Pengertian Ahlussunnah wal Jama’ah. ASWAJA bukan hal baru

Pengertian Ahlussunnah wal Jama’ah

Ahlussunnah berarti penganut sunnah Nabi Muhammad SAW, “wal Jama’ah” berarti penganut i’tiqad jama’ah sahabat Nabi. Kaum Ahlussunnah wal Jama’ah ialah kaum yang menganut i’tiqad yang dianut Nabi Muhammad SAW, dan para sahabat beliau.

I’tiqad nabi dan para sahabat itu sudah termaktub dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul secara terpencar, belum tersusun secara rapi dan teratur. I’tiqad itu kemudian dihimpun dan dirumuskan dengan rapi oleh seorang ulama’ besar di bidang Ushuluddin, yaitu Imam Abul Hasan Al-Asy’ari. Ulama’ besar ini dilahirkan di kota Bashrah, Iraq pada tahun 260 H/873 M, dan meninggal dunia di kota itu juga pada tahun 324 /935 M, dalam usia 64 tahun.

Karena i’tiqad Ahlussunnah wal Jama’ah dihimpun dan dirumuskan oleh Imam Abul Hasan Al-Asy’ari maka ada yang menyebut kamu Ahlussunnah wal Jama’ah dengan “Al-Asy’ariyah” jamak dari Asy’ari, yaitu pengikut-pengikut Imam Abul Hasan Al-Asy’ari.

Ada juga dijumpai perkataan “Sunni” kependekan Ahlussunnah wal Jama’ah, orang-orangnya disebut “Sunniyyun”.

Adapun tokoh kedua i’tiqad Ahlussunnah wal Jama’ah ialah Abu Manshur Al-Maturidi. Faham dan i’tiqad sama atau hampir sama dengan faham i’tiqad Imam Abul Hasan Al-Asy’ari. Beliau lahir di kota Maturidi, Samarqand (termasuk wilayah Uzbekistan Soviet sekarang) kira-kira pada pertengahan abad ke -3H dan meninggal di Samarqand pada tahun 332 H/944 M, 9 tahun setelah wafatnya Imam Abul Hasan Al-Asy’ari.

Kedua tokoh tersebut di atas adalah sebagai penggali, perumus, penyiar sekaligus mempertahankan apa yang sudah termaktub dalam Al-Qur’an dan Hadits, dan sudah di i’tiqad oleh Nabi Muhammad SAW, serta sahabat-sahabat beliau.

Dalam kitab “Ithafu Sadatil Muttaqin” yang dikarang oleh Imam Muhammad Al-Husni Az-Zabidi, yaitu syarah kitab “Ihya’ Ulumuddin” karangan Imam Al-Ghazali, ditegaskan sebagai berikut :

Yang Artinya :

Apabila disebut Ahlussunnah wal Jama’ah, maka maksudnya ialah orang-orang yang mengikuti rumusan (faham) Imam Abul Hasan Al-Asy’ari dan faham Abu Manshur Al-Mathuridi.

Sumber: Situs Nahdlatul Wathan

Pokok-Pokok I’tiqad Kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah

1. Iman ialah mengikrarkan dengan lisan dan membenarkan dengan hati.

2. Iman yang sempurna ialah mengikrarkan dengan lisan, membenarkan dengan hati dan mengerjakan dengan anggota.

3. Tuhan itu ada, namanya Allah, dan ada 99 nama bagi Allah.

4. Tuhan mempunyai sifat banyak sekali, yang boleh disimpulkan perkataan: Tuhan mempunyai sifat-sifat Jalal (kebesaran).

5. Sifat yang wajib diketahui oleh sekalian mukmin yang baligh berakal adalah 20 sifat; 20 sifat yang wajib dan mustahil (tidak mungkin) ada bagi-Nya. Dan satu lagi sifat yang harus ada bagi-Nya, yaitu :

a. Wujud artinya ada, mustahil Ia tidak ada.

b. Qidam artinya tidak permulaan ada-Nya, mustahil ada-Nya permulaan.

c. Baqa’ artinya tidak berkesudahan ada-Nya, mustahil ada-Nya berkesudahan.

d. Mukhalafatuhu ta’ala lilhawaditsi artinya Ia berlainan dengan segala makhluk, mustahil Ia serupa dengan makhluk-Nya.

e. Qiyamuhu binafsihi artinya Ia berdiri sendiri, bukan berdiri di atas zat lain, mustahil Ia berdiri di atas zat lain.

f. Wahdaniyah artinya Ia esa, mustahil Ia banyak.

g. Qudrat artinya kuasa, mustahil Ia tidak kuasa.

h. Iradat artinya menentukan sendiri dengan kehendak-Nya, mustahil Ia dipaksa.

j. Ilmu artinya Ia tahu, mustahil Ia tidak tahu (bodoh).

k. Hayat artinya hidup, mustahil Ia mati.

l. Sama’ artinya mendengar, mustahil ia tidak mendengar.

m. Bashar artinya melihat, mustahil Ia buta.

n. Kalam artinya berkata, mustahil Ia bisu.

o. Kaunuhu Qadiran artinya Ia dalam keadaan berkuasa mustahil Ia dalam keadaan tidak berkuasa.

p. Kaunuhu muridan artinya Ia dalam keadaan mempunyai iradat, mustahil Ia dalam keadaan yang tidak mempunyai iradat.

q. Kaunuhu ‘Aliman artinya Ia dalam keadaan tahu, mustahil Ia dalam keadaan tidak tahu.

r. Kaunuhu Hayyan artinya Ia dalam keadaan hidup mustahil Ia dalam keadaan mati.

s. Kaunuhu Sami’an artinya Ia dalam keadaan mendengar, mustahil Ia dalam keadaan tidak mendengar.

t. Kaunuhu Bashiran artinya Ia dalam keadaan melihat, mustahil Ia dalam keadaan tidak melihat.

u. Kaunuhu Mutakalliman artinya Ia dalam keadaan berkata, mustahil Ia dalam keadaan tidak berkata.

Demikian 20 sifat yang wajib (mesti ada) bagi Allah SWT dan 20 sifat yang mustahil (tidak mungkin ada bagi Allah SWT).

6. Sifat yang harus bagi Allah hanyalah satu yaitu boleh memperbuat dan boleh pula tidak memperbuat.

7. Wajib dipercayai bahwa Malaikat ada, mereka banyak. Tetapi yang wajib dipercayai secara terperinci hanyalah 10 orang saja.

8. Wajib dipercayai adanya kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada Rasul-rasul-Nya untuk disampaikan kepada ummatnya. Kitab-kitab itu banyak, tetapi yang wajib diketahui secara terperinci adalah 4 (empat), yaitu:

a. Kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa A.S.

b. Kitab Zabur yang diturunkan kpada Nabi Daud A.S.

c. Kitab Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa A.S.

d. Kitab Al-Qur’an yang diturunkan kpada Nabi Muhammad SAW.

9. Kaum Ahlussunnah wal Jama’ah mempercayai sekalian Rasul-rasul yang diutus Allah SWT kepada manusia, mereka banyak, ada yang diterangkan Allah SWT kepada manusia dan ada yang tidak diterangkan. Tetapi yang wajib diketahui secara terperinci adalah 25 rasul yang dinyatakan dalam Al-Qur’an. Ada baiknya berikut dijelaskan secara singkat perbedaan antara Nabi dan Rasul.

10. Setiap orang Islam wajib mempercayai adanya hari akhirat. Permulaan hari akhirat itu bagi setiap manusia adalah sesudah mati, yaitu:

a. Setiap orang akan mati apabila jangka usianya sudah habis.

b. Setelah mati lalu dikubukan. Di dalam kuburnya akan ditanya: Siapa Tuhannya, siapa Nabi, siapa imam dan lain-lain. Pertanyaan tersebut diajukan oleh malaikat Mungkar dan Nakir.

c. Orang yang jahat dan ahli ma’siat akan disiksa di dalam kubur.

d. Kemudian pada suatu waktu akan terjadi kiamat besar, dunia akan hancur luluh dan semua manusia bahkan semua makhluk di atas dunia akan mati dan hancur pula.

e. Kemudian pada suatu waktu pula akan dibunyikan terompet sehingga seluruh makhluk yang mati akan bangkit kembali, berkumpul di padang mahsyar.

f. Akan diadakan hisab, yaitu perhitungan dosa dan pahala.

g. Di Padang Mahsyar akan ada syafaat (pertolongan) dari Nabi Muhammad SAW dengan seijin Allah SWT.

h. Akan ada timbangan untuk menimbang dosa dan pahala.

i. Akan ada titian (jembatan) Shirathal Mustaqiem yang akan dibentangkan di atas neraka yang harus dilalui oleh sekalian manusia.

j. Akan ada telaga Kautsar kepunyaan Nabi Muhammad SAW di dalam surga, di mana orang-orang yang beriman akan dapat minum.

k. Yang lulus ujian dalam meniti Shirathal Mustaqiem akan langsung masuk surga Jannatun Na’im sementara yang tidak lulus akan tergelincir masuk ke dalam neraka.

l. Orang yang baik akan langsung masuk surga dan kekal selama-lamanya.

m. Orang yang mu’min yang berdosa dan mati sebelum bertaubat, akan masuk ke dalam neraka buat sementara dan setelah menjalani hukuman akan dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam surga buat selama-lamanya.

n. Orang kafir langsung masuk neraka dan kekal selama-lamanya.

o. Orang mu’min yang baik-baik akan diberi ni’mat apa saja yang ia sukai, dan akan diberikan ni’mat lagi yang paling lezat yakni akan melihat Allah SWT.

Demikian secara ringkas tentang hari akhirat.

11. Kaum Ahlussunnah wal Jama’ah mempercayai adanya Qada’ dan Qadar yaitu takdir ilahi, sebagai berikut:

a. Sekalian yang terjadi di dunia ini sudah ada qadla’ Allah SWT yakni hukum Allah SWT dalam azal, bahwa hal itu akan terjadi.

b. Sekalian yang terjadi di alam ini buruk atau baiknya semuanya dijadikan Allah SWT. Pendeknya nasib baik dan buruk semuanya dari Allah SWT dan kita umat manusia hanaya menjalani takdir saja.

c. Yang ada bagi manusia hanya kasab, ikhtiar dan usaha. Manusia wajib berikhtiar dan berusaha.

d. Pahala yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia adalah kaena karunia-Nya dan hukuman yang diberikan kepada manusia adalah karena keadilan-Nya.

Demikian kepercayaan orang mu’min menurut faham Ahlussunnah wal Jama’ah yang bertalian dengan rukun iman yang (6) enam, yaitu : percaya kepada Allah SWT, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari qiyamat dan qadla’ qadar-Nya.

Selain itu kaum Ahlussunnah wal Jama’ah mempercayai pula bermacam-macam kepercayaan yang terbit atau yang timbul dari rukun iman yang 6 tadi, sebagai berikut dibawah ini :

12. Allah SWT bersama nama-Nya dan sifat-Nya semuanya qadim, karena nama dan sifat itu berdiri di atas zat yang qadim, maka dengan demikian semua nama dan sifat Allah SWT adalah qadim, tidak ada pemulaannya.

13. Rezeki sekalian manusia sudah ditaqdirkan dalam azal, tidak bertambah dan tidak berkurang tetapi manusia diperintahkan untuk mencari rizki, diperintahkan untuk berusaha dan tidak boleh berpangku tangan menungu saja.

14. Kaum Ahlussunnah wal Jama’ah mempercayai adanya Qada’ dan Qadar yaitu takdir ilahi, sebagai berikut :

15. Ajal setiap manusia sudah ada jangkanya oleh Allah SWT tidak dimajukan waktunya, juga tidak dapat ditunda walaupun sekejap mata. Tetapi manusia diperintahkan oleh Allah SWT untuk berobat kalau sakit, tidak boleh menunggu ajal saja.

16. Anak-anak oang kafir yang mati kecil (bayi) masuk surga.

17. Do’a orang mu’min memberi manfaat bagi dirinya sendiri dan bagi orang lain yang dido’akan.

18. Pahala sedekah, wakaf dan pahala bacaan (tahlil, shalawat dan bacaan Al-Qur’an) boleh dihadiahkan kepada orang yang telah mati dan sampai kepada mereka kalau dimintakan kepada Al-Qur’an untuk menyampaikannya.

19. Ziarah kubur, khususnya kubur ibu bapak, ulama’-ulama’, wali-wali, dan orang-orang syahid, lebih-lebih maqam Rasulullah SAW, dan maqam sahabat-sahabat beliau adalah sunat hukumnya, diberi pahala kalau dikerjakan.

20. Berdo’a kepada Allah SWT langusung atau berdo’a dengan memakai wasilah (bertawassul) adalah sunat hukumnya, diberi pahala kalau mengerjakannya.

21. Masjid di seluruh dunia sama derajatnya, kecuali tiga buah masjid, lebih tinggi derajatnya dari yang lain, yaitu masjid-masjid di Makkah, Madinah dan Baitul Muqaddas. Berjalan (musafir) untuk beribadah ke masjid yang tiga tersebut adalah ibadah hukumnya, jika dikerjakan mendapat pahala.

22. Seluruh manusia adalah anak cucu nabi Adam. Adam berasal dari tanah. Iblis dan jin dijadikan dari api, tetapi malaikat-malaikat dijadikan dari cahaya.

23. Bumi dan langit ada. Siapa yang mengatakan langit tidak ada ia keluar dari lingkungan kaum Ahlussunnah wal Jama’ah.

24. Nama Tuhan tidak boleh dibuat-buat oleh manusia, tetapi harus seperti yang telah ditetapkan Allah SWT dalam Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW yang sahih. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmizi dan Imam Bukhari, nama Allah SWT itu 99 banyaknya. Siapa yang menghafalkannya di luar kepala akan dimasukkan ke dalam surga (lihat sahih Bukhari juz IV bagian 195 dan shahih Tamizi juz XIII, halaman 37-42). Kita umat Islam boleh berdo’a dan boleh menyeru dengan salah satu atau semua nama-Nya yang 99 ini, umpamanya Ya Latief, Ya Rahman, Ya Rahim, Ya Wadud dan sebagainya.

25. Kalau terdapat ayat-ayat suci Al-Qur’an yang seolah-olah menyatakan bahwa Allah SWT bertubuh seperti manusia, atau betangan seperti manusia, atau bermuka serupa manusia, maka ulama’-ulama’ Ahlussunnah wal Jama’ah mentakwilkan atau menafsirkan ayat di atas secara majazi, yakni bukan menurut asal dari perkataan itu, sesudah itu diserahkan kepada Allah SWT apakah yang sebenarnya yang dimaksud oleh ayat tersebut. Misalnya ayat yang mengatakan bahwa Tuhan bermuka, maksudnya ialah zat yang qadim, yang tidak serupa dengan makhluk-Nya, kalau terdapat ayat mengatakan “Tuhan bertangan” maksudnya adalah bahwa “Tuhan berkuasa” karena tangan itu adalah alat kekuasaan.

Kalau dijumpai ayat yang mengatakan “Tuhan duduk di atas Arsy” maksudnya bahwa “Tuhan menguasai Arsy”. Ada lagi ayat dan hadits yang mengatakan “Tuhan turun” maka yang turun adalah rahmat-Nya, bukan batang tubuhnya sebab Allah SWT tidak berbatang tubuh. Jika dijumpai ayat mengatakan bahwa “Tuhan atau Allah SWT itu cahaya”, maka maksudnya adalah Allah SWT itu memberi cahaya, demikian seterusnya dengan ayat-ayat yang lain.

Hal ini dianggap sangat perlu agar kita tidak terperangkap ke dalam kekeliuan dalam memahami ayat-ayat suci Al-Qur’an. Juga agar termasuk orang-orang yang menyerupakan Allah SWT dengan makhluk-Nya atau golongan kaum Mutasyabbihah atau Muassinah yang menerapkan adanya keserupaan Allah SWT dengan makhluk. Dalam surat as Syura ayat 11 disebutkan sejelas-jelasnya bahwa Allah SWT tidak serupa dengan makhluk-Nya. Tetapi dalam mengartikan atau menta’wilkan ayat ini janganlah memakai sembarang ta’wil. Hendaknya dipehatikan kitab-kitab tafsir Ahlussunnah wal Jama’ah yang dipercayai, umpamanya kitab tafsir At- Thabari, tafsir Qurthubi, tafsir Jalalain, tafsir Khazin dan lain-lain sebagainya.

26. Bangkit sesudah mati hanya satu kali. Manusia mulanya tidak ada, kemudian lahir ke dunia kemudian mati. Lalu hidup kembali (bangkit) dari kematian setelah peniupan terompet dan berkumpul di padang Mahsyar sesuai dengan ayat Al-Qur’an pada surat Al Baqarah ayat 28. Pendeknya kalau manusia sudah mati, ya mati. Tidak ada lagi hidup seperti binatang atau hantu gentayangan dan sebagainya. Hanya akan hidup lagi nanti setelah terompet malaikat Israfil berbunyi.

Hal ini bertentangan dengan kepercayaan sebagian orang Syi’ah yang berkeyakinan bahwa Sayyidina Ali karramallahu wajhah, dan akan hidup kembali nanti di akhir zaman lalu mati lagi, kemudian hidup kembali di padang Mahsyar.

27. Upah (pahala) yang Allah SWT berikan kepada oang-orang yang saleh bukanlah karena Allah SWT terpaksa untuk memberikannya dan bukan pula kewajiban Allah SWT untuk membalas jasa orang itu. Begitu juga hukuman bagi orang yang durhaka tidaklah Allah SWT terpaksa menghukumnya atau bukanlah kewajiban Allah SWT untuk menghukumnya, tidak. Allah SWT memberikan pahala kepada manusia dengan karunia-Nya dan menghukum dengan keadilan-Nya.

28. Allah SWT dapat dilihat oleh penduduk surga dengan mata kepala, bukan dengan mata hati saja. Tetapi ingatlah jangan ada keyakinan bahwa Allah SWT itu di dalam juga. Hanya kita yang bertempat dalam surga yang melihat-Nya.

29. Pada waktu di dunia tidak ada manusia dapat yang melihat Allah SWT kecuali Nabi Muhammad SAW, pada malam Mi’raj.

30. Mengutus rasul-rasul adalah karunia Allah SWT kepada hamba-Nya untuk menunjuki jalan yang lurus, bukanlah kewajiban Allah SWT untuk mengutus rasul-rasul-Nya.

31.Wajib diketahui dan diyakini oleh seluruh ummat Islam bahwa Nabi Muhammad SAW lahir di kota Makkah. Sesudah berusia 40 tahun diangkat menjadi rasul, lalu diturunkan kepada beliau ayat-ayat Al-Qur’an berturut-berturut selama 23 tahun. Sesudah 13 tahun menjadi rasul beliau pindah ke Madinah, menetap disitu sampai wafat. Beliau wafat sesudah melakukan tugas 23 tahun dalam usia 63 tahun. Makam Nabi Muhammad SAW berada di Madinah, dalam lingkungan Masjid Madinah sekarang. Setiap orang Islam boleh berziarah.

32.Nabi Muhammad SAW adalah manusia serupa kita, bukan malaikat. Beliau makan, minum, tidur, sakit, kawin,mempunyai keluarga serupa manusia biasa. Akan tetapi kemanusiaan beliau luar biasa, rohaniyah dan jasmaniyah beliau luar biasa kuatnya, karena kepada beliau diturunkan wahyu ilahi, yang kalau diturunkan di atas bukit maka bukit tersebut akan hancur lebur. Kalau diumpamakan kepada batu, boleh dikatakan bahwa Nabi Muhammad itu adalah batu akik (batu permata akik), dan manusia yang lain serupa batu kerikil, sama-sama batu tetapi yang satu lebih tinggi derajatnya, lebih kuat dan lebih mahal harganya. Kaum Ahlussunnah wal Jama’ah menganggap bahwa Nabi Muhammad SAW walaupun beliau serupa manusia biasa tetapi beliau adalah sayyidul khalaik, makhluk Allah SWT yang termulia di antara makhluk yang lain.

33. Silsilah nenek moyang Nabi Muhammad SAW adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab bin Marrah bin Ka’ab bin Luai bin Galib bin Fihir bin Malik bin Nadlar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudlar bin Ma’ad bin Adnan. Dari pihak ibu adalah ; Muhammad bin Aminah binti Wahab bin Abdul Manaf bin Zahrah bin Kilab (nenek Nabi yang keenam dari pihak bapak).
Hal ini bertentangan dengan kepercayaan sebagian orang Syi’ah yang berkeyakinan bahwa Sayyidina Ali karramallahu wajhah, dan akan hidup kembali nanti di akhir zaman lalu mati lagi, kemudian hidup kembali di padang Mahsyar.

34. Isteri-isteri Nabi Muhammad SAW dari mulai kawin sampai beliau wafat adalah:

a. Ummul Mu’minin Khadijah binti Khuwailid,

b. Aisyah binti Abu Bakar,

c. Hafsah binti Umar,

d. Ummu Salamah binti Abi Umayyah,

e. Ummu Habibah binti Abi Sufyan,

f. Saudah binti Zam’ah,

g. Zainab binti Jahasy,

h. Zainab binti Khuzaimah,

i. Maimunah binti Harits,

j. Juwairiyah binti Harits, dan

k. Safiyah binti Hay, (Radliyallahu an hunna).

35. Putra-putri Nabi Muhammad SAW adalah :

a. Zainab,

b. Ruqayyah,

c. Ummu Kalsum,

d. Siti Fatimah,

e. Qasim,

f. Abdullah, dan

g. Ibrahim (Radliyallahu an hum)

36. Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah SWT kepada seluruh umat manusia, tidak pandang suku, tidak pandang negeri dan tidak pandang agama.

37. Nabi Muhammad SAW Mi’raj ke langit melalui Baitul Muqaddas (Palestina) tanggal 27 Rajab dan kembali malam itu juga ke dunia membawa perintah shalat 5 kali sehari semalam. Beliau Mi’raj dengan badan dan tubuhnya.
38. Nabi Muhammad SAW terdahulu diangkat menjadi nabi dibanding nabi-nabi yang lain, yaitu pada masa Nabi Adam Ahlussunnah wal Jama’ah masih terbaring di surga sebelum diberi jiwanya. Karena itu, beliau (Nabi Muhammad SAW) adalah nabi yang paling dahulu diangkat dan yang paling akhir lahir ke dunia.

39. Nabi Muhammad SAW menerima syafaat (bantuan) nanti di akhirat kepada seluruh manusia. Syafaat (bantuan) itu bermacam-macam, diantaranya menyegerakan proses penghisaban di padang Mahsyar.

40. Sesudah Nabi Muhammad SAW meninggal dunia, maka pengganti beliau yang sah adalah Sayyidina Abu Bakar radiallahu an hu., sebagai khalifah pertama, Sayyidin Umar bin Khattab ra. sebagai khalifah kedua, Sayyidina Utsman bin Affan sebagai khalifah ketiga, dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah keempat, radliyallahu an hum.

41. Wajib diyakini bahwa yang paling mulia di antara makhluk Tuhan ialah Nabi Muhammad SAW, sesudah itu Rasul-rasul yang lain, lalu para Nabi, para Malaikat, barulah manusia yang lain.

42. Wajib diyakini bahwa sahabat Nabi Muhammad SAW yang paling mulia adalah Sayyidina Abu Bakar, sesudah itu Sayyidina Uma bin Khattab, sesudah itu Sayyidina Utsman bin Affan lalu Sayyidina Ali bin Abi Thalib, sesudah itu sahabat-sahabat yang sepuluh yang telah dikabarkan oleh Nabi Muhammad SAW akan masuk surga, yaitu 4 orang khalifah ditambah dengan Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas, Sa’id bin Zaid, Abu Ubaidah, Amir bin Jarrah, sesudah itu sahabat-sahabat yang ikut Perang Badar, sesudah itu sahabat-sahabat yang ikut Perang Uhud, sesudah sahabat-sahabat yang ikut Bai’atur Ridlwan, lalu sekalian sahabat Nabi, radliyallahu ‘an hum.

43. Dalam soal pertikaian dan peperangan yang terjadi antara para sahabat Nabi, seperti “Perang Jamal” antara Siti Aisyah dan Sayyidina Ali, “Perang Shifiin” antara Sayyidina Ali dengan Mu’awiyah, kaum Ahlussunnah wal Jama’ah menanggapi secara positif tidak banyak dibicarakan, tetapi dianggap bahwa mereka berijtihad menurut pendapat mereka masing-masing. Kalau ijtihad itu benar pada sisi Allah SWT mereka dapat pahala dua, tetapi kalau ijtihad mereka salah maka mereka mendapat pahala satu atas ijtihadnya itu.

44. Kaum Ahlussunnah wal Jama’ah yakin, bahwa sekalian famili Nabi Muhammad SAW, khususnya Siti Aisyah Ummul Mu’minin yang dituduh berbuat kesalahan adalah bersih dari noda. Fitnah yang dilancakan kepada famili Nabi adalah fitnah yang dibuat-buat (lihat Al-Qur’an surat An Nur ayat 11).

45. Kerasulan seorang rasul adalah karunia Allah SWT. Pangkat tersebut tidak bisa didapatkan dengan diusahakan, umpamanya dengan bersekolah atau bertapa dan lain-lain.

46. Rasul-rasul yang dibekali dengan mu’jizat, yaitu perbuatan yang ganjil yang diluar kmampuan manusia biasa, umpamanya Nabi Ibrahim AS tidak tebakar dengan api, Nabi Isa AS dapat menghidupkan orang yang telah mati, Nabi Musa AS bisa nenjadikan tongkatnya menjadi ular, Nabi Muhammad SAW dengan kitab suci Al-Qur’an yang tidak dapat ditiru oleh orang-orang yang pandai, air keluar dari anak jari beliau, bulan dapat dibelah dua, matahari berhenti berjalan dan lain sebagainya.

47. Kaum Ahlussunnah wal Jama’ah meyakini adanya keramat. Keramat artinya pekerjaan yang ganjil yang di luar kebiasaan yang mampu dikerjakan oleh para wali Allah, ualama’-ulama’, orang-orang sholeh, umpamanya makanan datang sendiri kepada Siti Mariam, ahli gua tidur selama 309 tahun tanpa rusak dagingnya.

48. Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang terakhir, tidak ada lagi nabi sesudah beliau. Begitu juga pangkat kenabian an kerasulan, begitu juga nabi-nabi pembantu tidak ada lagi sesudah Nabi Muhammad SAW. Siapa saja yang menda’wakan dirinya sebagai nabi atau rasul baik nabi bersendiri maupun untuk menjelaskan syari’at Nabi Muhammad SAW, maka orang itu pembohong yang wajib dilawan.

49. Wajib dipercayai adanya Arsy, yaitu suatu benda makhluk Allah SWT yang dijadikan dari nur, terletak di tempat yang tinggi dan mulia, yang tidak diketahui hakekatnya dan kebesarannya. Hanya Allah SWT yang mengetahui.

50. Wajib diketahui adanya “Kursi Allah SWT” yaitu suatu benda makhluk Allah SWT yang bedekatan dan bertalian dengan Arsy. Hakekat keberadaannya diserahkan kepada Allah SWT. Yang wajib kaum Ahlussunnah wal Jama’ah adalah mempercayainya.

51. Wajib dipercayai adanya Qalam, yaitu suatu benda yang dijadikan Allah SWT untuk menuliskan segala sesuatu yang akan terjadi di Lauh Mahfudh. Sekalian yang terjadi di dunia ini sudah dituliskan dengan Qalam di Lauh Mahfudh terlebih dahulu.

52. Surga dan neraka bersama penduduknya akan kekal selama-lamanya, tidak akan habis. Keduanya dikekalkan Allah SWT agar yang berbuat baik merasai selama-lamanya ni’mat pekerjaan dan yang berbuat dosa merasai selama-lamanya siksa atas pebuatannya.

53. Dosa itu, menurut faham Ahlussunnah wal Jama’ah, terbagi dua, ada dosa besar dan ada dosa kecil. Dosa besar itu ialah syirik (mempersekutukan Tuhan) ini paling berat atau paling besar, membunuh manusia dengan tidak hak, makan riba/rente uang, lari dari medan perang (perang sabil), menjadi tukang sihir mendurhakai ibu bapak, berbuat zina, berbuat liwath, berdusta terhadap Nabi dan lain-lain sebagainya. Kalau dosa besar tidak dikerjakan, maka dosa-dosa kecil akan diampuni saja oleh Tuhan. Dosa besar hanya dapat diampuni kalau si pembuatnya taubat kepada Tuhan.

54. Orang mukmin bisa menjadi kafir kembali (riddat) dengan melakukan hal-hal di bawah ini :

Dalam i’tiqad :

a. Syak atau ragu atas adanya Tuhan.

b. Syak atau ragu akan ke-Rasulan Nabi Muhammad Saw.

c. Syak atau ragu bahwa Al-Qur’an itu wahyu Tuhan

d. Syak atau ragu bahwa akan ada hari kiamat, hari akhirat, surga, neraka dan lain-lain sebagainya.

e. Syak atau ragu bahwa Nabi Muhammad Saw Isra’ Mi’raj dengan ruh dan jasad.

f. Meng-i’tiqadkan bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat seperti ilmu, hayat, qidam baqa’ dan lain-lain.

g. Meng-i’tiqadkan bahwa Tuhan bertubuh serupa manusia.
h. Menghalalkan pekerjaan yang telah sepakat ulama’ Islam mengharamkannya, umpamnya meyakini bahwa zina boleh baginya, berhenti puasa boleh baginya, membunuh orang boleh baginya, makan minum haram boleh baginya dan lain-lain sebagainya.

i. Mengharamkan pekerjaan yang sudah sepakat ulama’ Islam membolehknnya, umpama kawin haram baginya, jual beli haram baginya, makan minum haram baginya dan lain-lain sebagainya.

j. Meniadakan suatu amalan ibadat yang telah sepakat ulama’ Islam mewajibkannnya umpama sembahyang, puasa, zakat dan lain-lain sebagainya.

k. Mengingkari kesahabatan para sahabat-sahabat Nabi yang utama seperti Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar bin Khathab dan lain-lain sebagainya.

l. Mengingkari sepotong atau seluruhnya ayat suci Al-Qur’an atau menambah sepotong atau seluruh ayat suci al-Qur’an dengan tujuan menjadikan ia menjadi Al-Qur’an.

m. Mengingkari salah seorang Rasul yang telah sepakat ulama’-ulama’ Islam mengatakannya Rasul.

n. Mendustakan Rasul-rasul Tuhan

o. Meng-i’tiqadkan ada Nabi sesudah Nabi Muhammad Saw.

p. Mendakwahkan jadi Nabi atau Rasul setelah Nabi Muhammad Saw.

Dalam amalan:

a. Sujud kepada berhala, pada matahari, pada bulan dan lain-lain.

b. Sujud kepada manusia dengan suka rela.

c. Menghina Nabi-nabi atau Rasul-rasul dengan lisan maupun perbuatan.

d. Menghina kitab-kitab suci dengan lisan atau perbuatan.

e. Mengejek-ejek agama atau Tuhan dengan lisan atau tulisan.

Dalam perkataan

a. Mengucapkan “Hai kafir”, kepada orang Islam.

b. Mengejek-ejek atau menghina nama Tuhan.

c. Mengejek-ejek hari akhirat, sorga dan neraka.

d. Mengejek-ejek salah satu syari’at, umpamanya sembahyang, puasa, zakat, naik haji tawaf keliling Ka’bah, wukuf di Arafah dan lain-lain sebagainya.

e. Mengejek-ejek malaikat-malaikat

f. Mengejek-ejek Nabi-nabi dan Rasul-rasul.

g. Mengejek-ejek keluarga Nabi.

h. Mengejek-ejek Nabi Muhammad Saw.

i. Dan lain-lain.

5 thoughts on “Pengertian Ahlussunnah wal Jama’ah. ASWAJA bukan hal baru”

    1. iya , afwan nih dah lama gak online terutama untuk memperbaiki blog sendiri ini.
      Saya lagi aktif di perkuliahan sama pengajian Mahasiswa nahdliyin STAN, jadi kadang gak keurus ni BLog. Apalagi saya lagi merancang situs Pondok Habib Soleh Alattas Tegal, Guru saya. Doakan biar lancar dan bermanfaat.

  1. Asslamu ‘Alaikum,
    mohon maaf sebelumnya, saya seorang faqir yang melihat, menyaksikan bahwa kebejatan moral pengurus dan anggota arrabitha masih semena-mena dan sangat tidak profesional dalam mengurus nasab keluarga alawiyin yang ingin mengurus nasabnya. bahkan beberapa orng arrabitha langsung memvonis bahwa keluarga tersebut palsu nasabnya. padahal org arrabitha tersebut belum mengecek atw konfirmasi dan mencari kebenaran nasab keluarga tersebut dari hadramaut, yaman atw dari ahli nasab mereka yang katanya kasyaf akan nasab alawiyin. nasab keluarga tersebut dulunya oleh kakek mereka dibuat dan didaftar disana pada tahun 1943, tapi tidak pernah didaftar lagi setibanya di Indonesia karena menurut keluarga tersebut apa yang mereka punya sudah cukup. tapi nyatanya begitu mau didaftarkan lagi, arrabitha langsung memvonis. Berarti organisasi nasab ini yang ada di Indonesia PALSU, karena buktinya kalian tidak bisa konfirmasi dengan ahli nasab dan database nasab di dunia. saya mewakili keluarga tersebut bahwa keluarga tersebut mampu menunjukkan bukti2 otentik dengan adanya nasab asli dari hadramaut (dengan stempel asli) berupa lembaran karton (100 cm X 50 cm). bagaimana arrabitha mampu bertanggung jawab kepada ALLAH, RASULULLAH S.A.W. & HABABA FATHIMAH serta keluarga tersebut tentang ke-aroganan dan kebejatan arrabitha yang berani melakukan hal tersebut???????

  2. sudah berapa aliran dalam islam yang telah diketahui oleh para ulama’ Ahlussunnah…..?
    tolong sebutkan semua?
    ??????????????????????????????????????? berbagi Ilmu kawan.

  3. Hanya satu!dari 73 “golongan yang akan “Selamat dari Azab” Allah swt.

    Assm.Bismillah,Segala puji syukur kepada Allah swt, yang telah menurunkan Al Quran dan Hikmah Sunnah.
    Yang menjadikan petunjuk bagi “Kita” kaum “Muslimin dan Mukminin” sebagai “Perisai” dalam menhadapi godaan “Syaitan yang terkutuk” Telah nyata bagi Kita bahwa Syaitan adalah “Musuh” bagi Manusia,
    hanya dengan pertolongan Allah swt. Kita akan dapat selamat pulang kembali keKampung halaman (Akherat/Surga) Amien.

    Kami Telah Meng Up loaded Puluhan/Ratusan Ribu Buku-buku etc.
    https://archive.org/details/@jpnmuslim

    Mohon dikunjungi Wassm.Muyassar Nadzir(JpnMuslim)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s