Mengenai Puasa dan permasalahan2nya

BAB I

Penetapan Awal Puasa dan Akhir Puasa

Masih ada perbedaan di kalangan umat Islam tentang penetapan awal dan akhir Ramadhan. Sebagian menggunakan ru’yah (melalui melihat bulan) dan sebagian lagi memakai hisab (hitungan).

Ada dua cara yang disepakati oleh jumhur (mayoritas) ulama untuk menentukan awal dan akhir puasa. Yakni dengan melihat bulan atau dengan menyempurnakan hitungan bulan Sya’ban. Sebagaimana yang dikatakan yang dikatakan oleh DR. Ahmad al-Syarbashi seorang dosen di Universitas al Azhar Mesir, “Termasuk hal yang disepakati di kalangan jumhur ulama bahwa penetapan awal Ramadan dilakukan dengan salah satu cara dari dua cara. Pertama, melihat hilal bulan Ramadhan, bila tidak ada yang menghalangi pemandangan seperti mendung, awan, asap debu atau yang lainnya. Cara kedua adalah dengan menggenapkan bulan Sya’ban sebanyak tiga puluh hari. Ini dilakukan jika ada hal-hal yang menjadi penghalang untuk melihat hilal pada malam ketiga puluh karena ada mendung, awan atau lainnya.” (Yas’alunaka fi al-Din wa al-Hayah juz IV, hal 35)

Kesimpulan ini diperoleh dari hadits Nabi SAW, “Berpuasalah apabila telah melihat bulan, dan berbukalah (tidak puasa) kalian apabila sudah tidak melhat bulan. Namun jika pemandanganmu terhalang awan, maka sempurnakan bulan sya’ban itu tiga puluh hari.” (shahih al-bukhari. [1776]).

Oleh karena itu, seseorang dilarang memulai puasa ataupun mengakhirinya sebelum ada ru’yah. Rasulallah SAW bersabda, “Dari Abdullah bin Umar RA, bahwa suatu ketika Rasulallah SAW bercerita tentang bulan Ramadhan. Rasul bersabda, “Janganlah kalian berpuasa sehingga kamu sekalian melihat bulan, dan janganlah kamu berbuka (tidak puasa) sampai kamu melihat bulan. Namun jika pandanganmu tertutup mendung, maka perkirakanlah jumlah harinya.” (Shahih al-bukhari, [1773]).

Bukti-buti di atas menujukan bahwa untuk menentukan awal dan akhir puasa, ru’yah al-hilal (melihat bulan) merupakan cara yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.

Lalu bagaimana dengan hadis Nabi Muhammad yang berbunyi, “Dari Ibnu ‘Umar RA, dari Nabi SAW, bahwa beliau bersabda, “Kami adalah umat yang tidak dapat menulis dan berhitung. Satu bulan ini seperti ini.”.maksudnya satu saat berjumlah dua puluh sembilan dan pada waktu yang lain mencapai tiga puluh hari.” (Shahih al-Bukhari, [1780]).

Hadits ini dijadikan sebagai dasar oleh kelompok yang menggunakan hisab untuk melemahkan pendapat yang memakai ru’yah. Menurut mereka, hadits ini bukti bahwa Nabi SAW menggunakan ru’yah dalam keadaan terpaksa sebab umat beliau tidak bisa menulis dan melakukan ru’yah. Melihat kondisi seperti itu maka wajar jika Nabi SAW menggunakan ru’yah untuk menentukan awal dan akhir puasa. Ini untuk memudahkan kaumnya agar tidak menemui kesulitan ketika akan memulai dan mengakhiri puasa. Atas dasar ini, menurut mereka, penggunaan ru’yah sudah tidak relevan lagi, karena sekarang sudah banyak ahli hisab,. Dan juga fasilitas untuk melakukan hisab sudah tersedia sehingga tidak sulit lagi untuk melakukannya.

Menjawab keraguan ini, kita harus kembali pada sejarah. Apakah benar semua sahabat Nabi SAW tidak dapat menulis dan membaca. Dan apakah pada masa Nabi SAW tidak ada yang ahli hisab sehingga harus menggunakan ru’yah.

Jawabannya tentu tidak. Ada beberapa sahabat yang diperintah Rasulallah SAW belajar tulis menulis untuk dijadikan juru tulis beliau, seperti sahabat Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Mu’awiyyah dan lainnya. Oleh karena itu, yang dimaksud dalam hadist itu adalah mayoritas sahabat, bukan sahabat secara keseluruhan.

Selain itu, di negera Arab, jauh sebelum Rasullah SAW diutus, telah ada tempat untuk mempelajari ilmu hisab. Lima ratus tahun sebelum Nabi Isa lahir, seorang philosof yang bernama Phytagoras yang hidup pada abad ke IV SM telah membangun sebuah lembaga khusus yang mengajarkan tentang ilmu hisab. Bahkan sebagian pakar mengatakan bahwa ilmu hisab merupakan ilmu tertua di dunia karena ada sebelum terjadi banjir Nabi Nuh AS. Ini menunjukkan bahwa ilmu hisab telah ada sebelum jaman Rasulallah Saw. Dan di antara sahabat nabi, sebenarnya telah ada yang mahir dalam ilmu hisab, semisal Ibn ‘Abbas. (menentukan awal dan akhir Puasa Ramadhan, dengan Ru’yah dan hisab, 16-20)

Dengan alasan inilah, maka karaguan itu dapat terbantahkan. Dari itu, penentuan Awal dan akhir Ramadhan adalah dengan ru’yah, bukan dengan hisab .

BAB II

Qadha’ Puasa untuk Orang Mati

Ibadah puasa merupakan ibadah yang dibebankan oleh Allah SWT kepada umat Islam. Orang-orang yang telah memenuhi syarat, wajib melaksanakannya. Jika pada suatu saat, orang tersebut tidak berpuasa, baik karena ada uzdur atau tidak, ia berkewajiban mengganti puasa yang ditinggalkannya pada hari yang lain.

Ada beberapa kemungkinan terdapat beberapa orang yang meninggal dunia dan belum mengganti puasanya. Pertama, orang tersebut belum sempat mengganti puasanya. Misalnya ia tidak ada waktu untuk mengqadha puasanya. Seperti orang yang meninggal pada pertengahan puasa atau pada hari raya. Bisa juga karena sakit yang ia derita tiada kunjung sembuh hingga ajalnya menjemput. Kedua, tidak berpuasa karena ada udzur tetapi orang tersebut mempunyai kesempatan untuk mengqadha puasanya. Namun, ia tidak mengganti puasanya yang telah ditinggalkannya itu karena malas atau lainnya. Ketiga, orang tersebut tidak berpuasa karena tidak ada alasan yang dibenarkan kemudian ia meninggal dunia sebelum mengganti puasanya itu.

Pada contoh yang pertama, orang tersebut tidak punya kewajiban untuk mengganti puasanya. Sebab ia tidak berbuat lalai atau meremehkan agama. Pada contoh yang kedua, orang itu mati dengan meninggalkan hutang puasa. Tentang puasa yang ditinggalkannya, ada beberapa pilihan yang dapat dilakukan oleh ahli waris dan familinya. Di antaranya adalah memberikan makanan pada fakir miskin atau mengqadha puasanya. Hukum ini berlaku pula untuk kemungkinan yang ketiga, sama saja ia memiliki kesempatan untuk mengganti puasanya atau tidak. Sebagaimana yang dikemukakan syeikh Nawawi al-Bantani dalam Nihayah al-Zain, Orang mati dan meninggalkan hutang puasa Ramadhan, nadzar, ataupun puasa kafarat, sedangkan ia belum dapat menggantinya, seperti sakit yang ia derita terus berkepanjangan dan sedikit harapan untuk sembuh, atau ia terus melakukan perjalanan mubah (perjalan yang tidak untuk maksiat) sampai ia mati. Maka orang itu tidak perlu mengganti puasa yang ditinggalkannya, baik dengan puasa atau dengan membayar fidzah (makanan pokok). Sebab ia tidak lalai. Tapi jika sengaja ia tidak bepuasa (tanpa sebab yang dibenarkan), kemudian meninggal setelah ia memiliki kesempatan untuk mengqadha puasanya, (dalam kedua masalah ini) wali atau keluarga si mayat harus memberikan satu mud makanan pokok daerah itu, setiap satu hari. Makanan itu diambil dari tirkah (harta peninggalan) si mayit (dan diberikan kepada fakir miskim). Apabila orang yang meninggal itu tidak memiliki harta, maka wali tidak wajib berpuasa atau membayar fidyah yang diambil dari hartanya sendiri, tapi (perbuatan itu) disunahkan kepada si wali. Sesuai dengan hadits Nabi SAW, ”Barang siapa yang mati, sedangkan ia punya tanggungan puasa, maka walinya boleh berpuasa untuknya.” (Nihayah al-Zain, 192)

Ketentuan ini sesuai dengan sabda Nabi SAW, “Dari Ibn Umar ia berkata, “Rasulallah SAW bersabda, ”Barang siapa yang mati dan ia mempunyai kewajban puasa, maka hendaklah setiap hari (ahli warisnya) memberi makanan kepada fakir miskin.””” (sunnan Ibn Majah, [1747])

Sedangkan pilihan kedua sesuai dengan sabda Nabi Saw, “Dari Ibn Majah, ia berkata, ”Seorang perempuan mendatangi Rasulallah SAW lalu bertanya, ”Sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia, sedangkan ia punya hutang puasa. Apakah boleh saya berpuasa untuknya?” Rasulallah menjawab, ”Boleh,””(Sunnan Ibn Majah, [1749])

Inilah beberapa pilihan apabila keluarga kita yang meninggal dunia dengan membawa hutang puasa. Yakni bisa dengan mengqadha puasanya atau dengan membayar fidyah.

BAB III

Tadarus al-Qur’an

Soal :

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, karena didalamnya terkandung beribu-ribu kebaikan. Tidak heran, pada bulan ini umat islam berlomba-lomba mencari kebaiakan. Berbagai amalan amalan dilakukan untuk mengisi bulan ini. Dari amal yang sunnah sampai yang wajib. Diantara amalan yang sering dilakukan adalah tadarus al-Quran. Pada malam hari bulan Ramadhan, mesjid-mesjid seluruh indonesia marak dengan bacaan-bacaan ayat suci al-Qur’an. Secara silih berganti mereka melapalkan kalam ilahi. Tidak jarang, bacaan tersebut disambungkan kedalam pengeras suara. Semua itu dilakukan dengan satu tujuan harapan: berkah bulan Ramadhan yang dujanjikan Allah SWT mereka dapatkan. Bagaimanakah hukum melakukan tadarus tersebut?

Jawaban:

Pada bulan Ramadhan, pahala amal kebaikan akan dilipat gandakan oleh Allah SWT. Nabi SAW sangat menganjurkan umatnya untuk banyak ibadah kepada Allah SWT pada malam bulan Ramadhan.

Dalam sebuah hadits Nabi SAW bersabda:

dari Abi Hurairah RA Rasullah SAW bersabda,”Barang siap yang merindukan bulan Ramadhan dengan ibadh, (dan dilakukan ) denagn penuh keimanan dan keikhlasan maka akan diampuni dosanya yang tela berlalu”.(Shahih al-Bukhari, [1870])

Tentang apa yang dimaksud memeriahkan bulan Ramadhan yang ada falam Hadits ini, al-Shanani dalam kitabnya Subul al Salam menjelaskan:

“Yang dimaksud dengan qiyam Ramadhan (dalam hadist itu adalah) mengisi dan memeriahkan bualn Ramadhan dengan melakukan shalat atau memabca al-Qur’an”(Subul al-Salam, juz II, hal,173)

Lebih lanjut, Syeikh al-Nawawi, pengarang kitab faidh al-qadir Syar al-Jami’alal-shagir menjelaskan:

Qiyam Ramadhan itu dapat dilaksanakan dengan membacaal-Qura’an, shalat, dzikir, atau mempelajaru ilmu agama. Dan juga dapat berwujud dalam semua bentuk perbuatab naik”.(Faidh al-Qadir, juz VI, hal 191)

Maka sudah jelas, bahwa membaca al-qur’an pada malam bulan ramadhan itu sangat di anjurkan oleh agama. Kemudian bagaimana jika hal itu dilakukan secara bersama-sama. Yang satu membaca al-qur’an, sedangkan yang lain mendengarkan serta memperhatikan bacaan tersebut? Menjawab pertanyaan ini syeikh Nawawi al-Bantani mengatakan:

Termasuk membaca al-Qur’an (pada malam ramadhan) adalah mudarasah, yang sering disebut pula derngan idarah. Yakni seseorang membaca pada orang lain. Kemudian orang itu membaca pada dirinya. (yangseperti ini tetap sunah) sekalipun apa yang dibaca (orang tersebut) seperti yang dibaca pertama”.(Nihayah al-zain, 194-195)

Dan ternayta, praktik ini pernah dilaksanakan oleh Rasulallah SAW bersama malaikat Jibril. Dalam sebuah hadits disebutkan:

Dari Ibn RA bahwa Rasulallah SAW adalah orang yang paling pemurah. Sedangakn saat paling pemurah bagi beliau pada bulan Ramadhan adalah pada saat malaikat Jibril mengunjingi beliau. Malaikat Jibril selalu mengunjungi Nabi setiap malam bulan Ramadhan, lalu malakukan mudarasah al-qur’an dengan Nabi. Rasul SAW ketika dikunjungi malaikat Jibril, lebih dermawan dari angin yang berhembus”.(Musnad Ahmad [3358])

Dapat disimpulkan bahwa tadarus yang dilakukan dimasjid atau musalla pada malam bulan Ramadhan tidak bertentangan dengan agama dan merupakan perbuatan yang sanagat baik, karena sesuai dengan tujuan,dan ajaran Nabi SAW. Jika dirasa harus menggunakan pengeras suara, agar menambah syiar agama islam, maka hendaklah disesuaikan dengan keperluan dan jangan sampai mengganggu lingkunagn pula. Supaya ajaran syi’ar tersebut dapat diraih.

BAB IV

Lailatul al-Qadar

Pada malam bulan Ramadhan, khususnya pada sepuluh hari yang terakhir, umat Islam sangat dianjurkan untuk melakukan amal yang baik. Pada saat itu, terdapat satu malam yang sangat mulia. Satu malam di mana ibadah seorang hamba yang dilakukan pahalanya akan dilipatgandakan berpuluh-puluh, atau bahkan beratus-ratus kali lipat. Lailatul ai-Qadr, demikian nama malam itu. Tidak heran, semua orang berebut dan berlomba-lomba untuk mendapatkannya.

Tentang apa yang disebut dengan Lailatul al-Qadr, Allah SWT telah menyebutkan secara khusus dalam surat al-Qadr. Ketika menafsirkan surat ini DR Muhammad Bakr Isma’il menjelaskan, “Yang dimaksud (oleh ayat itu) adalah bahwa Allah Azzawa Wazalla berfirman, “Dengan kekuasaan dan kemulian Kami sungguh Kami menurunkan al-Qur’an pada malam lailatul al-Qadr, yaitu malam kemulian. Tahukah engkau, Muhammad, apakah Lailatul al-Qadar itu? Ia adalah satu malam, di mana bulan selain malam itu, para malaikat termasuk malaikat Jibril turun (ke bumi). Ketika itu dengan membawa kebaikan dan keberkahan. Para malaikat mengucapkan salam kepada umat Islam. Mereka berdo’a memintakan ampun untuk orang-orang Islam itu sampai fajar menjelang.” (Al-Fiqh al-wadhih min al-Kitab wa al-Sunah, juz I hal 557)

Lailatul al-Qadar merupakan malam lebih utama dari seribu bulan. Oleh sebab itu, kita dianjurkan untuk banyak beribadah pada malam itu. Rasulallah SAW bersabda, ”Dari Abi Hurairah, dari Nabi Muhammad Saw, ”Siapa saja yang menghidupkan malam Lailatul al-Qadar dengan ibadah) dilandasi iman dan iklash murni karena Allah SWT. maka dosa-dosanya yang terdahulu akan diampuni. Dan barang siapa yang melaksanakan puasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan pengharapan pada Allah SWT, maka akan diampuni segala dosa-dosanya yang telah terdahulu.” (shahih al-Bukhari [1768[).

Inilah janji Nabi SAW kepada uamtnya yang beribadah dengan keimanan yang mantap dan keikhlasan yang murni di malam Lailatul al-Qadr. Dosa-dosa akan dilebur, yang telah lalu ataupun yang akan datang.

Mengenai waktu kapan terjadinya Lailatul al-Qadr itu, Imam Nawawi mengatakan, ”(satu). Menurut pendapat pendapat yang mashur dalam mazhab kami, sesungguhnya Lailatul al-Qadr itu hanya pada sepuluh hari yang terahir dari bulan Ramadhan. (ada pendapat yang mengatakan) bahwa terjadinya Lailatul Qadr tidak berpindah-pindah. Setiap tahun hanya terjadi pada malam itu. Namun menurut pendapat mukhtar (yang dipilih) malam lailatul Qadr dapat berpindah. Karena dalam satu tahun hanya terjadi di satu malam, dan pada tahun berikutnya terjadi pada malam yang lain. Namun perpindahan itu tidak akan keluar dari sepuluh hari terahir bulan Ramadhan.” (Fatawi al-Iman al-Nawawi, 102)

Ada beberapa alasan mengapa malam ini disebut Lailatul al-Qadr. Ibn Rusd, seorang filosof muslim terkenal menyebutkan dalam sebuah karyanya, Allah SWT meyebutnya dengan Lailatul al-Qadr, karena pada malam itu semua ketentuan dan ketetapan yang akan dijalani manusia untuk tahun itu diputuskan, baik berupa rizki, ajal dan lainnya. Ketentuan ini berlaku sampai malam Lailatul al-Qadr tahun mendatang. Imam mujtahid berkata, (semua urusan itu ditentukan) kecuali kebahagian dan kesedihan. Hal ini dibuktikan dengan firman Allah SWT (QS al-Dukhan).” Pada malam ini semua perkara yang baik dibagikan kepada manusia.” (Muqadddimah Ibn Rusd, juz hal, 195)

Sedangkan tanda-tanda kehadiran Lailatul al-Qadr, bagaimana seseorang dapat mengetahui kedatangannya, Ibn Taimiyyah menjelaskan, ”Diriwayatkan, bahwa di antara tanda-tanda turunnya Lailatul al-Qadr adalah bahwa malam itu malam yang terang dan bercahaya. Tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Terkadang Allah SWT memberitahukan kepada sebagian manusia pada waktu ia tidur ataupun ketika ia terjaga sehingga seorang hamba dapat melihat sendiri cahaya Lailatul al-Qadr itu. Terkadang ada orang yang memberi kabar padanya bahwa pada saat itu adalah Lailatul al-Qadr. Dan kadang kala Allah SWT membuka hatinya untuk melihat langsung hakikat Lailatul al-Qadr yang sebenarnya.” (fatawa al- Kabir, juz 2, hal 476).

Dapat disimpulkan bahwa Lailatul al-Qadr merupakan salah satu karunia Allah yang diberikan kepada umat Islam pada bulan Ramadhan. Allah SWT menjanjikan pahala yang berlipat ganda bagi siapa saja yang menghiasi malam tersebut dengan beribadah kepada-Nya. Namun Allah SWT merahasiakan waktunya agar orang Islam lebih giat dan berlomba-lomba untuk mendapatkannya.

 

KEPADA SIAPA DAN KAPAN PUASA DIPERINTAHKAN

Pesantren Virtual

Fikih Keseharian seri ke-45, Rabu, 8 Desember 1999

Oleh KH. A. Mustofa Bisri

Tanya:

Ada ayat Al-Quran yang sangat populer, yaitu QS. Al-Baqarah: 183 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, berpuasalah kamu sebagaimana orang sebelum kamu berpuasa, agar menjadi orang yang takwa.”

Yang menjadi pertanyaan saya sehubungan ayat yang saya sebut di atas adalah:

  1. Apakah perintah berpuasa hanya ditujukan kepada orang yang beriman? Lalu bagaimana dengan orang kafir?
  2. Sejak kapan manusia diperintah Allah untuk menjalankan puasa? (Kira-kira tahun berapa?)

Atas jawaban Bapak saya ucapkan terima kasih.

Mujayin

Jl. Diponegoro 47 Parakan

Jawab:

Mas Mujayin, maaf, tentunya ayat yang Anda maksud adalah yang berbunyi:

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu puasa sebagaiman telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS 2. Al-Baqarah: 183)

Dari ayat tersebut jelaslah bahwa kewajiban puasa bukan atas kita, umat Muhammad Saw. saja, melainkan juga diwajibkan atas orang-orang atau umat sebelum kita. Umat sebelum kita, menurut sementara ahli tafsir, adalah orang-orang Yahudi dan ada sejak Nabi Adam a.s., meskipun tata cara dan waktunya tidak sama seperti puasa Ramadhan kita.

Sehubungan dengan ayat tersebut, saya tanggapi pertanyaan Anda sebagai berikut:

1. Menurut apa yang tersurat dan tersirat dalam ayat tersebut, perintah puasa memang ditujukan kepada orang-orang yang beriman. Dan yang saya ketahui menurut kitab-kitab kuning, kewajiban puasa memang bagi orang yang sudah Islam. Artinya orang Islam atau yang pernah Islam (orang murtad, na’udzu billaah min dzaalik). Orang kafir tidak. meskipun ada juga pendapat yang menyatakan bahwa orang kafir juga terkena perintah, cuma syarat wajib puasanya adalah Islam.

2. Seperti sudah saya singgung di atas, kewajiban puasa bahkan –ada yang berpendapat– sudah ada sejak Nabi Adam a.s. (kira-kira sekian ribu tahun yang lalu!). Anda ini ada-ada saja. Untuk apa sih kepingin tahu sejak kapan Allah memerintahkan manusia berpuasa?

Wallaahu A’lam bishshawaab.[]

Berlangganan:

Kirim email kosong ke pesantren-subscribe@egroups.com

Berhenti:

Kirim email kosong ke pesantren-unsubscribe@egroups.com

Pesantren Virtual – “Pondok Pesantren era Digital”

Website: http://come.to/pesantren

Email: pesantren@mail.com

PUASA TERTELAN AIR

Pesantren Virtual

Fikih Keseharian seri ke-47, Jum’at, 11 Desember 1999

Oleh KH. A. Mustofa Bisri

(Diambil dari buku Fikih Keseharian, Al-Miftah, Surabaya)

Tanya:

Pak Kiai, pada bulan Ramadhan ini, saya pernah berwudlu di siang hari; karena sudah terbiasa, maka saya pun berkumur-kumur seperti biasanya. Nah, waktu berkumur itu, tanpa saya sadari, terasa air yang tertelan.

Pertanyaan saya, batalkah puasa saya karena tertelan air tersebut?

Mohon jawaban dan terima kasih.

D. Nurhadi

Jawab:

Orang yang lupa makan atau minum pada waktu puasa, tidak direken (dihitung). Tidak dianggap batal puasanya, karenanya orang tersebut tidak wajib mengqadhai atau membayar puasa atau membayar fidyah.

Rasulullah Saw. pernah bersabda:

“Barangsiapa lupa pada saat puasa, lalu makan atau minum, hendaklah melanjutkan puasanya. Karena sesungguhnya Allah telah memberinya makan dan minum.” (HR. Muslim)

Itu artinya Allah memang berkehendak memberi makan atau minum orang yang lupa tadi.

Saya rasa kasus Anda, berwudlu tertelan air, sama dengan ini. Kan Anda tidak sengaja menelan air. Puasa Anda sah dan tidak batal. Apalagi ada hadis lain:

“Sesungguhnya Allah menggugurkan (artinya tidak menuntut tanggung jawab) dari umatku kekeliruan, kelupaan, dan sesuatu yang mereka dipaksa melakukannya.”

Wallaahu A’lam.[]

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s