Fiqh Cewek

Fiqhunnisa’

Maraknya pemakaian kontrasepsi KB baik dengan mengkonsumsi pil, suntik, spiral maupun lainnya seiring mengganggu siklus pendarahan haidh seorang wanita. Fenomena ini dianggap enteng sebagian wanita, mereka merasa tidak berkewajiban bertanya tentang kebenaran hitungan haidh mereka, sehingga banyak kita jumpai perempuan yang tidak shalat dengan alasan haidh padahal darang yang keluar tersebut belum tentu darah haidh. Dan sebagian kaum adam yang telah meiliki istri maupun anak perempuan juga tidak mengetahui masalah yang terkait dengan Haidh dan nifas ini kecuali hanya sedikit. Oleh karenanya alfaqir menuliskan ini sebagai pengetahuan dasar bagi semua yang belum mengetahuinya, semoga dapat bermanfaat.

Haidh adalah darah yang keluar secara alami dari ujung rahim perempuan pada waktu-waktu tertentu. Arti kata “alami” disini maksudnya adalah keluar tanpa sebab-sebab tertentu seperti kontraksi rahim pada wanita yang hendak melahirkan, darah yang keluar tersebut bukanlah dihukumi darah haidh.

Dalil hukum haidh berasal dari QS Al Baqarah : 222, yang berbunyi :

Mereka bertanya kepadamu tentang haidh, katakanlah ‘Haidh itu adalah suatu kotoran’. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita (jangan bersetubuh) diwaktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci (Mandi besar). Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu ditempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”

Seorang perempuan dapat mengeluarkan darah haidh jika telah berumur 9 tahun dalam hitungan tahun Qamariyah dengan toleransi waktu kurang dari 16 hari. Contohnya gadis yang lahir pada 20 Muharram 1400 H, Kemudian pada tanggal 1 Muharram 1409H dia melihat darah keluar dari kemaluannya, maka darah tersebut tidak bisa disebut darah haidh karena gadis tersebut belum mencapai 9 tahun – 16 Hari. Lain halnya kalau keluarnya darah pada tanggal 10 Muharram 1409 H, meski belum 9 tahun darah yang kelua adalah darah haidh karena ada toleransi kurang dari 16 hari.

Haidh memiliki masa minimum, standard, dan maksimum. Paling sedikitnya haidh adalah 24 jam dan paling banyaknya 15 hari, dan kebanyakan wanita mengeluarkan darah haidh 7-8 hari. Dalil ditetapkannya masa-masa haidh adalah riset yang dilakukan oleh Imam Syafi’i terhadap para wanita yang ada dimasanya. Oleh karenanya, jika ada sekelompok wanita yang memiliki kebiasaan bertentangan dengan apa yang telah ditetapkan oleh Imam Syafi’i maka kita katakana bahwa darah yang keluar itu adalah darah istihadhah.

Sifat haidh

Darah haidh memiliki beberapa sifat, warnanya merah pekat (agak kehitaman), merah, merah agak kuning, kuning, keruh (kuning pudar), kadang memiliki bau yang tidak sedap, dan kadang keluarnya kental. Seorang perempuan belum dikatakan suci dari masa haidh jika masih ada warna kuning atau bercak-bercak kuning. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari ra diriwayatkan bahwa ada seorang perempuan yang mengutus budaknya untuk datang ke tempat Sayyidah ‘Aisyah ra dengan membawa wadah berisi kapas yang belepotan warna kuning, maka sayyidah ‘Aisyah berkata, jangan terburu-buru hingga kamu melihat warna putih. Artinya jangan terburu-buru shalat sebelum kamu betul-betul suci dengan tidak keluarnya cairan kuning dan keruh.

Darah yang keluar dimasa kehamilan jika memenuhi syarat-syarat haidh juga dihukumi haidh. Darah haidh terkadang keluar dengan terputus-putus dan kadang pula tidak.Darah yang sehari keluar sehari tidak semuanya dihukumi haidh beserta dengan masa bersihnya, dengan 2 syarat :

1) Tidak melebihi 15 hari. Jika darah kedua datang setelah 15 hari maka tidak lagi disebut haidh, karena waktu maksimum haidh adalah 15 hari.

2) Jumlah keseluruhannya tidak kurang dari 24 jam. Jika ternyata jumlah keseluruhannya tidak mencapai 24 jam maka semua darah tersebut dihukumi darah istihadhah.

Contoh, seorang wanita mengeluarkan darah 3 hari, kemudian bersih sampai dihari kesepuluh keluar darah lagi. Darah yang terakhir masih dihukumi darah haidh. Berbeda jika keluar darah 10 hari, bersih 5 hari dan keluar darah lagi di hari ke 16, maka darah dihari ke 16 tersebut tidak lagi dihukumi darah haidh. Dan seorang wanita yang dalam 6 hari melihat darah setiap harinya 3 jam saja, semua darahnya dihukumi darah istihadhah.

Bersihnya kemaluan dari cairan kuning dan keruh merupakan tanda sucinya perempuan dari haidh, yaitu jika ia memasukkan kapas pada kemaluannya akan keluar bersih tidak terkotori oleh bercak-bercak kuning, tentunya jika darah tersebut telah mencapai waktu minimun haidh, yaitu 24 jam (sehari semalam). Dengan demikian dia wajib mandi besar, melakukan shalat, puasa (dibulan puasa), dan halal bagi suaminya untuk menyetubuhinya. Jika dalam waktu dekat darahnya keluar kembali berarti haidnya masih berlanjut, puasa yang telah dilakukan harus di qadha dan tidak ada dosa dengan persetubuhan yang telah dilakukan karena mereka melakukannya atas dasar hukum dzahir bahwa sang istri telah suci.

Suci antara 2 haidh

Paling sedikitnya suci antara 2 haidh adalah 15 hari (jika hitungan bulan qamariyah = 30, atau 14 jika hitungan bulan qamariyah = 29), sebab jika paling banyaknya masa haidh adalah 15 hari maka paling sedikitnya masa suci adalah 15 / 14 hari, karena biasanya dalam sebulan seorang wanita tidak kosong dari haidh dan suci. Masa suci pada umumnya adalah sisa bulan dari masa haidh dan tidak ada waktu maksimum untuk suci karena seorang perempuan terkadang tidak keluar haidh sama sekali atau keluar haidh hanya sekali seumur hidupnya.

Darah yang keluar sebelum selesainya masa suci tidak disebut darah haidh, dan perempuan tersebut dinyatakan sebagai perempuan yang memiliki sisa masa suci. Contoh, perempuan yang keluar haidh 7 hari, kemudian suci 10 hari, setelah itu keluar darah 5 hari. Darah yang terakhir tersebut tidak disebut darah haidh karena masa sucinya masih kurang 5 hari. Jadi dalam 5 hari terakhir tadi wanita tersebut tetap dihukumi suci.

Nifas

Nifas adalah darah yang keluar setelah kosongnya rahim dari janin (termasuk gumpalan daging atau darah jika para bidan bayi mengatakan bahwa itu adalah calon janin). Dengan syarat keluarnya darah sebelum selang 15 hari dari waktu melahirkan. Wanita yang melahirkan tanpa mengeluarkan darah, kemudian setelah 15 hari ada darah keluar, maka darah tersebut dihukumi darah haidh.

Dalil dalam masalah nifas adalah hadits Ummi Salamah ra, perempuan-perempuan yang nifas pada zaman Rasulullah SAW duduk (menunggu nifas mereka) selama 40 hari.

Masa maksimum nifas adalah 60 hari, masa minimumnya sebentar (sekali keluar) dan umumnya wanita mengeluarkan darah tersebut selama 40 hari. Hukum nifas dimulai sejak keluarnya darah, sampai hitungan 60 hari terhitung setelah melahirkan. Jika ada wanita setelah melahirkan tidak mengeluarkan darah sampai 10 hari kemudian dihari ke 11 keluar darah selama 50 hari, maka secara hitungan dia telah mengalami nifas selama 60 hari, namun pada 10 hari pertama dia dihukumi suci dan wajib melakukan shalat dan puasa sebagaimana perempuan yang suci.

Nifas yang terputus

Wanita yang sedang nifas melihat beberapa hari bersih, jika masa bersihnya mencapai 15 hari, maka darah yang kedua adalah darah haidh. Begitu juga kalau darah yang kedua datang setelah 60 hari. Syaratnya adalah : (a) Seluruh darah akan disebut nifas jika tidak melebihi 60 hari (setelah melahirkan), dan (b) Masa selanya (masa tidak keluar darah) tidak mencapai 15 hari. Contoh kasus :

1) Keluar darah nifas selama 20 hari, bersih 10 hari kemudian keluar darah lagi 20 hari . Semua itu masih dihukumi nifas, karena totalnya kurang dari 60 hari dan masa selanya kurang dari 15 hari.

2) Nifas 30 hari, bersih 20 hari kemudian keluar lagi darah selama 6 hari. Maka darah yang kedua dihukumi darah haidh. Karena setelah 30 hari pertama, masuk masa bersih selama 20 hari (melebihi 15 hari), berarti masa nifas sudah selesai. Dan darah yang keluar setelahnya adalah darah haidh.

3) Nifas 58 hari, bersih 5 hari kemudan datang darah lagi selama 10 hari, darah yang kedua dihukumi darah haidh karena datangnya sudah melebihi waktu nifas yaitu 60 hari (58 + 5 hari = 63 hari).

Sebagaimana telah kita ketahui bahwa darah yang dilihat orang hamil dihukumi haidh jika memenuhi syarat haidh, oleh karena itu tidak ada masa minimun antara haidh dan nifas. Contoh, seorang wanita hamil mengalami menstruasi 5 hari seperti kebiasaannya tiap bulan sejak sebelum hamil, kemudian darah tersebut bersambung dengan melahirkan, maka darah yang keluar setelah melahirkan adalah darah nifas dan darah yang keluar sebelum melahirkan adalah darah haidh, begitu juga darah yang keluar bersama keluarnya anak.

Jarak minimum suci antara nifas dan haidh adalah 15 hari jika terjadi dalam kurun 60 hari terhitung dari setelah melahirkan (jika mengalami masa tidak berdarah / suci, masih dalam rentangan waktu 60 hari seperti syarat kedua dalam hukum nifas yang terputus). Adapun suci seusai 60 hari atau suci yang menyempurnakan 60 hari maka tidak disyaratkan mencapai 15 hari (diluar waktu yang 60 hari, maka tidak ada batas minimal waktu suci). Contoh, nifas 60 hari kemudia suci sehari setelah itu keluar darah 5 hari, darah yang kedua adalah darah haidh meskipun sucinya cuma sehari, begitu juga jika nifas 59 hari, suci 1 hari kemudian keluar darah 5 hari lagi. Darah kedua inipun dihukumi darah haidh, karena 59 nifas + 1 hari suci sudah mencapai waktu maksimal nifas yaitu 60 hari.

Adapun 11 larangan yang harus dijauhi perempuan yang haidh atau nifas, yaitu :

  1. Shalat
  2. Thawaf
  3. Menyentuh Mushaf (tanpa aling-aling)
  4. Membawa Mushaf
  5. Diam di masjid
  6. Membaca Al-Qur’an
  7. Puasa
  8. Cerai
  9. Melewati masjid jika takut mengotori
  10. Bersenang-senang diantara lutut dan pusar
  11. Bersuci untuk beribadah

Kewajiban wanita seputar haidh dan nifas

Pengetahuan mengenai haidh dan nifas adalah termasuk ilmu wajib yang harus dituntut oleh kaum hawa, jika orang tua atau suaminya mengerti hukum mengenai haidh dan nifas maka wajib bagi mereka untuk mengajarkannya pada anak perempuannya dan istrinya. Namun jika mereka juga tidak mengerti hukum, maka seorang wanita harus keluar rumah untuk menuntut ilmu tersebut dari orang lain dan haram bagi orang tua atau suami untuk mencegah, kecuali jika mereka mau keluar dan bertanya untuk anak istri mereka. Mengapa haram untuk orang tua atau suami mencegah ? Karena ini adalah bagian dari ilmu syariah yang berkaitan langsung dengan kewajiban ibadah seorang hamba kepada Penciptanya.

Seyogyanya sebagai seorang wanita wajib mengerti tentang hal-hal yang berhubungan dengan kewanitaan karena hal ini erat sekali hubungannya dengan syah atau tidaknya kewajiban ibadah. Semoga tulisan ini dapat berguna bagi kaum nisa’ khususnya dan bagi kaum adam yang sudah beristri maupun memiliki anak perempuan untuk mengajarkan langsung kepada mereka, karena dapat menyelamatkan kehormatan rumah tangganya.

Wallahu’alam bishshawab.

Tulisan ini dirangkum oleh al faqir dari :

1. Pelajaran Fiqh Habib Salim bin Muhammad Maula Dawilah.

2. Majalah Cahaya Nabawi, edisi 49 Th. V shafar 1428 H / Maret 2007 M hal 68 -71

2 thoughts on “Fiqh Cewek”

  1. I hardly drop remarks, but after reading through a ton of comments on this page Fiqh Cewek | Ahlussunnahwaljamaah.

    I do have a few questions for you if it’s okay. Is it only me or does it give the impression like a few of these responses come across like they are written by brain dead folks?😛 And, if you are posting at other social sites, I’d
    like to keep up with everything fresh you have to post. Would you list of all of all your social networking sites like your Facebook page, twitter feed, or
    linkedin profile?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s