalah darah haidh, begitu juga darah yang keluar bersama keluarnya anak.

Jarak minimum suci antara nifas dan haidh adalah 15 hari jika terjadi dalam kurun 60 hari terhitung dari setelah melahirkan (jika mengalami masa tidak berdarah / suci, masih dalam rentangan waktu 60 hari seperti syarat kedua dalam hukum nifas yang terputus). Adapun suci seusai 60 hari atau suci yang menyempurnakan 60 hari maka tidak disyaratkan mencapai 15 hari (diluar waktu yang 60 hari, maka tidak ada batas minimal waktu suci). Contoh, nifas 60 hari kemudia suci sehari setelah itu keluar darah 5 hari, darah yang kedua adalah darah haidh meskipun sucinya cuma sehari, begitu juga jika nifas 59 hari, suci 1 hari kemudian keluar darah 5 hari lagi. Darah kedua inipun dihukumi darah haidh, karena 59 nifas + 1 hari suci sudah mencapai waktu maksimal nifas yaitu 60 hari.

Adapun 11 larangan yang harus dijauhi perempuan yang haidh atau nifas, yaitu :

  1. Shalat
  2. Thawaf
  3. Menyentuh Mushaf (tanpa aling-aling)
  4. Membawa Mushaf
  5. Diam di masjid
  6. Membaca Al-Qur’an
  7. Puasa
  8. Cerai
  9. Melewati masjid jika takut mengotori
  10. Bersenang-senang diantara lutut dan pusar
  11. Bersuci untuk beribadah

Kewajiban wanita seputar haidh dan nifas

Pengetahuan mengenai haidh dan nifas adalah termasuk ilmu wajib yang harus dituntut oleh kaum hawa, jika orang tua atau suaminya mengerti hukum mengenai haidh dan nifas maka wajib bagi mereka untuk mengajarkannya pada anak perempuannya dan istrinya. Namun jika mereka juga tidak mengerti hukum, maka seorang wanita harus keluar rumah untuk menuntut ilmu tersebut dari orang lain dan haram bagi orang tua atau suami untuk mencegah, kecuali jika mereka mau keluar dan bertanya untuk anak istri mereka. Mengapa haram untuk orang tua atau suami mencegah ? Karena ini adalah bagian dari ilmu syariah yang berkaitan langsung dengan kewajiban ibadah seorang hamba kepada Penciptanya.

Seyogyanya sebagai seorang wanita wajib mengerti tentang hal-hal yang berhubungan dengan kewanitaan karena hal ini erat sekali hubungannya dengan syah atau tidaknya kewajiban ibadah. Semoga tulisan ini dapat berguna bagi kaum nisa’ khususnya dan bagi kaum adam yang sudah beristri maupun memiliki anak perempuan untuk mengajarkan langsung kepada mereka, karena dapat menyelamatkan kehormatan rumah tangganya.

Wallahu’alam bishshawab.

Tulisan ini dirangkum oleh al faqir dari :

1. Pelajaran Fiqh Habib Salim bin Muhammad Maula Dawilah.

2. Majalah Cahaya Nabawi, edisi 49 Th. V shafar 1428 H / Maret 2007 M hal 68 -71








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.