Lima Dalil Hukum

LATIHAN DASAR PEMANTAPAN

PAHAM AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH

LIMA DALIL PERJUANGAN

PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA

IKATAN MAHASISWA NAHDLIYYIN

15 – 17 JULI 2007

PENDAHULUAN

Imam-imam mujtahidin mu’tabarin selalu menggunakan dalil-dalil sebagai dasar dalam berijtihad dan beristinbath untuk menemukan hukum sesuatu yang tidak ada dalilnya yang bersifat qath’I di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dengan mengetahui dan memahami dalil-dalil yang mereka pergunakan tersebut, kita dapat mengetahui betapa sangat teliti dan seksama para imam mengolah dalil-dalil Al-Qur’an dan Al-Hadits. Dengan demikian, keyakinan kita akan menjadi lebih teguh karena hasil ijtihad (madzhab) dapat dipertanggungjawabkan secara diniyah, terutama memperhatikan akhlak, keahlian, dan kepribadian imam-imam tersebut

Di dalam mengikuti suatu pendapat mengenai masalah agama, bukan saja hanya dinilai pendapatnya, tetapi harus pula dinilai akhlak, keahlian, kesucian batin dan kepribadian orang yang diikuti, sebagaimana ajaran nabi:

“Perhatikanlah dari siapa kamu mengambilnya”

Semoga uraian singkat ini membawa manfaat bagi seluruh umat Islam dan dapat dipergunakan dengan uraian-uraian lain tentang hal-hal yang harus menjadi landasan berpikir, bersikap, dan bertindak bagi kaum Nahdliyyin khususnya dan kaum Ahlussunnah Wal Jamaah pada umumnya.

Kita memohon kepada Allah untuk selalu mendapat ridla dan rahmat-Nya di dalam segala amal dan perbuatan kita termasuk di dalamnya semoga Ikatan Mahasiswa Nahdliyyin dapat istiqomah menyelenggarakan kegiatan Latihan Dasar Pemantapan Paham Ahlussunnah wal Jamaah demi meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

Jakarta, 4 Juni 2007

LIMA DALIL PERJUANGAN

Nahdlatul Ulama memiliki tanggapan, sikap, dan program tentang masalah-masalah perjuangan berdasarkan atas prinsip-prinsip, patokan/kaidah yang disebut lima dalil perjuangan, yaitu:

1. Jihad Fisabilillah,

2. Izzul Islam Wal Muslimin,

3. At-Tawasshuth/Al-I’tidal/At-Tawazun,

4. Saddudz Dzariah,

5. Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Masing-masing dengan pengertian dan penjelasan pada uraian selanjutnya.

1. Jihad Fisabilillah

a. Pengertian yang benar tentang jihad fisabilillah adalah:

1) Dalam arti perang fisik

2) Dalam arti perjuangan berdakwah dan bertabligh

3) Dalam arti pengorbanan harta, tenaga, dan pikiran

4) Dalam arti perjuangan batin membina akhlak dan memerangi hawa nafsu

5) Dalam arti perjuangan untuk perbaikan taraf penghidupan (pangan, papan, sandang)

“…dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (Al-Qur’an, Surat At-Taubah ayat 41)

“Sedang Nabi SAW. duduk-duduk bersama beberapa sahabatnya pada suatu hari, mereka melihat seorang pemuda yang gagah, pagi-pagi pergi bekerja. Mereka berkata: ‘Cih, pemuda ini! Kalau kemudaannya dan kebesaran badannya dipergunakan berperang sabilillah (alangkah baiknya)’ Bersabdalah Nabi SAW.:’Janganlah kalian berkata demikian! Sesungguhnya kalau dia bekerja untuk dirinya untuk mencegah diri dari minta-minta dan tidak memerlukan pertolongan orang, maka dia telah berada di Jalan Allah, kalau dia bekerja untuk dua orang tuanya yang sudah lemah (tidak mampu bekerja) atau keluarganya yang lemah supaya mencukupi kebutuhannya, maka ia telah berada di jalan Allah. Kalau dia bekerja untuk mencari kemegahan dan kemewahan, maka dia berada di jalan setan.” (Thabrani)

b. Jihad fisabilillah memerlukan ketahanan mental dan timbal baliknya juga menumbuhkan ketahanan mental, dengan perkataan lain:

1) Untuk mau berjihad, seseorang memerlukan semangat, dorongan, dan pembinaan mental.

2) Orang yang berjihad karena Allah, akan bertambah kuat iman dan semangatnya, bertambah pengalaman dan pengetahuannya tentang perjuangan, untuk dapat melanjutkan perjuangan itu.

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (Al-Maidah: 54.)

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.(Al-Ankabut: 69.)

c. Pengertian jihad inilah, antara lain, yang menjadi sasaran utama untuk diselewengkan oleh Inggris (baca: kapitalis, imperialis, kristen, barat) dengan menggunakan gerakan Ahmadiyah yang dibina, dibiayai dan didalangi oleh pemerintah Inggris yang menyebarkan pendapat:

1) Bahwa jihad fisabilillah hanya boleh dilaksanakan dengan damai, tutur kata, tanpa perlawanan apalagi kekerasan terhadap lawan

2) Bahwa orang Islam wajib taat dan setia kepada setiap pemerintah yang ada meskipun pemerintahan bangsa asing atau pemerintahan yang menentang ajaran Allah dan rasul-rasul-Nya.

Dengan segala macam usaha, tipu-daya, kelicinan, dan kelicikan; pendapat yang sesat ini diselundupkan dan disalurkan dengan lesan, tulisan, dan lain-lain.

d. Dengan demikian dimaksudkan supaya:

1) Akhirnya ajaran Islam tinggal kulitnya, sedangkan isinya sudah sesuai ‘pesanan Inggris’ (sesat)

2) Akhirnya umat Islam menjadi ‘jinak’, tidak ada daya perlawanan, kehilangan vitalitas dan menjadi kokohlah supremasi dan dominasi imperialis, kristen, barat atas umat Islam di segala bidang

e. Jihad dalam arti perang fisik adalah:

1) Tindakan penertiban keamanan dalam negeri

Tindakan ini hanya boleh dilakukan oleh pemerintah untuk memulihkan ketertiban dan keamanan umum dan untuk menjaga kesatuan dan persatuan bangsa dan umat, ditujukan kepada mereka yang menyusun kekuatan fisik untuk:

a) melakukan tindakan kekerasan terhadap segolongan lain dari rakyat (segolongan rakyat melawan segolongan rakyat yang lain)

b) melakukan pembangkangan dan pemberontakan terhadap pemerintah yang sah (atau dilakukan PBB terhadap negara anggotanya yang membahayakan perdamaian dunia)

“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Al-Hujurat: 9-10)

2) Tindakan keluar (terhadap negara lain), yaitu untuk:

a) Melawan kelaliman dan pengusiran semena-mena (termasuk melawan penjajahan)

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah.”… “ (Al-Hajj: 39-40)

b) Mempertahankan diri dari serangan musuh (dari luar)

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-Baqarah: 190)

3) Perang untuk meratakan jalan dari segala macam rintangan dan perlawanan bagi perkembangan kebebasan beragama, ditujukan kepada:

a) Mereka yang dengan kekuatan/kekerasan menghalangi dan merintangi perkembangan kebebasan beragama pada umumnya dan agama Islam pada khususnya.

Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah…(Al-Baqarah:193)

b) Mereka yang dengan kekerasan memaksakan perbuatan kedhaliman dan kesewenang-wenangan

…Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan(Nya). (An-Nisa: 84)

Itulah pengertian dari trilogi yang terkenal: Islam atau Jizyah atau Perang.

Islam berarti mau mengikuti ajaran Allah.

Jizyah berarti menyerah dengan membayar upeti sebagai tanda tidak bermusuhan dan membuka/meratakan jalan bagi perkembangan kebebasan beragama.

Perang, kalau kedua jalan tersebut ditolak, maka tinggal satu-satunya jalan yang bisa ditempuh, yaitu: perang (kekerasan).

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (Attaubah:29)

2. Izzul Islam Wal Muslimin

a. Al-Izzah, arti semula adalah keunggulan, kemenangan, kejayaan, atau kedudukan baik. Di sini akan digunakan dalam pengertian harga diri. Sebagai prinsip atau dalil perjuangan, Nahdlatul Ulama memberikan arti kesadaran sepenuh-penuhnya bahwa:

1) Islam adalah agama Allah, agama yang paling sempurna, untuk segala orang dan untuk segala zaman

2) Umat Islam, di mana saja, kapan saja, berhak sepenuhnya atas harga diri yang sesuai dengan ketinggian martabat agamanya, bahkan wajib memperjuangkan tercapainya harga diri yang luhur itu serta mempertahankannya dengan segala kemampuan yang ada

3) Percaya atas kekuatan diri umat Islam sendiri, dengan pengertian bahwa:

a) ajaran Islam mampu menggerakkan umat Islam untuk menegakkan dan mempertahankan agamanya

b) umat Islam mampu berjuang/berjihad memelihara, mengembangkan, dan mempertahankan agamanya

c) tidak menggantungkan diri kepada bantuan, apa lagi belas kasih pihak lain

d) jihad menegakkan kalimat Allah tidak dapat dan tidak boleh dititipkan kepada pihak lain

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imron:19)

“Islam itu luhur dan tidak ada yang lebih luhur lagi, tidak ada yang mengatasinya

Jangan kamu sekalian merasa rendah diri, jangan pesimis, kamu sekalianlah yang paling luhur, kalau kamu sekalian beriman

Keunggulan itu hanya milik Allah, rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Al-Maidah:3)

b. Prinsip harga diri dipertahankan dengan:

1) menyesuaikan hidup dan kehidupan umat Islam dengan pola-pola ajaran Islam.

2) tidak hanya meniru-niru apa yang datang dari luar Islam, tanpa diukur dengan norma-norma Islam sendiri, apalagi bila peniruan itu bersumber dari rasa rendah diri dan pengakuan atas supremasi dan dominasi pihak yang ditiru.

“Barangsiapa meniru-niru perbuatan sesuatu golongan, maka ia termasuk golongan lain itu.”

3) selalu berjiwa aktif dan dinamis mencari tempat/bidang perjuangan lain, kalau seandainya mengalami kegagalan di suatu tempat/bidang perjuangan, tidak kemudian menjadi lesu dan berputus asa.

4) berjiwa dan bersikap ‘hijrah’ dalam arti tidak mengadakan kerjasama dengan pihak yang jelas ingin merugikan perjuangan Islam (noncooperation).

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?.” Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah).” Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?.” Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisa:97)

3. Tawasshuth

a. Tawasshuth atau synthetisme diartikan: jalan pertengahan antara dua ujung ekstrimisme. Termasuk dalam pengertian ini:

1) Tawazun (keseimbangan, hukum berpasangan, harmonisasi)

2) I’tidaal (tegak lurus, lepas dari penyimpangan ke kanan dan ke kiri)

3) Iqtishad (menurut keperluan, tidak berlebih-lebihan)

b. Islam adalah agama kesatuan, dengan arti:

1) Umat manusia adalah satu kesatuan, berbeda untuk bekerja sama, berpisah untuk berkumpul. Islam berusaha mempersatukan seluruh umat manusia yang berbeda dan berpisah, supaya berkesatuan sebagai hamba Tuhan: bertauhid dan beribadah kepada Allah Yang Maha Tunggal.

2) Alam semesta adalah satu kesatuan, masing-masing bukan musuh/lawan bagi yang lain. Manusia tidaklah harus memusuhi/melawan dan menundukkan alam, tetapi berkawan dengan alam untuk dapat dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemanfaatan manusia di dalam mencapai tujuan terakhir, yaitu mardlatillah.

3) Islam secara berbarengan memperhatikan:

a) Faktor-faktor dan kepentingan-kepentingan rohaniah dan jasmaniah.

b) Faktor-faktor dan kepentingan-kepentingan spiritual dan materiil.

c) Faktor-faktor dan kepentingan-kepentingan masyarakat dan perorangan.

d) Faktor-faktor dan kepentingan-kepentingan generasi dulu, generasi kini, dan generasi yang akan datang, di dalam satu rangkaian kesatuan untuk melaksanakan satu tugas jihad fisabilillah. Dengan perkataan lain: Perjuangan menegakkan kalimat Allah di atas kalimat manusia adalah satu revolusi yang harus digarap oleh seluruh generasi.

c. Bagi Nahdlatul Ulama yang berhaluan madzhab Ahlussunnah Wal Jamaah, prinsip tawasshuth ini bukan saja dalam bidang filosofis, tetapi meliputi semua bidang, antara lain:

1) Bidang aqidah

a) Berpegang teguh pada dalil naqli (nash Al-Quran dan Al-Hadits) dan dalil aqli (rasio dan logika) yang tidak bertentangan dengan dalil naqli.

b) Menghormati secara wajar semua sahabat-sahabat, terutama khulafaurrasyidin tanpa membenci kepada seseorang di antara mereka. Kalau ada perbedaan pendapat di antara mereka, maka adalah hasil ijtihad masing-masing.

c) Berpendirian bahwa Allah mempunyai sifat-sifat yang membuktikan kemahasempurnaan-Nya tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk.

d) Berpendirian bahwa “masyi’ah” (kehendak yang menentukan) itu dari Tuhan, sedangkan “kasab” (ikhtiar dan usaha) dari manusia. Dengan perkataan lain: manusia mempunyai rencana, namun Tuhanlah yang menentukan berhasil tidaknya rencana itu.

e) Menghadapi sesuatu peristiwa secara wajar, tidak panik, jengkel, kemudian terjerumus menyalahkan semua pihak, apalagi mengkafirkannya, dan dengan demikian menolak ekstrimisme yang ada pada:

(1) Mu’tazilah, yang terlalu rasionalistis sehingga memaksa-maksa dalil naqli untuk disesuaikan dengan apa yang dapat difahami oleh akal mereka (dalil aqli).

(2) Khawarij, yang terlalu jengkel terhadap dua pihak yang sedang bertentangan (pihak Sayyidina Ali dan Sayyidina Muawiyah) sehingga memusuhi kedua-duanya.

(3) Syiah, yang terlalu mencintai Sayyidina Ali sehingga menyalahkan/ memusuhi semua pihak yang tidak mau memuja Sayyidina Ali menurut cara mereka.

(4) Musyabbihah, yang terlalu letterlijk memahami dalil-dalil yang menerangkan sifat-sifat Allah sehingga mereka “menyerupakan” Allah dengan makhluk dengan adanya sifat-sifat yang sama.

(5) Mu’aththilah yang terlalu khawatir terjerumus kepada “menyerupakan” Allah dengan makhluk sehingga mereka berpendapat bahwa Allah itu tidak memiliki sifat apa-apa.

(6) Jabariyah, yang terlalu bersandar kepada takdir sehingga mereka berpendapat bahwa makhluk tidak mempunyai rasa tanggung jawab karena tidak memiliki kemampuan untuk berkehendak berbuat apa-apa.

(7) Qadariah yang berlebih-lebihan menilai kehendak makhluk sehingga mereka berpendapat bahwa segala sesuatu sepenuhnya timbul karena kehendak makhluk sendiri, tidak ada “campur tangan” Tuhan.

2) Bidang Akhlaq, berpegang teguh kepada pendirian:

a) Bahwa pada dasarnya semua manusia adalah sederajat dan seharga. Menghormat kepada yang lebih ‘besar’ dan mengasihi yang lebih ‘kecil’, masing-masing secara wajar, tidak berlebih-lebihan.

b) Bahwa keberanian dan perhitungan adalah sekaligus harus dipergunakan sebagai dua tindakan yang wajar dan seimbang.

c) Bahwa harta benda harus dipergunakan untuk keperluan kebaikan menurut keperluan, tidak lebih dan tidak kurang.

d) Bahwa kepentingan diri harus diperhatikan tanpa pengorbanan pihak lain apalagi kepentingan umum; sebaliknya kepentingan orang lain/umum harus diperhatikan (ditolong) tanpa merusak diri sendiri.

e) Dan lain-lain sifat tawasshuth, dan karena itu Islam menolak kelebihan-kelebihan dari:

1) Tahawwur, yaitu terlalu berani sehingga tidak memperhatikan akibat dari sesuatu perbuatan yang menimbulkan bahaya dan kerusakan

2) Jubn, terlalu memperhitungkan bahaya sehingga tidak berani berbuat sesuatu dengan alasan perhitungan dan kebijaksanaan.

3) Takabbur, terlalu tinggi menilai diri sendiri terlalu rendah menilai pihak lain sehingga menjadi sombong, congkak, ujub, dan lain-lain.

4) Ihanatunnafs, yaitu terlalu rendah menilai diri sendiri dan terlalu tinggi menilai pihak lain sehingga menjadi penakut, pesimis, diam, apatis.

5) Bukhl, yaitu terlalu seret mengeluarkan harta benda, sehingga tidak dapat memanfaatkan harta bendanya, hanya menjadi waker dari harta bendanya

6) Isrof, terlalu mudah mengeluarkan harta bendanya sehingga habis harta bendanya tanpa manfaat, nafsu-nafsu lainnya yang tidak terkendalikan lagi.

7) Iitsar, yaitu terlalu bersemangat mengorbankan diri dan kepentingannya sehingga sengaja merusak diri dengan maksud membela pihak lain.

8) Ananiyah, yaitu terlalu mementingkan diri sendiri sehingga mengorbankan kepentingan orang/pihak lain, mencari untung untuk diri sendiri dengan merugikan orang lain.

9) Dan lain-lain budi pekerti yang berat sebelah.

3) Bidang Syariah, berpendirian bahwa:

a) Manusia mempunyai kewajiban terhadap Allah, terhadap sesama manusia, terhadap alam semesta, dan terhadap diri sendiri. Masing-masing harus dilakukan seimbang menuju ke arah mardlatillah

b) Setiap muslim pada dasarnya harus memahami Al-Quran dan Al-Hadits sebagai sumber ajaran Islam, tetapi karena kenyataan menunjukkkan tidak semua/tidak banyak jumlahnya orang yang mampu memahami secara benar, maka Nahdlatul Ulama memilih haluan bermadzhab, mengikuti pendapat tokoh-tokoh/imam-imam yang menurut ujian sejarah jelas mempunyai pendapat-pendapat (madzhab) yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, kelengkapannya dan kemurniannya (madzhab empat) dan dengan demikian menolak:

(1) Tasahul, yaitu gemampang atau menganggap ringan masalah-masalah agama dan pelaksanaan syariatnya sehingga malas beribadah, asal berjiwa dan bersemangat agama, dan sebagainya.

(2) Ghuluw, yaitu terlalu bersemangat dalam beribadah sehingga berlebih-lebihan, melewati batas, seperti berpuasa pati geni dan tidak mau kawin (karena ingin suci) dan sebagainya atau melupakan masalah duniawiah sama sekali.

(3) Taqlid buta, terlalu mengikuti pendapat orang lain tanpa memperhitungkan kemampuan/kemurnian yang diikuti atau mengikuti semua pendapat orang yang ringan-ringan saja sehingga terjerumus ke dalam talfiq.

(4) Ijtihad serampangan, yaitu terlalu berani berijtihad dan beristinbath sendiri tanpa mengingat kemampuan diri, tanpa memenuhi syarat-syarat, sehingga menimbulkan kesimpangsiuran, kekeliruan, penyelewengan, dan sebagainya.

4) Bidang Ekonomi, berpendirian:

a) Bahwa seluruh alam semesta diciptakan oleh Allah untuk kepentingan manusia yang harus dimanfaatkan oleh manusia sebagai bekal ibadah kepada Allah.

b) Kepentingan dan hak individu/pribadi bukan hanya saja diakui, tetapi dilindungi; namun tiap pribadi/individu sebagai warga masyarakat wajib memperhatikan dan beramal untuk kesejahteraan orang lain/masyarakat, dan menolak ekstremisme yang ada pada:

(1) Liberalisme-kapitalisme, yang terlalu memberikan hak dan kebebasan kepada perorangan/individu tanpa memperhatikan/melindungi kepentingan masyarakat sehingga menimbulkan penindasan-penindasan, penghisapan manusia atas manusia.

(2) Marxisme-komunisme, yang dengan dalih mementingkan kepentingan umum, merampas hak dan kebebasan perorangan (individu) sehingga melingkar kembali menimbulkan penindasan minoritas yang berkuasa terhadap mayoritas yang sudah dirampas kekuasaannya.

4) Bidang Politik ketatanegaraan, berpendirian:

Negara adalah organisasi milik warga negaranya untuk kesejahteraan hidupnya. Kepentingan negara harus diperhatikan oleh para warganya, demikian pula negara harus memperhatikan kepentingan warganya, diajak bicara dan bekerja untuk kepentingan negaranya, karena itu Islam menolak berlebih-lebihan yang terdapat pada:

a) Demokrasi liberal dalam bentuknya yang asli, yang memberikan kebebasan mutlak dalam memperoleh kekuasaan dengan jalan kebebasan berpendapat, pendapat yang bagaimana saja tanpa garis ajaran dan batas-batas.

b) Diktator, dalam segala bentuknya yang hanya memperbolehkan satu pendapat, satu cara hidup; tanpa musyawarah, tanpa kebebasan, sehingga hanya penguasa yang berhak mengeluarkan pendapat dan harus ditaati secara mutlak

5) Bidang Kebudayaan, berpendirian:

a) Bahwa kebaikan dan kebenaran hanyalah dari Allah yang diberikan kepada manusia dahulu, manusia kini, dan manusia masa depan.

b) Yang baik dari manapun dan kapanpun datangnya, harus dipelihara dan dikembangkan. Yang buruk dari manapun dan kapanpun datangnya, harus dicegah, dan menolak pendapat yang:

(1) Terlalu mengagungkan yang lama, sama sekali menolak yang baru, sehingga beku dan tidak berkembang

(2) Terlalu mengagungkan yang baru, memutuskan hubungan dan menghapus yang lama sehingga hanyut tak terkemudi

6) Dan lain-lain bidang, selalu tawasshuth, i’tidal, tawazun menjadi prinsip dan pedoman.

d. Di mana ada ujung yang berlebih-lebihan, maka Islam menegakkan kebenaran di tengah-tengahnya, tegak-lurus, As Shirathal mustaqim.

“Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (Al-Anbiyaa:92)

“…dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (Al-Furqan:2)

“…Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang…” (Al-Mulk:3)

“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (Yasin:36)

4. Saddudz Dzariah (Kewaspadaan yang Bersifat Preventif)

a. Saddudz Dzariah artinya menutup jalan ke arah bahaya. Semua hal atau perbuatan yang terang menimbulkan bahaya atau menimbulkan sesuatu yang terlarang, menurut Islam dihukumi terlarang, meskipun perbuatan/hal itu sendiri aan sich (lidzatihi) semula tidak terlarang. Jalan yang terang menuju bahaya harus ditutup.

b. Prinsip Saddudz Dzariah atau tindakan preventif ini digunakan untuk menilai perbuatan itu sendiri, apakah berakibat baik atau buruk, tanpa melihat niat yang melakukannya:

1) Perbuatan yang terang berakibat buruk dilarang, walaupun dilakukan dengan niat baik. Tentang pahala niatnya baiknya adalah urusan Allah, tetapi perbuatan itu sendiri dilarang.

2) Perbuatan yang berakibat baik tidak dilarang, walaupun dilakukan dengan niat buruk. Tentang dosa dari niat buruknya adalah urusan Allah, tetapi perbuatan itu sendiri tidak dilarang.

Dengan perkataan lain, prinsip Saddudz Dzariah memisahkan penilaian antara niat dan perbuatan. Prinsip ini akan mempengaruhi prinsip al umuru bimaqashidiha (segala sesuatu diukur dengan niatnya) nanti pada bagian dalil hukum. Tegasnya niat baik di dalam melakukan perbuatan terlarang atau terang menimbulkan bahaya tidak mengubah hukum larangan terhadap perbuatan itu. Contoh:

1) Seorang dengan ikhlas lillahi ta’ala mencaci-maki patung-patung yang dituhankan oleh penyembah-penyembah berhala yang membawa akibat golongan itu mencaci-maki Allah. Niat baiknya mungkin mendatangkan pahala, tetapi perbuatannya itu dilarang.

2) Seorang pedagang membanting harga dagangannya sedemikian rupa sehingga mempengaruhi harga pasar (turun), tetapi niatnya untuk menjatuhkan saingannya, pedagang lain. Maka perbuatan ini tidak terlarang. Adapun dosa niat buruknya terserah pada Allah.

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan…” (Al-An’am:108)

5. Amar Ma’ruf Nahi Munkar

a. Arti sekata demi sekata dari amar ma’ruf nahi munkar ialah:

1) Amar ma’ruf = menyuruh berbuat baik.

2) Nahi munkar = mencegah berbuat buruk.

b. Menurut istilah (terminologi) Islam, amar ma’ruf nahi munkar adalah usaha sekuat-kuatnya dengan cara yang sebaik-baiknya menggunakan alat yang ada untuk tercapainya tujuan:

1) Terlaksananya segala kebaikan yang diajarkan oleh Islam.

2) Tercegahnya segala keburukan yang dilarang oleh Islam.

c. Prinsip ini adalah merupakan kewajiban dan sikap hidup setiap muslim, sesuai dengan posisi, kondisi, dan situasinya masing-masing.

1) Wajib bagi setiap muslim, yaitu:

Amar ma’ruf nahi munkar terhadap hal-hal/perbuatan-perbuatan yang dapat diketahui nilai/hukumnya oleh setiap orang, menurut hukum agama yang jelas (tanpa ragu-ragu, tanpa memerlukan pertimbangan/perbandingan yang rumit). Umpamanya: mengajak sembahyang, puasa, tolong menolong, dan sebagainya; atau melarang mencuri, mencaci-maki, membunuh, memfitnah, dan sebagainya.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” (Ali Imron:110)

2) Wajib bagi golongan-golongan tertentu:

a) Amar ma’ruf nahi munkar terhadap hal-hal yang memerlukan pertimbangan-pertimbangan yang saksama dari segi hukum agama dan nilai-nilai kemasyarakatan, supaya tidak terjadi kemlesetan penilaian. Hal ini khusus menjadi tugas ahli hukum atau pemimpin masyarakat.

b) Hal-hal yang memerlukan kewenangan. Kekuasaan (authority) untuk menjamin ketertiban dan keamanan. Hal ini khusus menjadi tugas pejabat/penguasa pemerintah yang kompeten, seperti menghukum pencuri, pembunuh, dan lain-lain.

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imron:104)

d. Sasaran Amar ma’ruf nahi munkar adalah perbuatan manusia dalam arti yang luas, termasuk sikap mental , ucapan, dan tingkah laku. Tentang istilah munkar, dijelaskan sebagai berikut:

1) Perbuatan munkar adalah perbuatan yang harus dicegah timbulnya, meskipun perbuatan itu sendiri tidak termasuk dosa bagi yang melakukannya, umpamanya: telanjangnya seorang gila di tempat umum, sikap/ucapan ahli tasawuf/tarekat yang karena sulit dipahami oleh orang awam sehingga dapat menyesatkan, dan sebagainya. Jadi munkar lebih luas daripada maksiat dan tidak khusus dosa-dosa besar saja.

2) Perbuatan munkar yang wajib dicegah haruslah perbuatan yang nyata dan tampak, tanpa memerlukan penyelidikan (tajasus), tanpa dicari-cari.

3) Perbuatan yang harus dicegah itu harus pula sudah jelas-jelas, tidak diperselisihkan (mukctalaf ‘alaih) menurut ijtihad. Tegasnya yang mujma’ ‘alaih, muttafaq ‘alaih, disepakati oleh imam-imam mujtahid bahwa perbuatan itu adalah munkar.

e. Pelaksanaan amar ma’ruf nahi munkar haruslah bertahap dan bertingkat, terutama dengan memperhatikan faktor-faktor: pelaksana amar ma’ruf nahi munkar dan pelaku perbuatan ma’ruf/munkar.

1) Ta’rif/ta’lim/ta’dib: pemberitahuan, peringatan, pendidikan, bimbingan dan cara-cara halus lainnya tanpa melukai hati yang bersangkutan.

Andaikata kamu kaku dan keras, maka mereka akan menjauhi kamu.

Barangsiapa mengajak kebaikan, maka ajakan itu harus dengan baik pula.

2) Nahi bittakgwif: larangan dengan menakut-nakuti kepada ancaman hukuman-hukuman. Tingkat ini terutama ditujukan kepada pelaku munkar yang sudah jelas tahu dan menyadari keburukan perbuatannya itu

3) Ta’nif: ultimatum, peringatan kasar dan sebagainya; terutama ditujukan kepada pelaku munkar yang berbahaya dan mengejek segala nasihat halus. Pada tingkat ini harus diperhatikan:

a) Hanya dilakukan setelah terpaksa dilakukan.

b) Kata-kata keras ditujukan hanya pada persoalannya saja, tidak merembet-rembet yang lain.

4) Takhjir biljad: mencegah/mengubah yang sama dengan fisik. Pada tingkat ini harus diperhatikan:

a) Rakyat umum/anggota masyarakat hanya berkewajiban dan boleh amar ma’ruf nahi munkar itu dengan usaha-usaha tanpa kekerasan fisik.

b) Penangkapan, pemenjaraan, pemukulan, atau penyitaan hanya menjadi hak penguasa pemerintahan.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” (Ali Imron:110)

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imron:104)

f. Pada scope yang lebih luas dan dengan program jangka panjang, amar ma’ruf nahi munkar dilakukan dengan:

1) Tarbiyyah watta’lim: melaksanakan, memelihara, mengembangkan, dan meningkatkan pendidikan dan pengajaran Islam bagi putera-puteri Islam yang akan mewarisi perjuangan di masa depan sehingga mereka menjadi muslim yang berilmu agama Islam, yakin akan kebenaran Islam, beramal menurut Islam.

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata…” (Yusuf:108)

“…Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar.” (Al-Baqarah:111)

2) Al-irsyad: memberikan bimbingan kepada khalayak umum ke arah ilmu dan amalan islam, dan mempengaruhi pendapat umum (public opinion) ke arah kebenaran dan kemenangan perjuangan Islam, dakwah menegakkan kalimat Allah di atas kalimat manusia

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar… (At Taubah:71)

Tiada ada sesuatu bangsa melakukan kemaksiatan padahal di antara mereka ada yang mampu melarangnya, tetapi tidak berbuat apa-apa kecuali maka umat itu dikhawatirkan menerima siksa dari Allah secara keseluruhan (Al-Hadits)

3) Al-istikhlaf: memanfaatkan legalitas, otoritas, dan fasilitas wewenang, kekuasaan, kedudukan dan jabatan untuk menegakkan kebenaran dan keadilan di bidang eksekutif, legislatif, teknis administratif, dan lain-lain.

(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan (Al-Haj:41)

g. Amar ma’ruf nahi munkar kepada penguasa/pemerintah, Nahdlatul Ulama lebih mengutamakan cara:

1) Personal approach, pendekatan pribadi, kontak person.

2) Legalitas pada lembaga legislatif, mempergunakan hak bicara, menyampaikan usul, mengoreksi dan lain sebagainyadi dalam badan-badan yang ditentukan untuk itu.

“Sebaik-baiknya jihad adalah menyampaikan kebenaran kepada penguasa yang sewenang-wenang.” (Al-Hadits).

“Barangsiapa mempunyai pendapat/nasehat untuk penguasa maka janganlah digembar-gemborkan di muka umum. Peganglah tangannya, temuilah sendirian. Kalau ia terima usul pendapat/nasehat itu, baiklah. Kalau tidak diterimanya maka pengusul sudah memenuhi kewajiban dan haknya .“(Al-Hadits)

h. Di dalam melakukan prinsip amar ma’ruf nahi munkar ini Nahdlatul Ulama mempunyai tiga arena yang harus digarap bersamaan:

1) Arena pemerintahan: ikut bergerak dan menggerakkan segala kegiatan politik/pemerintahan dalam segala aspek dan fasetnya (legislatif, eksekutif, dan lain-lainnya).

2) Arena kemasyarakatan: ikut bergerak dan menggerakkan potensi dan aktivitas masyarakat, di mana terdapat segala macam kekuatan yang positif.

3) Arena intern organisasi:

a) Memelihara dan mengembangkan potensi partai dengan segenap ormasnya yang cukup besar dan kompleks.

b) Menggerakkan potensi partai raksasa ini untuk menggarap segala programnya.

LIMA DALIL HUKUM

1. Di dalam masalah hukum agama, Nahdlatul Ulama mengambil dari sumber Al-Qur’an dan Al-Hadits. Di dalam memahami dan mengambil hukum dari Al-Qur’an dan Al-Hadits (istinbath), Nahdlatul Ulama sangat berhati-hati karena kekeliruan dalam istinbath (akibat kesembronoan dan kekurangan syarat) sangatlah berat tanggung jawabnya di hadirat Allah SWT. Yang Mahateliti dan Maha Mengawasi. Oleh karenanya, Nahdlatul Ulama memilih suatu sistem yaitu sistem mengikuti hasil ijtihad imam-imam mujtahidin mu’tabarin, yaitu yang benar-benar mengetahui seluk-beluk serta latar belakang dalil Al-Qur’an dan Al-Hadits, dilandasi dengan mental ikhlas, taqwa dan wara’ (sangat berhati-hati supaya tidak berbuat dosa).

2. Ijtihad artinya telah mengerahkan seluruh daya pikir untuk menemukan hukum sesuatu hal berdasar dalil-dalil Al-Qur’an dan Al-Hadits. Ijtihad tidaklah mengenai hal-hal yang sudah terdapat dalilnya yang bersifat qath’i (jelas, tegas, tidak memerlukan peninjauan panjang-lebar, seperti wajibnya shalat, haramnya zina, dan sebagainya). Tetapi, ijtihad adalah mengenai hal-hal yang bersifat dhanni dan badhari (memerlukan peninjauan lebih lanjut, memilih satu kemungkinan pengertian dari beberapa kemungkinan pengertian, umpamanya wajibnya niat dalam shalat, batalnya wudhu karena persentuhan kulit antara pria dan wanita, dan sebagainya).

3. Sudah barang tentu ijtihad memerlukan syarat-syarat tertentu, sebagaimana seorang yang memberikan pendapatnya di dalam suatu bidang ilmu (umpamanya kedokteran, teknik, hukum, dan sebagainya) memerlukan pula syarat-syarat tertentu.

Persyaratan ini dapat diringkas menjadi tiga kelompok persyaratan:

a. Perbendaharaan ilmu yang luas dan mendalam tentang Al-Qur’an dan Al-Hadits serta bahasa Arab.

b. Kemurnian niat, kesucian batin di dalam melakukan ijtihad, lepas dari hawa nafsu, kepentingan diri, golongan, dan sebagainya, semata-mata karena Allah untuk mendapatkan kebenaran.

c. Penguasaan metode, logika, dan ketajaman analisa yang seksama

4. Hasil-hasil ijtihad seorang mujtahid dinamakan madzhab. Bermadzhab ialah mengikuti hasil ijtihad seorang imam mujtahid. Karena ijtihad itu hanya mengenai hal-hal yang bersifat dhanni tidak qath’i, maka bermadzhab pun hanya mengenai hal-hal yang tidak bersifat qath’i. Oleh karena menurut kenyataan sejarah, di antara imam-imam mujtahidin mu’tabarin (yang dapat dipertanggungjawabkan) hanya empat imam yang hasil ijtihadnya (madzhabnya) tercatat dengan tertib dan lengkap, yaitu Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam Syafi’i, dan Imam Hambali, maka Nahdlatul Ulama menentukan pengambilan hukum dengan berhaluan salah satu madzhab yang empat itu.

5. Metode yang dipergunakan di dalam berijtihad itu haruslah dapat dipertanggungjawabkan secara agama dan secara ilmiah, dengan menggunakan kaidah-kaidah berfikir yang tertentu, sedang sumbernya Al-Qur’an dan Al-Hadits. Para Imam Mujtahidin mu’tabarin menggunakan metodenya masing-masing yang cukup dapat dipertanggungjawabkan. Kalau toh ada perbedaan di antara metode-metode mereka, maka perbedaan itu adalah dalam hal-hal yang kecil, sedang pada garis besarnya para imam mujtahidin yang empat itu, mendasarkan ijtihadnya atas:

  1. Nash Al-Qur’an.
  2. Nash Al-Hadits.
  3. Al-Ijma’ (kesepakatan/kesamaan hasil ijtihad para sahabat nabi atau para imam mu’tabarin).
  4. Al-Qiyas (analogi atau perbandingan antara sesuatu yang hukumnya sudah ada nashnya dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits sesuatu yang lain yang belum ada nashnya).

Empat dasar ini pula yang dipergunakan oleh imam-imam, tokoh-tokoh agama Islam yang di dalam bidang aqidah (tauhid) mengikuti perumusan Imam Abul Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi yang dikenal sebagai (golongan) Ahlussunnah Wal Jama’ah.

6. Kemudian di bawah ini dikemukakan kaidah-kaidah di dalam mengolah dalil-dalil dan dasar-dasar hukum berijtihad dan beristinbath oleh imam-imam mujtahid, terutama Imam Asy-Syafi’i.

Untuk mudahnya kaidah-kaidah ini disebut Lima Dalil Hukum, yaitu:

  1. Segala sesuatu dinilai menurut niatnya.
  2. Bahaya harus disingkirkan.
  3. Adat kebiasaan dikukuhkan.
  4. Sesuatu yang sudah yakin tidak boleh dihilangkan oleh sesuatu yang masih diragukan.
  5. Kesukaran (kemasyakatan) membuka kelonggaran.

7. Perumusan-perumusan singkat ini akan dijelaskan pada uraian-uraian berikut.

  1. Segala sesuatu dinilai menurut niatnya.

Sesungguhnya segala amal itu hanya dinilai menurut niat (hanya sah/sempurna dengan niat). Setiap orang hanya mendapat apa yang diniatinya. Barangsiapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Siapa berhijrah karena wanita yang akan dikawininya atau karena harta benda yang akan didapatnya, maka hijrahnya adalah menurut tujuan hijrahnya (Al-Hadits)

1) Niat itu membedakan nilai suatu perbuatan. Mandi dengan niat menghilangkan hadats berbeda nilainya dengan mandi dengan niat kebersihan semata-mata.

2) Niat menentukan sah atau tidaknya beberapa macam ibadah tertentu (ibadah wajib: sembahyang, wudlu dan sebagainya). Melakukan perbuatan-perbuatan seperti sembahyang, tetapi tidak dengan niat sembahyang maka tidak sah sebagai sembahyang.

3) Tempat niat adalah pada hati. Pengucapan niat hanyalah kesempurnaan. Sebaliknya pengucapan tanpa kesadaran batin/gerak hati, tidak mempunyai nilai apa-apa.

4) Waktu niat adalah berbarengan dengan permulaan gerak perbuatan, kecuali:

a) Dalam hal tidak mungkin/sulit dilakukan pada awal perbuatan (seperti puasa) maka dapat dilakukan sebelum memulai perbuatan (yaitu pada malam harinya).

b) Dalam hal ibadah sunnah (tidak wajib) dapat dilakukan di tengah berlangsungnya perbuatan.

5) Dalil ini bersangkut erat dengan dalil saddudz dzariah (dalil keempat dari lima dalil perjuangan), sehingga:

a) Perbuatan yang jelas mendatangkan akibat timbulnya bahaya, tetap dilarang, meskipun dilakukan dengan niat baik.

b) Perbuatan mubah yang mendatangkan manfaat, tidak dilarang meskipun dilakukan dengan niat buruk. Tentang niatnya itu sendiri, niat baik atau buruk, adalah urusan dia dengan Tuhan, bisa dinilai tersendiri

  1. Bahaya harus disingkirkan

“…dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan…” (Al-Baqarah :195)

“Tidak boleh ada kerusakan dan membalas kerusakan di dalam Islam.” (Al-Hadits)

1) Bahaya adalah sesuatu yang jelas akan menimbulkan kerusakan pada:

a) Agama

b) Diri (nyawa, badan, anggota badan)

c) Akal

d) Keturunan (nasab)

e) Harta benda

2) Segala bahaya yang jelas menimbulkan bahaya dilarang

a) Menghalang-halangi, memusuhi, dan atau menyelewengkan agama dilarang.

b) Membunuh, melukai, menganiaya seseorang dilarang.

c) Minum-minuman yang memabukkan dilarang.

d) Berzina dilarang.

e) Mencuri, merampok, tabdzir (pemborosan) dilarang.

Sebaliknya, sesuatu yang dalam keadaan biasa dilarang, dalam keadaan darurat tidak dilarang. Darurat adalah keadaan dimana kalau sesuatu yang terlarang itu tidak dikerjakan, maka akan timbul bahaya seperti yang tersebut di atas {poin 1)}.

a) Makan daging bangkai, dalam keadaan biasa adalah terlarang tetapi bagi orang yang sedang kelaparan dan tidak menemukan makanan lain, sehingga kalau dia tidak makan daging bangkai itu nyawanya terancam (akan mati), maka makan daging bangkai bagi orang itu tidak dilarang

b) Sesuatu yang terlarang menjadi tidak terlarang bagi orang yang berada dalam keadaan terpaksa atau dipaksa untuk melakukan perbuatan itu, sehingga kalau ia tidak melakukannya pasti timbul siksaan dari yang memaksa yang merupakan bahaya salah satu yang tersebut pada poin 1) di atas.

3) Bahaya yang masih berupa ancaman, kekhawatiran, atau kemungkinan yang belum jelas/ belum pasti timbul, tidak termasuk darurat/ikrah (bahaya/terpaksa) yang dimaksud poin 1).

4) Dari dalil ini timbul anak-anak dalil:

a) Darurat memperbolehkan hal-hal yang semula dilarang.

b) Menolak kerusakan didahulukan dari menarik kebaikan.

c) Bahaya tidak boleh dihilangkan dengan bahaya (lain).

d) Yang diperbolehkan karena darurat, hanya sekadar (menghilangkan) darurat itu.

e) Mengambil yang lebih ringan dari dua bahaya.

5) Faktor-faktor yang tergolong darurat yang dapat menimbulkan keringanan hukum ialah:

a) Sakit.

b) Perjalanan jauh ( + 194 km).

c) Kelupaan.

d) Kesulitan yang merata yang umumnya menimbulkan kesulitan menghindarinya.

e) Kelemahan/cacat (belum cukup umur, pikun, gila, dan sebagainya).

f) Keadaan terpaksa.

  1. Adat kebiasaan dikukuhkan.

“Dari Aisyiah R.A. berkata: Pada hari Asyura (sepuluh muharram) otrang Quraisy pada zaman jahiliyyah sama berpuasa. Nabi Muhammad pun berpuasa (pada hari itu). Setelah beliau berada di Madinah, beliau juga berpuasa (pada hari itu) dan menyuruh orang berpuasa. Kemudian setelah datang kewajiban puasa Ramadhan, beliau tinggalkan puasa Syura. Siapa mau, boleh berpuasa, siapa tidak mau boleh tidak berpuasa (hanya sunnah).” (Al-Hadits)

1) Adat kebiasaan dinilai dan diperhitungkan sebagai faktor hukum, dengan syarat:

a) Tidak bertentangan dengan nash Al-Qur’an dan Al-Hadits.

b) Berlaku terus-menerus (continue) tidak berganti-ganti (insidentil).

c) Sudah menjadi kebiasaan umum yang merata.

Contoh:

§ Ibadah haji, yang sudah menjadi kebiasaan sebelum Islam, ditetapkan sebagai ibadah haji.

§ Berpuasa pada hari Asyura yang sudah berlaku sebelum Islam tetap disunnahkan bagi kaum muslimin.

§ Minum arak yang sudah menjadi kebiasaan sebelum Islam dilarang oleh agama Islam.

§ Maksimum masa haid ditentukan 15 hari, karena 15 hari itulah yang menurut adat kebiasaan yang umum.

2) Sesuai dengan dasar di atas, maka peraturan perundangan yang baik haruslah memperhatikan kondisi masyarakat, adat istiadatnya, pergaulannya, dan kegemarannya, selama:

a) Tidak menetapkan sesuatu yang merusak.

b) Tidak menghilangkan kemaslahatan.

c) Tidak bertentangan dengan nash Al-Qur’an dan Al-Hadits. Islam datang tidaklah secara mutlak menghapuskan segala kebiasaan yang sudah berlaku, tetapi di samping membawa prinsip-prinsip tertentu, juga selalu memperhatikan kemaslahatan yang harus dipertahankan dan kerusakan yang harus disingkirkan.

  1. Sesuatu yang sudah yakin tidak boleh dihilangkan oleh yang masih diragukan

“Tinggalkanlah apa-apa yang masih meragukan dan pakailah yang tidak lagi meragukanmu. “ (Alhadits)

1) Yang masih meragukan dianggap tidak ada.

2) Yang dianggap ada ialah yang sudah tidak meragukan lagi tentang adanya.

Contoh:

§ Orang yang ragu-ragu apakah dia sudah sembahyang atau belum dihukumi belum sembahyang.

§ Orang yang ragu-ragu apakah dia sudah batal wudlunya atau belum (sebelumnya ia yakin sudah berwudhu) dihukumi belum batal.

§ Orang bersembahyang dan ia ragu-ragu apakah ia sudah melakukan rakaat ketiga atau ke empat, dihukumi melakukan rakaat ketiga (yang sudah diyakini ialah rakaat ketiga, rakaat keempat masih diragukan).

§ Si A menuduh si B berhutang kepadanya. Tuduhan ini baru dibenarkan kalau si A membuktikan bahwa si B berhutang padanya atau si B mengakuinya.

§ Seseorang beberapa waktu setelah bersembahyang ada najis pada pakaiannya yang mungkin sudah ada pada waktu dia bersembahyang dan mungkin belum, dihukumi bahwa najis itu datang sesudah ia bersembahyang. Jadi sembahyangnya sah.

  1. Kesukaran (kemasyakatan) membuka kelonggaran.

“…Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…” (Al-Baqarah:185)

1) Kesukaran (kemasyakatan) ada dua macam:

a) Yang sudah lazim (sewajarnya) terdapat pada waktu orang mengerjakan perbuatan itu, umpamanya: dinginnya wudlu, laparnya puasa, dan sebagainya. Kesukaran yang wajar ini tidak mempengaruhi keringanan hukum.

b) Yang tidak lazim (sewajarnya) terdapat pada waktu melakukan perbuatan itu, dan ada dua macam pula:

(1) Yang ringan, seperti pusing ringan karena puasa, letih karena berhaji, dan sebagainya. Ini tidak mempengaruhi keringanan hukum.

(2) Yang berat, seperti lapar yang sangat melemahkan sampai menimbulkan kerusakan diri (badan, nyawa, dan sebagainya) dan sebagainya. Inilah yang mempengaruhi keringanan hukum

Sumber Bacaan:

Diambil dari: Pedoman Berpikir Nahdlatul Ulama, karangan K.H.Achmad Siddiq, diterbitkan pada tahun 1992 oleh Forum Silaturrahmi Sarjana NU Jatim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s